Jogja Kota yang Menyenangkan bagi Rio Febrian

Jogja Kota yang Menyenangkan bagi Rio FebrianRio Febrian - Harian Jogja/Desi Suryanto
21 Mei 2018 13:35 WIB Mediani Dyah Natalia Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Belasan tahun berkiprah di dunia musik dan menetap di Ibu Kota Jakarta, Rio Febrian memutuskan hijrah ke Jogja. Setahun lalu ia mengusung keluarganya dan menetap di Kota Gudeg. Meski harus memulai segala sesuatu dari nol, pemenang Grand Champion Asia Bagus 1999 ini menilai Jogja merupakan kota yang menyenangkan untuk berkarya. Lalu apa saja yang dilakoni Rio selama di Jogja?

Ditemuidi ruang usaha anyarnya, sebuah kedai kopi bergaya industrial bernama Akhire, Rio Febrian dengan santai menerima Harian Jogja. Mengenakan kaus warna hitam dan celana bergaya army, ia bertutur mengenai kesibukan selain di dunia musik. Kurang lebih dua tahun dia wira-wiri Jakarta-Jogja demi mimpi-mimpi baru.

Semua, kata dia, berawal dari ajakan seorang sahabat lawas yang menekuni dunia perhotelan. Lewat diskusi yang panjang, akhirnya Rio dan rekan membangun boutique hotel, Borobudur Hills di dekat Candi Borobudur, Jawa Tengah. Penginapan private ini menawarkan delapan vila dengan fasilitas wah di daerah pedesaan dengan panorama pegunungan dan Candi Borobudur dari ketinggian.

“Kami memang ingin pindah dari Jakarta. Menurut saya dan istri, kalau pindah harus buat sesuatu yang kami bikin [bisnis] di luar nyanyi. Awalnya ada beberapa penawaran, di Jogja, Malang dan Bali. Lalu ada teman lama yang kebetulan mengajak bisnis di Borobudur, jadilah kami pindah ke Jogja,” kata suami dari Sabrina Kono ini, Selasa (8/5/2018).

Saat memutuskan pindah, hal pertama yang disiapkan Rio adalah sekolah anak-anak. Predikat Jogja sebagai Kota Pelajar memudahkannya dan istri menentukan sekolah yang pas. Dari 10 sekolah yang direkomendasi, tersaring lima institusi. Setelah memperhatikan kurikulum dan berbagai aspek, sebuah sekolah di daerah Demangan, Sleman akhirnya menjadi pilihan terakhir.

Soal rumah, bapak dua anak ini mengaku sejak kali pertama menginjakkan kaki di Jogja sudah jatuh cinta dengan kawasan Jalan Palagan. Sempat juga dia berujar jika mendapatkan kesempatan memiliki rumah Jogja, dia ingin tinggal di kawasan tersebut. Beberapa tahun kemudian, harapannya tercapai. Rumah kontrakan dan tanah yang dibelinya berada di kawasan impian Rio. Bahkan, kedai kopi miliknya pun berada di jalur yang sama.

Diakuinya menekuni dunia yang baru menjadi tantangan tersendiri. Apalalagi dia tak memiliki ilmu dasar di dunia perhotelan maupun bisnis kedai kopi. Satu-satunya yang Rio miliki adalah “katalog” pengalaman selama berkecimpung di dunia musik.

Referensinya selama menginap di resort, hotel maupun penginapan di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri lah membuatnya belajar tentang bangunan ideal, fasilitas hingga pelayanan yang dibutuhkan. “Passion masih sama, walau bukan musik, tetapi berhubungan dengan seni. Jogja memang kota yang menyenangkan untuk berkarya, untuk apapun,” katanya.

Resort yang dibuka sejak September 2017, diakuinya masih membutuhkan pembenahan. Karena itu, Rio dan rekan bisnisnya masih mempelajari keinginan pasar. Kendati demikian, saat ini dia telah menerima repetear guest dari Eropa. Sedangkan perbandingan tamu yang menginap 50% lokal dan 50% mancanegara.

 

Kedai Kopi

Bisnis kedai kopi yang dirintisnya saat ini sebenarnya dilahirkan sahabat lama yang juga fotografernya saat bermain band, Yosef. Semula letak kedai ini ada di Jalan Palagan sisi selatan. Ketika diajak mengembangkan usaha ini, dia hanya berujar sambil lalu.

“Saya bilang, kalau mau bikin [kedai kopi] di atas. Cari suasana baru. Ngomongnya pas lagi makan di nasi Bali di Sakanti. Saya ngucap [mengatakan], kalau ada tanah di sini, boleh lah. Eh ternyata tanah di sebelah warung ini [Sakanti] disewakan, ada 1.100 meter persegi. Enggak boleh ngucap sembarangan di sini [Jogja],” ujarnya tertawa.

 

Sampai saat ini, kedai kopinya masih dalam tahap penataan. Rencana satu sampai dua pekan ke depan, lokasi tersebut selesai digarap dan siap melayani masyarakat. Mengenai konsep, Rio berujar ingin menjadikan tempat ini bukan sekadar lokasi bisnis tetapi juga komunitas. Entah musik atau seni yang lain. Apalagi, kata dia, teman-temannya kebanyakan dari komunitas-komunitas. Dengan mewadahi hal ini, dia optimistis Akhire dapat berkembang.

Khusus di musik, pria berusia 37 tahun ini mengaku belum tahu ingin menggarap apa di Jogja. Namun dia ingin membuat semacam program sosial.

“Penginnya jangan sekadar bikin-bikin yang cari nama. Khusus musik di Jogja enggak mau bisnis, semacam CSR [corporate social responsibility], tetapi belum tahu formulanya. Sementara waktu saya belajar dulu budaya di sini sambil beradaptasi karena Jogja kota yang baru bagi saya,” katanya.

 

Jiwa Petualang

Meski berdomisili di Jogja, Rio masih menjalani rutinitas bolak-balik Jakarta-Jogja. Selain memiliki rumah di Jakarta, pekerjaan mayoritas kudu diselesaikan di Jakarta. Sedangkan anggota keluarganya, lebih banyak di Jogja karena anak-anak setiap hari harus masuk sekolah.

Kendati kerap berpisah dengan keluarga, Rio merasa tak keberatan menjalani semua ini. Justru dia merasa lega karena Jogja dirasa lebih manusiawi untuk anak-anaknya. “Jakarta itu kawasan industrial, kebutuhannya berbeda, lebih padat. Orang-orangnya punya pandangan yang berbeda. Kalau di sini, persepsinya juga berbeda, termasuk budaya dan taste, sehingga anak-anak bisa bertumbuh dengan hal-hal yang baik,” kata dia.

Ditanya apakah Jogja akan menjadi perhentian terakhir, Rio mengaku belum tahu mengetahui. Namun dia menilai perpindahan dari satu kota yang baru diperlukan. “Bikin adrenalin meningkat, otak muter, mau bikin apa lagi supaya survive.Kalau terhenti di satu titik, enggak ngapa-ngapain, rasanya kayak dosa,” katanya sambil tertawa.