Mengintip Keseruan Film Horor Psikologis Termahal

Mengintip Keseruan Film Horor Psikologis TermahalPoster film Kafir: Bersekutu dengan Setan.
08 Agustus 2018 19:35 WIB Aprianus Doni Tolok Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Sama seperti film genre lainnya, kerap kali film horor Indonesia jeblok di bioskop, penonton sedikit dan masa tayang segera usai karena tak laku. Meski begitu, produksi film horor Indonesia tak pernah surut. Seperti pantang menyerah untuk mendapatkan hati pemirsanya. Terbaru, yang sedang tayang di bioskop adalah Kafir: Bersekutu dengan Setan.

Alunan lagu Mawar Berduri ciptan Aloysius Riyanto yang dipopulerkan oleh Tetty Kadi mengawali cuplikan film Kafir: Bersekutu dengan Setan. Alunan lagu itu keluar dari organ yang dimainkan Herman yang diperankan oleh Teddy Syach.

Film dengan judul serupa pernah diproduksi 12 tahun lalu, tetapi film produksi Starvision dan Indie Picture kali ini bukanlah remake dari film Kafir pada 2002. Penulis skenario Upi dan Rafki Hidayat pun mengaskan bahwa cerita film ini orisinal.

Dikisahkan dalam film ini, keluarga kecil yang hidup damai dan harmonis tiba-tiba mengalami kejadian tak terduga. Di suatu makan malam sang bapak, Herman, tiba-tiba kesakitan dan keluar beling dari mulutnya sebelum akhirnya meninggal. Sri, istri Herman, mengalami depresi karena suaminya mati mendadak secara tidak wajar. Misteri kematian Herman terus ditelusuri kedua anaknya, Andi dan Dina guna mengungkap dalang di baliknya.

Kafir: Bersekutu dengan Setan digadang-gadang menjadi film horor Indonesia termahal. Produser Chand Parvez Servia mengklaim alur cerita yang dibalut visual luar biasa di buat di lokasi-lokasi berjauhan dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Meski tidak menyebutkan angka, dia menyebut para penonton bisa menilai mahalnya film dari kualitas yang dihasilkan.

Sang Sutradara Azhar Kinoi Lubis pun menuturkan selain lokasi yang berbeda dan berjauhan, set rumah, dan properti, besarnya biaya produksi terkait dengan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan sinematik yang dahsyat. Teknik anamorphic open gate dipilih Kinoi untuk menghasilkan gambar yang sesuai dengan ekspektasi.

Untuk audio, film ini memakai sistem audio Dolby dengan lisensi asli. Bahkan pihak Dolby mengutus petugasnya untuk memeriksa hasil mixing. Mereka memastikan standardisasinya dan memberi tanda berupa cap bila dianggap sudah memenuhi standar.

Kinoy memang mengemas film ini dalam bentuk klasik yang modern dan stylish. Bila diperhatikan dengan seksama, pengambilan gambar di dalam rumah atau ruangan selalu menempatkan kamera dalam keadaan statis. Barulah setelah adegan luar ruangan kamera bergerak mengikuti gerakan aktor.

Hal mendetail seperti pemilihan warna juga tidak luput dari lelaki yang terakhir menyutradarai film Demi Cinta pada 2017. Dia ingin nuansa hijau yang klasik tetapi mistis dapat dirasakan para penonton. Suasana itu juga semakin terbangun dengan pemilihan wardrobe para pemainnya.

Unsur klasik terlihat dari set waktu era 90-an, kemudian unsur modernnya terletak teknologi audio visual yang dgunakan selama proses produksi, dan unsur stylish diartikan sebagai gaya sinematik yang unik. Perpaduan ini yang menjadi kekuatan film Kafir 2018.

Dukungan sinematik  yang apik ini semakin mendukung pembangunan cerita di dalamnya. Upi berhasil membuat para awak media yang menghadiri press screening menerka-nerka dalang di balik misteri kematian Herman.

“Kami memang tidak ingin membuat film horor yang hanya berisi jump scare. Film ini juga menyajikan horor psikologis yang membuat suasana teror yang mencekam terus dirasakan para penontonnya. Ketakutan dan kengerian yang dirasakan para aktor harus mampu ditransfer ke penonton,”ujarnya.

Sebagai produser, Chand sangat tertarik dengan cerita yang ditawarkan Upi dan timnya. Menurutnya, Upi sangat cerdas dalam membangun suasana teror yang tidak berlebihan dan mengalir natural.

Chand juga mengapresiasi akting aktris Putri Ayudya sebagai Sri. Totalitas Putri dalam beradu peran berhasil membangun karakter Sri dengan sangat kuat tetapi tidak mendominasi karakter-karakter lainnya. Semua karakter diberikan porsi yang tepat, bahkan tukang kebun bernama Salim yang diperankan oleh Slamet Ambari.

 

Penonton Muda

Sejumlah aktor baru film horor pun menghiasi Kafir 2018. Mereka adalah Putri Ayudya, Nadya Arini dan Rangga Azof. Baik Kinoy dan Chand, mereka memang sepakat untuk menciptakan nuansa baru film horor Indonesia dengan tidak menggunakan aktor dan aktris yang sudah eksis di genre horor. Ini juga menjadi daya tarik tersendiri untuk menggaet minat penonton generasi muda. Walaupun demikian sejumlah bintang senior seperti Nova Eliza, Teddy Syach dan Djenar Maesa Ayu juga dihadirkan dalam film ini.

Proses produksi film Kafir: Bersekutu dengan Setan dapat dikatakan luar biasa karena selain aktor  dan aktrisnya yang tergolong anyar di genre horor, watu produksinya pun tergolong singkat. Kinoy mengakui hanya diberikan waktu satu bulan yakni pada April hingga Mei 2018. Namun, dengan waktu yang singkat, ternyata Kinoy tetap melakukan riset kecil mengenai tradisi dukun di Banyuwangi.

Menurutnya, riset menjadi penting dilakukan guna memperoleh sejumlah data misalnya tentang ritual hingga properti yang tepat untuk set lokasi rumah dukun. Setting waktu film yakni sekitar 1990 juga memerlukan ketelitian tersendiri. Dia tidak mau ada properti lokasi atau yang digunakan pemain yang tidak sesuai alias bocor.

Kesamaannya dengan film Kafir 2002 adalah sosok dukun yang tetap disematkan dalam alur cerita. Aktor kawakan Sujiwo Tedjo pun didapuk memerankan karakter tersebut, sama seperti pada film sebelumnya.

Film horor memang tengah digandrungi para produsen film setidaknya pada dua tahun ke belakang. Sebut saja film Pengabdi Setan, Danur, dan Jailangkung yang telah ditonton lebih dari satu juta pasang mata di bioskop. Bahkan, Pengabdi Setan berhasil menembus empat juta penonton dan menjadi salah satu capaian terbaik film horor Indonesia.

Film horor yang kembali naik daun lantas dijadikan momen sejumlah rumah produksi untuk beradu kreativitas. Mereka berlomba-lomba menciptakan alur cerita dan visual yang mumpuni guna menarik minat para pecinta film Indonesia. Namun, yang menarik adalah beberapa film memang terkesan mengadopsi film yang telah populer di masa lampau.

Meski banyak pula yang mengklaim film horor terbarunya bukan remake dari film berjudul sama pada masa lalu, tetapi terlihat ada upaya menyentuh rasa nostalgia masyarakat. Salah satunya dengan dengan pencantuman judul dan pemilihan aktor yang sama diharapkan akan menarik minat penonton.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia