TBY Tampilkan Wayang Kekinian untuk Tarik Minat Pemuda

TBY Tampilkan Wayang Kekinian untuk Tarik Minat Pemuda Pementasan eksperimentasi seni wayang dengan lakon Kasetyaning Wanodya beserta dalang muda asal DIY, Rickyansyah, Selasa (14/8/2018) malam. - Harian Jogja/Sunartono
15 Agustus 2018 22:37 WIB Sunartono Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyajikan eksperimentasi seni pedalangan berupa wayang kulit dan wayang orang, di Panggung Terbuka TBY, Selasa (14/8/2018) malam.

Pengembangan seni itu diharapkan dapat menyajikan seni pedalangan yang kekinian dan dapat diterima kalangan pemuda. Pagelaran itu menampilkan wayang kulit dengan lakon Kasetyaning Wanodya dengan dalang muda asal DIY, Rickyansyah.

Kepala UPT TBY Dinas Kebudayaan DIY Eni Lestari Rahayu menjelaskan dalam eksperimentasi seni itu pihaknya mengambil seni pedalangan. Tiga hal yang dieksperimentasikan adalah sanggit, sabet dan antawacana dengan proses penggarapan secara keseluruhan tidak semalam suntuk namun hanya dalam waktu dua jam saja.

Eksperimentasi ini berbeda dengan sebagian besar pentas wayang yang semalam suntuk. "Tetapi tidak menghilangkan esensi cerita pakemnya," terangnya, Selasa (14/8/2018).

Ia mengatakan, eksperimentasi itu untuk menyajikan seni pedalangan atau wayang dengan konsep kekinian. Bahkan pagelaran secara keseluruhan cerita semuanya dilakukan hanya dengan dua jam.

"Kita harus menyesuaikan perkembangan zaman jadi tahu kapan harus semalam suntuk, kapan harus pagelaran singkat kan harus mengikuti tren zaman," imbuhnya.

Eni mengatakan pagelaran itu merupakan program tahunan tetapi selalu berbeda tema. Khusus 2018 mengangkat eksperimentasi pada seni pedalangan. Pada tahun sebelumnya mengangkat seni karawitan, sedangkan 2019  merencanakan eksperimentasi seni tari.

Di tempat lain sebenarnya ada satu pagelaran serupa dengan waktu yang cepat, namun tidak dilakukan secara utuh. Berbeda dengan di TBY, lanjut Eni, meski singkat tetapi dipentaskan dengan utuh. Seni pedalangan dengan konsep kekinian itu diharapkan dapat menarik minat para pemuda terhadap pagelaran wayang.

"Misal dalam penggarapan sabetnya, sanggitnya, antawacana itu kekinian, sehingga teman-teman yang tidak bisa bahasa Jawa yang mlipit [krama inggil] bisa merasa cocok," katanya.

Eni memastikan proses eksperimentasi seni itu tidak dilakukan secara serampangan. Melainkan dengan digarap secara profesional oleh para ahli di bidangnya. "Jadi kami tidak sembarangan, ada narasumbernya yang secara khusus mengerjakan ini dari ahli," ucapnya.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DIY Ki Edi Suwondo menegaskan, dalang muda era saat ini harus berani membuat gebrakan baru agar keberadaan wayang bisa diterima masyarakat. Ia sepakat dalang harus spekulatif dalam hal inovasi baik lakon, sabet maupun antawacana hingga hak multitafsir penaskahan. Ia meyakini wayang tidak hanya untuk budaya, tetapi bisa berdampak pada ekonomi dan wisata.

"Jangan sampai dalang-dalang muda saat ini menjadi pengekor, hanya mengulang-ulang cerita saja, tetapi harus kreatif," katanya saat menjadi narasumber eksperimentasi seni pedalangan itu.