50 Tahun Woodstock, Bergoyang Sembari Menolak Perang

50 Tahun Woodstock, Bergoyang Sembari Menolak PerangWoodstock kembali direncanakan digelar pada tahun ini.
10 Januari 2019 11:00 WIB Kahfi Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Pada 1960-an, Perang Dingin menyelimuti dunia. Berakhirnya Perang Dunia II ternyata tidak mengakhiri penderitaan masyarakat di berbagai belahan dunia. Saling rebut pengaruh Blok Barat versus Blok Timur kian meluas dan mencemaskan.

Adu saing teknologi senjata tak terhindarkan. Puncaknya, Blok Barat yang dipimpin AS melancarkan perang ke wilayah Indochina.

Generasi  Baby Boomer terlahir di tengah kenyataan peradaban manusia yang terancam. Trauma perang masih bersarang di ingatan keluarga mereka, seketika generasi ini pun harus menghadapi momok wajib militer yang dibutuhkan negara untuk personil militer di garis depan perang.

Tak hanya itu, dunia Barat pada waktu itu menghirup udara rasisme di mana-mana. Harapan penghapusan perbudakan dan penjajahan atas manusia oleh manusia belum juga mereda dan politik segregasi malah berkecamuk.

Sebagian penonton dalam Woodstock 1969./Istimewa

Di tengah itu semua, generasi yang dikenal luas sebagai Flower Generation alias Generasi Bunga terlahir. Anak muda yang frustrasi dan memiliki trauma lingkungan terhadap penderitaan perang mulai mencari wilayah yang lebih bebas, tak sesak oleh ketakutan.

Ekspresi yang paling mudah disalurkan adalah lewat musik. Maka, muncul grup musik yang kemudian legendaris seperti The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin maupun musisi lain seperti Janis Joplin, Jimmy Hendrix, Bob Dylan, dan Joan Baez yang mempunyai karya dengan suara serupa; make love not war!

Hampir pada dekade bersamaan, kutub pemikiran dikuasai aliran eksistensialisme dengan tokoh-tokoh seperti Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Eksistensialisme sangat menonjolkan kemerdekaan individu serta pembebasan.

Bersamaan dengan itu pula, Mazhab Frankfurt tengah naik daun. Kebuntuan Marxisme yang dianggap hanya melahirkan mesin proletar seperti Uni Soviet serta kian ganasnya imperialisme dan kapitalisme, memunculkan pemikir Mazhab Frankfurt dengan nama-nama seperti Herbert Marcuse hingga Erich Fromm. Bekal teori itupun digunakan kaum intelektual dan aktivis kebudayaan sebagai gerakan New Left.

Kentalnya pemikiran berbau pembangkangan sosial dan didorong hasrat melawan ketakutan akan perang telah membidani kelahiran Generasi Bunga. Bersama karya-karya musisi idola Generasi Bunga, anak-anak muda terutama di AS, kerap melakukan protes serta mimbar bebas di jalan-jalan.

Sebagai ekspresi lain menunjukan pembangkangan terhadap norma serta aturan, anak-anak muda itu akrab dengan narkoba serta seks bebas. 

Aksi protes serta panggung kebudayaan banyak digelar di mana-mana, bentrokan dengan aparat keamanan pun tak terhindarkan, sebagaimana penyerangan terhadap beberapa kampus di New York, AS dan Paris, Prancis.

Poster Woodstock 1969./Istimewa

Puncak Ekspresi

Setelah rentetan konser gratis dan mimbar kebudayaan yang digelar di jalan-jalan, hasrat kebebasan pun menggiring anak-anak muda ini untuk menginisiasi konser yang lebih akbar.

Satu yang paling dikenang dan paling dikenal mungkin adalah Woodstock. Konser yang digelar pada 1969 itu terlaksana secara mendadak.

Empat orang promotor yaitu Michael Lang, Joel Rosenman, John Roberts, dan Artie Kornfeld membidani pelaksanaan konser dadakan ini. Mereka berupaya mendatangkan musisi ternama sekelas Jimi Hendrix, Sly & Family Stone, The Who, Grateful Dead, dan Janis Joplin.

Meski nama-nama besar lainnya seperti John Lennon, Led Zeppelin, hingga The Rolling Stones tak mengiyakan undangan para promotor tadi, tapi konser ini tetap dianggap sebagai konser musik yang turut mengubah sejarah musik dunia. Majalah Rolling Stone pun memasukkannya dalam “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll”.

Jimi Hendrix ketika tampil di Woodstock 1969./Istimewa

Konser Woodstock tercatat sebagai panggung megah ekspresi kaum muda kala itu. Musisi dari beragam genre yang tengah menggandrungi wacana kebebasan dan anti perang berhasil menyedot perhatian 400.000 penonton.

Mereka berkumpul di peternakan Max Yasgur, di Sullivan County Town of Bethel, 137 kilometer (km) barat laut New York, AS. Walaupun sempat tak mendapat izin dari pemerintah setempat, tapi akhirnya Woodstock 1969 tetap berhasil digelar.

Pelaksanaan konser pun lebih mirip dikatakan sebagai arena ekspresi kebebasan anak-anak muda. Secara kualitas musik, Woodstock boleh jadi tak seapik konser lainnya mulai dari peralatan hingga kondisi para musisi, yang sebagian mungkin tak bisa mengontrol aksi panggungnya karena mabuk berat.

Namun, konser itu sangat sukses mencerminkan soul yang kuat bagi harapan generasi muda kala itu. Tak heran, hingga bertahun-tahun kemudian Woodstock tetap diingat dan dirayakan.

Woodstock 1969 pun berupaya “dilahirkan” kembali pada tahun-tahun berikutnya, yakni pada 1979,1989, 1994, dan 1999.

Kini, konser Woodstock perdana berusia 50 tahun. Sebagaimana diberitakan Bloomberg, akhir bulan lalu, The Bethel Woods Center for the Arts akan menyelenggarakan peringatan ke-50 tahun konser Woodstock.

Rencananya, konser ini bakal dilangsungkan pada 16-18 Agustus 2019 di lokasi yang sama tempat dia dilahirkan.

Foto panggung Woodstock 1969 dari udara./Istimewa

“50 tahun lalu, orang-orang berkumpul dengan damai di tempat kami dan menginspirasi perubahan besar melalui musik,” ujar Chief Executive Bethel Woods Center Darlene Fedun, seperti dilansir Reuters.

Dia melanjutkan pihaknya tetap berkomitmen menjaga kekayaan dan sejarah Woodstock serta Bethel, dan mengedukasi serta menginspirasi generasi berikutnya untuk berkontribusi positif kepada dunia melalui musik, budaya, dan komunitas.

Meski nama-nama para musisi dan penampil lainnya belum diumumkan, tapi kabar ini saja sudah cukup menarik perhatian dunia. Kehadiran mereka semoga bisa membangkitkan soul Woodstock 1969, sebab penjajahan dan perang di berbagai belahan dunia seperti yang dikutuk Generasi Bunga lima dekade lalu masih juga terjadi.

Sumber : Bisnis Indonesia