JAFF 2014 : Menikmati Nonton Film Bersama, Mengobati Kerinduan pada Layar Tancap

JAFF 2014 : Menikmati Nonton Film Bersama, Mengobati Kerinduan pada Layar Tancap
04 Desember 2014 11:20 WIB Arief Junianto Hiburan Share :

Layar tancap menjadi acara warga desa yang kini sudah jarang ditemukan. Kerinduan akan hiburan yang murah meriah dan merakyat itu membuat program Open Air Cinema diadakan penyelenggara Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF) 2014. Berikut kisah yang dihimpun wartawan Harianjogja.com, Arief Junianto.

Tak seperti malam-malam biasanya, sekitar joglo Harjo Igengan yang terletak di pusat Dusun Jethak II, Desa Sidokarto, Kecamatan Godean, Sleman dipenuhi warga. Mulai dari ibu-ibu sampai anak-anak duduk lesehan di dalam joglo.

Pandangan mereka terpusat pada satu titik. Layar berukuran 3x4 meter yang terpasang rapi, lengkap dengan perangkat suaranya. Pada Selasa (2/12/2014), tepat pukul 19.30 WIB, layar tersebut menampilkan dua judul film. Lemantun dan Layu Sebelum Berkembang.

Berbeda dengan menonton film di bioskop, malam itu suasana akrab dan kekeluargaan terasa begitu kental. Hampir semua penonton film saling mengenal satu sama lain. Jangan dibayangkan suasana akan menjadi hening ketika film diputar.

Tak jarang, banyak penonton yang asyik berbincang ketika film sedang tayang. Tak ada yang merasa terganggu, tak ada pula yang merasa diganggu. Beberapa pedagang makanan ringan yang menjajakan dagangan di sekitar joglo menjadikan ajang nonton bareng malam itu menjadi lebih berbeda.

Di tengah tayangan film, penonton bebas untuk membeli dan memakan jajanan yang mereka beli itu. Menonton film tanpa banyak larangan.

“Kedua film itu selain menghibur, juga memberikan edukasi kepada warga, khususnya para orangtua,” ungkap Ketua Desa Wisata Sidoakur, M.Jayuri, Rabu (3/12/2014).

Dia mengakui warga Jethak II sangat antusias karena hiburan menonton film bersama nyaris tak pernah ada di Sidokarto.

“Terakhir menonton film bareng puluhan tahun yang lalu. Ketika saya masih kecil. Biasanya digelar di lapangan,” ucap Yuri, sapaan akrabnya. Bagi dia, Sidokarto yang didominasi buruh tani butuh hiburan karena lokasi desa jauh dari kota.

Agenda di Sidokarto Selasa malam lalu merupakan bagian dari agenda Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF) 2014, yakni Open Air Cinema. Kebetulan, kedua film yang diputar ketika itu adalah karya sineas Indonesia.

Dalam JAFF 2014, keduanya masuk dalam kategori film pendek. Lemantu berdurasi 21 menit sedangkan Layu Sebelum Berkembang, yang merupakan karya sineas jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada memiliki durasi 89 menit.

“Kami [panitia] ingin tradisi bioskop misbar [gerimis bubar] yang dulu pernah ada, sekarang mulai digalakkan lagi,” ungkap Direktur Program JAFF 2014, Ismael Basbeth.