Paduan Suara Tanpa Bernyanyi dan Baca Partitur

01 Januari 2015 10:40 WIB Arief Junianto Hiburan Share :

Paduan suara tanpa bernyanyi dan baca partitur ternyata ada. Setiap orang yang tergabung dalam kelompok itu pun bebas mengeluarkan suara sesuka hati.

Harianjogja.com, JOGJA-Tak lagi harus perlu bisa membaca partitur dan not balok untuk sekadar tampil sebagai kelompok paduan suara. Tak masuk akal memang,tapi itulah yang sukses dibuktikan oleh kelompok paduan suara dari Kebun Binatang Kelas.

Kelompok yang terbentuk dari hasil lokakarya yang digelar Kebun Binatang Film selama tiga hari di Jogja itu sukses membuat pengunjung Kedai Kebun Forum, Senin (29/12/2014) ternganga. Pengunjung tak menyangka penampilan paduan suara yang akan mereka saksikan itu ternyata sangat berbeda dari kelompok paduan suara pada umumnya.

Sebelas orang berdiri tegak menghadap tiga buah microphone. Vokalis Zoo, band eksperimental asal Jogja, Rully Sabhara bersiap dengan tangan mengepal sebagai aba-aba. Sebagai dirijen, musisi yang juga tergabung dalam grup Duo Senyawa bersama Wukir Suryadi itu bertugas memimpin choir yang disebutnya sebagai Paduan Suara Eksperimental.

Tak berlebihan jika ia menyebutnya sebagai eksperimental. Pasalnya, kesebelas orang yang tampil itu tak sekali pun menyanyikan sebuah lirik dengan karakter suara orkestra yang biasa dibawakan oleh kelompok choir. Mereka justru diperbolehkan mengeluarkan beragam suara dari mulut mereka tanpa harus direncanakan atau dipelajari sebelumnya.

Suara berbisik, berteriak lantang, bergumam, hingga bersendawa menjadi pertunjukan mereka. Sembari memperhatikan gerak tangan sang dirijen, mereka terus berkonsentrasi mengeluarkan beragam bebunyian dari mulutnya.

Meski terkesan spontanitas dan serampangan, mereka mampu menyelaraskan beragam bebunyian itu menjadi sebuah harmoni. Jelas, ini yang membuat peran dirijen menjadi sangat penting. Rully Sabhara menjelaskan bahwa saat lokakarya, dirinya memang sudah menyiapkan beberapa kode yang dipakainya untuk mengorganisasi bebunyian itu. Akan tetapi, uniknya sebelum pentas, ia sama sekali tak tahu bunyi apa yang akan dihasilkan oleh para peserta paduan suara.

"Karena memang bebunyian itu spontanitas dari mereka [peserta paduan suara]," tuturnya.

Dengan begitu, kunci utama paduan suara bertajuk  Raung Jagad tersebut memang sebenarnya terletak pada kode-kode tersebut. Dari kode-kode itu, ia bisa menata sekaligus menyelaraskan bebunyian-bebunyian spontan itu. Itulah sebabnya, ia sendiri tak tahu berapa komposisi yang ia tampilkan malam itu. Begitu pula dengan durasi masing-masing komposisi itu, tak begitu ia hiraukan.