PEMENTASAN TEATER : Barabas, Potret Perempuan yang Nyari Sempurna

05 Januari 2015 11:20 WIB Arief Junianto Hiburan Share :

Pementasan teater kali ini digelar di Auditorium ISI. Adapun jalan cerita berkisah tentang Barabas, potret perempuan yang nyaris sempurna

Harianjogja.com, BANTUL-'Perempuan itu seperti apa? Ya seperti kamu Barabah.....' Diiringi dentingan gitar bermelodikan lagu Sepanjang Jalan Kenangan, kalimat itu menutup pentas teater berjudul Barabah, Minggu (4/1/2015) malam. Bertempat di Auditorium Jurusan Teater Institut Seni Indonesia(ISI) Yogyakarta, Kelompok Satu Hari Tanpa Nama (Kok Sari Tanam) mementaskan naskah realis karya Motinggo Busye.

Suasana yang romantis memang menjadi penutup yang manis dalam pentas teater yang disutradarai oleh mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Salim Putra Ladiamu itu. Seperti teater realis pada umumnya, pentas teater Barabah malam itu juga disuguhkan dengan apa adanya, sehingga penonton yang hadir pun tak lagi mengalami multi tafsir terhadap cerita yang dipentaskan.

Barabah, tokoh utama dalam pentas itu dikisahkan sebagai seorang istri yang patuh, taat, dan mengabdi sepenuh hati pada suaminya, Banio. Kendati menyandang status istri ke-12, namun tokoh Barabah yang diperankan oleh Nianda Operasella Oryza itu tetap ikhlas dan tabah. Bukan berselingkuh tentu saja. Barabah menjadi istri ke-12 setelah di usianya yang ke-70 tahun, tokoh Banio yang diperankan oleh Mar-Kis Dili Swanro itu telah bercerai sebelumnya dengan 11 istrinya yang lain.

Awalnya semua baik-baik saja. Saling merayu, bercengkerama, memijit, hingga menyentuh mesra menjadi adegan yang menunjukkan betapa beda usia tak menghalangi mereka untuk menjalin harmonisnya berumahtangga. Konflik mulai muncul setelah tokoh Barabah yang memang paranoid akan kebiasaan suaminya yang kawin-cerai itu. Diawali munculnya tokoh Zaitun yang diperankan Tiara Arianggi.

Setelah adegan Barabah menyiapkan rantang berisikan makanan yang hendak diantarkannya ke kebun tempat Banio bekerja, mendadak bertamulah Zaitun. Kehadiran Zaitun itu disikap lain oleh Barabah. Terlebih ketika Zaitun mulai menyinggung rencana pernikahannya.

"Lihat itu, Bu. Ada dua cicak saling beradu di dinding. Itu pertanda lho, Bu. Itu pertanda ada yang bakal menemukan jodohnya," salah satu dialog dituturkan Zaitun yang sontak membuat Barabah kian terbakar cemburu.

Tak hanya berhenti sampai di situ. Sepeninggal Zaitun, muncul pula tokoh Adibul. Sama seperti Zaitun, Tokoh Adibul yang diperankan oleh Nanda Yamazaki itu juga tak kalah memancing konflik dalam pentas tersebut. Hanya saja, kehadiran Tokoh Adibul itu memantik api cemburu dari Banio. Konflik kian meruncing, sebelum akhirnya munculnya Zaitun kembali mulai membuka tabir siapa sebenarnya mereka berdua.

Ternyata, Zaitun sejatinya adalah putri kandung Banio dari rahim Rabiah, istri keenamnya yang telah diceraikannya lantaran main gila dengan lelaki lain. Kedatangannya ke rumah Banio itu tak lain adalah untuk meminta restu atas rencana pernikahannya dengan Adibul. Sejak itu adegan berubah menjadi dramatis dan penuh haru.

Bagi sutradara pementasan Salim Putra Ladiamu, naskah Barabah itu dipilihnya dengan 2 alasan. Pertama adalah jalinan kisah dalam naskah itu memiliki kemiripan dengan cerita keluarganya sendiri.

"Iya, kakek saya itu istrinya banyak. Jadi, keluarga besar kami justru sebenarnya banyak yang bukan berasal dari keluarga inti yang sama," kisahnya saat ditemui usai pementasan.

Kedua, kompleksitas cerita dalam Barabah. Dikatakannya, banyaknya istri dari Banio memang tak pelak bisa menimbulkan banyak konflik yang sifatnya turun temurun. Mulai dari terputusnya silaturahmi hingga kian jauhnya hubungan kekerabatan bisa memantik munculnya konflik-konflik tersebut.

"Justru di sinilah uniknya naskah ini. Satu persoalan, bisa memantik sejuta konflik," ucapnya.

Sebagai catatan, pentas Barabah itu sendiri sejatinya merupakan rangkaian dari Gelar Teater Realis 2015 sebagai salah satu materi Ujian Penyutaderaan utuk kelas Realis. Selain Barabah, setidaknya ada 4 naskah lain yang bakal dipentaskan. Masing-masing adalah Bapak, Beruang Penagih Hutang karya Anton Checkov, Rami dan Cangkir Pecah, serta Sepasang Mata Indah.

Jadwal pementasan
Selasa (6/1/2015), Auditorum Teater ISI Jogja, 19.30
'Bapak' karya R. Soelarto
Sutradara: Berti Galang

Kamis (8/1/2015), Auditorum Teater ISI Jogja, 19.30
'Beruang Penagih Hutang karya Anton Checkov saduran Landung Simatupang
Sutradara Vieoletta Estrella

Sabtu (10/1/2015), Auditorum Teater ISI Jogja, 19.30
Rami dan Cangkir Pecah karya Landung Simatupang, adaptasi dari The Clod karya Lewis Bleach
Sutradara Gandung Siyamsyah

Minggu (11/1/2015), Auditorum Teater ISI Jogja, 19.30
Sepasang Mata Indah karya Kirdjomulyo
Sutradara Daniel Raja Kesatria Nainggolan