BAND INDIE JOGJA : Death Vommit Terkenal Lewat Jejaring Sosial

BAND INDIE JOGJA : Death Vommit Terkenal Lewat Jejaring SosialDeath Vomit (JIBI/Harian Jogja - Arief Junianto)
18 Januari 2015 21:20 WIB Arief Junianto Hiburan Share :

Band Indie Jogja, Death Vommit mengaku dapat dikenal dan berkoborasi dengan musisi asing berkat media sosial.

Harianjogja.com, JOGJA—Media sosial dan komunitas menjadi ladang subur bagi grup band indie. Setidaknya, itulah yang dialami sendiri oleh grup band beraliran metal asal Jogja, Death Vommit.

Menempuh jalur underground sejak awal kelahirannya 2005 silam, memang membuat grup band yang digawangi oleh Sofyan Hadi (vokal), Oki Haribowo (gitar), Roy Agus (drum) itu tak banyak dikenal. Akan tetapi, berkat luasnya jaringan pertemanannya, Death Vommit pun kini menjelma menjadi salah satu band indie asal Indonesia yang namanya mulai diperhitungkan di kancah musik internasional. Tentu saja, dalam hal ini adalah kancah musik yang bergenre sama dengan Death Vommit.

Drummer Roy Agus menuturkan karier Death Vommit memang sangat terbantu oleh peran media sosial tersebut. Pasalnya, ia sadar grup band macam Death Vommit yang bergenre kurang populer di Indonesia, tak ada jalan selain memanfaatkan peran penting pertemanan.

Alhasil, sejak berkarir, Death Vommit sudah pernah mencicipi bagaimana rasanya tampil di panggung internasional dan ditonton oleh publik dunia. Memang, ketika 2010 lalu, mereka sempat tampil di Australia. Tiga tahun berikutnya, kembali grup beraliran deathmetal ini pun sempat tampil dalam mini tour di Malaysia.

Diakui Roy, tak ada hal istimewa yang dilakukannya bersama manajemen Death Vommit untuk bisa dikenal di dunia internasional. Satu-satunya yang dilakukannya memang hanyalah aktif di dunia maya. Menurut dia, jalur underground saat ini sudah tak lagi dilakukan dengan menggelar pertemuan 'bawah tanah' hanya untuk mempublikasikan karya.

"Semua bisa lewat internet. Ada media sosial. Jangkauannya pun bisa lebih luas. Buktinya, kami bisa
memperdengarkan karya kami hingga ke banyak negara. Dari situlah akhirnya kami berkesempatan tampil di dua negara itu," terangnya, JUmat (16/1/2015).

Terkait dengan perilisan album, ia menilai sebenarnya perilisan album indie nyaris sama dengan mayor label. Hanya saja bedanya, untuk jalur indie, pengkopian album tidak bisa sebanyak yang dilakukan oleh mayor label.

"Kalau kami [indie] paling maksimal hanya 10.000 kopi," akunya.

Sementara vokalis Sofyan Hadi menuturkan, tak hanya tampil di luar negeri, berkat jaringan luas itu, pihaknya bisa mengajak serta gitaris asal Florida, Amerika Serikat, Dennis Munoz, yang merupakan gitaris dari band cadas asal Miami, Solstice untuk mengisi take gitar di album

Forging a Legacy yang sudah launching Agustus 2014 lalu. Diakuinya, distorsi gitar Munoz tersebut cukup
dilakukan via online. Hal itu pun diakuinya merupakan berkat pertemanan yang dijalinnya dengan Munoz melalui komunitas media sosial. "Jadi, sebenarnya kami bisa menjalin pertemanan dengan siapapun kan. Yang penting, kami punya karya dulu," tegasnya.

Begitu juga dengan label, diakuinya bahwa label indie yang kini memayungi Death Vommit, Armstretch Records yang berlokasi di Bandung juga awalnya ia kenal melalui jejaring sosial tersebut.