BAND INDIE JOGJA : April, Wangi Hujan Rilis Album

BAND INDIE JOGJA : April, Wangi Hujan Rilis AlbumDuo asal Jogja, Wangi Hujan saat tampil di acara Something New 3: Dia-Lo-Gue yang digelar di Legend Cafe, Rabu (25/2/2015) malam. (JIBI/Harian Jogja - Arief Junianto)
03 Maret 2015 20:40 WIB Arief Junianto Hiburan Share :

Band indie Jogja, Wangi Hujan yang menawarkan format berbeda segera merilis album perdana.

Harianjogja.com, JOGJA-Serba unik. Frase itulah yang cocok untuk disematkan kepada duo band asal Yogyakarta, Wangi Hujan.

Erwin Zubiyan (vokal, gitar, keyboard) dan Luise Najib (vokal) kini tengah sibuk merampungkan album perdana Wangi Hujan. Untuk album yang masih dirahasiakan judulnya itu, duo ini setidaknya telah menggarap enam buah lagu.

"Bulan April mendatang akan kami rilis," kata dia, Minggu (1/3/2015).

Salah satu yang unik dalam album itu adalah 'Senja di Pelabuhan Kecil'. Pasalnya lagu ini merupakan hasil
musikalisasi dari puisi karya penyair Indonesia angkatan '45 Chairil Anwar yang berjudul sama. Dengan balutan musik akustik dan permainan gitar Erwin yang dinamis membuat puisi ini mampu tampil dalam bentuk dan atmosfer yang sama sekali berbeda.

Secara keseluruhan, Wangi Hujan memang sepertinya nyaman di jalur musik folk. Dengan lirik yang cerdas dan puitis ditambah permainan instrumen dengan chord yang rumit membuat lagu Wangi Hujan menjadi terdengar sangat berbobot.

Erwin mengakui, pemilihan musik folk berawal ketika ia dan Luise melakukan jam session di sebuah kafe. Ketika itu, keduanya sempat menjajal musik folk dengan format akustik.

"Ternyata kami klik. Kami sepakat, jalur inilah yang akhirnya kami pilih," ungkapnya.

Menurutnya, musik folk adalah salah satu tipe musik yang unik. Selain nada yang menyentuh, musik folk juga tergolong sederhana. Akan tetapi, dari kesederhanaan itu bukan lantas membuatnya tidak bisa melakukan eksplorasi lebih dalam karya-karya Wangi Hujan.

Sebaliknya, berkat kesederhanaan folk yang dipilihnya, ia dan Luise bisa berekspresi dan melakukan eksplorasi secara maksimal. Musisi Yogyakarta berkepala plontos ini justru bisa banyak melakukan improvisasi ketika tampil bersama Wangi Hujan.

"Folk itu sederhana, tapi bukan berarti lantas kita ga bisa ngapa-ngapain," ucap musisi yang kini menjadi salah satu pengajar di Sekolah Musik Indonesia (SMI) Yogyakarta itu.