Belok Kanan Barcelona Keliling Empat Benua

Belok Kanan Barcelona Keliling Empat BenuaTeaser Belok Kanan Barcelona - Youtube
26 September 2018 16:35 WIB Rayful Mudassir Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sinema berlatarbelakang luar negeri bukan hal baru di kancah perfilman Tanah Air. Berbagai negara populer dan ternama dijadikan lokasi pengambilan gambar untuk memikat penonton. Dari beragam pilihan negara, Belok Kanan Barcelona menjadi film pertama di Indonesia yang mengambil lokasi di empat benua sekaligus.

Visual tujuh negara ditampilkan dalam film ini yaitu mulai dari Barcelona, Spanyol; Hoi Anh, Vietnam; Cape Town, Afrika Selatan; Copenhagen, Denmark; Pantai Gading; Maroko sampai ke Los Angeles, Amerika Serikat. Film produksi Starvision bekerja sama dengan CJ Entertaiment ini benar-benar menguras biaya produksi tidak sedikit.

Guntur Soeharjanto yang ditunjuk sebagai sutradara dalam film ini memainkan kisah percintaan empat sahabat sejak di bangku SMA. Kisah ini menjadi rumit setelah mereka saling menyukai satu sama lain, namun dengan orang yang berbeda. Kisah cinta berbalut komedi yang dihadirkan secara natural baik dari segi dialog maupun gerak tubuh berhasil membawa emosi penonton naik turun.

Pemilihan pemain untuk memerankan para tokoh menjadi kunci dalam film ini. Kehadiran Morgan Oey yang berperan sebagai Francis dan Mikha Tambayong, tokoh Retno di film berdurasi 105 menit itu memberi nilai drama yang kuat dalam isi film. Keduanya menjalin persahabatan dengan Farah (Anggika Bolsterli) dan Yusuf Hasanuddin alis Ucup (Dave Mahendra). Dua pemeran terakhir lebih banyak bermain dalam ranah komedi.

“Garis merah yang ingin disampaikan yaitu tentang sebuah perjuangan. Setiap orang harus berjuang mendapatkan apa yang dia mau agar keinginan itu tercapai,” katanya.

Selama proses syuting, tim produksi dipaksa untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan di negara yang menjadi lokasi pengambilan gambar. Proses izin dan pemilihan beberapa pemain figuran di negara tersebut juga menjadi tantangan bagi tim.

Proses pra produksi dimulai pada Maret 2018 dengan persiapan pematangan naskah. Pengurusan izin dari berbagai negara serta lokasi yang akan digunakan juga ditangani segera. Proses ini berlangsung hingga Juni. Setelahnya, tim langsung memulai produksi dengan mendatangi satu per satu negara selama Juli sampai Agustus. Film ini menjalani masa penyelesaian akhir di pasca produksi sejak Agustus hingga awal September 2018.

Menurut Guntur, dari tujuh negara yang menjadi lokasi syuting, Barcelona adalah lokasi yang memakan waktu paling lama. Para pemain yang sebelumnya berpencar di berbagai negara, berkumpul di Barcelona menjadi lokasi utama pengambilan gambar. Namun tidak disebutkan berapa lama proses di Kota Catalan tersebut.

“Tantangan paling sulit yaitu saat di Maroko. Saat itu sedang cuaca panas sekitar 40 derajat celcius dan saat bulan puasa. Selain itu syutingnya sedang badai pasir dan yang di dalam film memang seperti itu badainya,” ujarnya.

Adaptasi Novel

Film yang dirilis di bioskop 20 September 2018 ini merupakan hasil adopsi novel best seller Travelers`s Tabel, Belok Kanan: Barcelona!. Film ini dibuat oleh sejumlah penulis yaitu Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya dan Iman. Adhitya kemudian ditunjuk sebagai penulis skenario di film ini.

Film ini dinilai memiliki kelebihan dibanding film lainnya yang mengambil latarbelakang luar negeri. Haji Backpacker misalnya. Mereka melakukan pengambilan gambar di Indonesia, Thailand, Vetnam, Tiongkok, India, Tibet, Nepal, Iran hingga Mekkah. Contoh lain seperti 99 Cahaya di langit Eropa. Film yang juga garapan Guntur ini, bermain di Austria, Perancis, Cordoba dan Turki.  “Bedanya film ini bermain di 4 benua sekaligus. Baru pertama kali ada di Indonesia,” ujarnya.

Produser Chand Parwez Servia menuturkan, film tersebut menguras biaya fantastis yang dikeluarkan untuk mencapai titik saat ini. Angka US$1 juta dihamburkan selama proses pra produksi hingga pasca produksi. Jumlah ini belum termasuk biaya promosi yang diperkirakan berada di kisaran Rp8 miliar.

Biaya fantastis ini memang terlihat wajar. Selain lokasi yang cukup jauh dari Indoesia, Starvision dan CJ Entertaiment menggunakan banyak figuran dari negara bersangkutan. Sementara figuran di Indonesia juga melibatkan beberapa kalangan komika dan youtuber.

“Dengan kehadiran film ini, semoga bisa memunculkan kepercayaan kepada para penonton. Film ini diberikan untuk terus merayakan kemajuan perfilman Indonesia,” kata Parwez.

Menurutnya dengan upaya para rumah produksi yang berlomba mencaiptakan film berkualitas, Strarvision memiliki keberanian untuk menggandeng rumah produksi asing untuk berkolaborasi, yakni CJ Entertaiment. Perusahaan di bidang perfilman asal Korea Selatan ini diperkirakan turut menyebarkan film ini di berbagai negara.

Pertemuan CJ dengan Starvision bukan kali pertama. Sebelumnya mereka sudah menjalin kerja sama dengan menggarap film Sweet 20 pada 2017. Uniknya Guntur dan Morgan Oey terlibat dalam film ini. Guntur ditunjuk sebagai sutradara, Morgan memerankan tokoh produser musik bernama Alan.

Bagi Parwez yang lebih penting dari penggarapan film ini niatan untuk memperkenalkan film Indonesia ke kancah internasional. Berkolaborasi dengan CJ Entertaiment dinilai menjadi salah satu cara memperkenalkan cerita yang berasal dari Indonesia.

Lokasi Jadi Unggulan

Pengamat Film Yan Widjaya mengapresiasi Belok Kanan Barcelona mampu memberi warna untuk perfilman Indonsia. Menurutnya pertama kalinya film Indonesia dibuat di empat benua berbeda sebagai lokasi pengambilan gambar. Belum lagi kedekatan emosional antarsatu pemain dengan pemain lainnya cukup terasa sehingga adegan yang berjalan terlihat natural.

Dia turut memuji keberkasilan Guntur telah menggarap film itu secara baik. Baginya, Guntur layak diberikan penghargaan sebagai sutradara spesialisasi luar negeri. Beberapa film garapannya masuk box office Indonesia dengan latarbelakang luar negeri seperti 99 Cahaya di Langit Eropa dan Assalamualaikum Beijing.

Guntur sejatinya mampu meramu berbagai genre film dengan membubuhkan unsur komedi. Beberapa adegan untuk membuat gelak tawa menjadi ciri khasnya dalam menggarap film tersebut.

“Kelebihan film ini adalah lokasi. Kalau dibuat di indonesia bisa tapi akan selesai begitu saja. Namun kelebihan adalah lokasi syuting di negara berbeda ini yang menjadi unggulan,” tuturnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia