Sobooh, Geliat Anak Muda Melestarikan Keroncong

Sobooh, Geliat Anak Muda Melestarikan KeroncongKeroncong Sobooh mementaskan lagu Pantang Mundur karya Titiek Puspa pada FBK Musikanan, Minggu (26/8/2018) - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
26 September 2018 17:35 WIB Lajeng Padmaratri Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Keroncong lekat dengan label musik orang tua. Namun bukan berarti musik ini sepi dari peminat berusia muda. Di Jogja ada segelintir anak muda yang giat melestarikannya dan membentuk kelompok Keroncong Sobooh.

Awalnya, Cintya Berlianisa Smaranada membutuhkan sebuah grup musik keroncong untuk mengisi acara pernikahan kakaknya. Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja jurusan Etnomusikologi itu mengumpulkan teman-temannya demi acara tersebut.

Setelah terkumpul sepuluh mahasiswa yang gemar bermain musik, khususnya musik etnis. Mereka berasal dari tiga kampus berbeda: Universitas Gadjah Mada, ISI Jogja, serta Universitas Mercubuana. Merasa klop satu sama lain, mereka sepakat untuk terus bermusik bersama dari satu panggung ke panggung lain.

Keseriusan mereka dalam berkelompok mulai ditunjukkan melalui keterlibatannya dalam sebuah acara keagamaan di Purworejo pada 2016. Cintya mengaku, semua berawal dari kedekatan. “Awalnya kami diminta mengisi [slot menyanyi] di gereja salah satu personil kami, lokasinya di Purworejo. Waktu itu dalam rangka Hari Raya Natal. Kami menampilkan hiburan berupa keroncong dengan lagu-lagu rohani,” jelas dia belum lama ini.

Sayangnya, kesibukan satu sama lain kerap menjadi halangan bagi Cintya dan kawan-kawan untuk latihan. Akhirnya, mereka menyempatkan berlatih pada malam hari. Seringkali keasyikan berlatih, kesepuluh anak muda ini kerap latihan hingga Subuh pada pagi hari. Celetukan antaranggota seputar ibadah Subuh ini akhirnya melahirkan ide nama Keroncong Sobooh. Dari logat Surabaya, subuh diucapkan menjadi ‘soboh’. Dari situlah nama grup ini tercetus.

Berkat kedekatan dengan salah satu jamaah gereja, Keroncong Sobooh akhirnya diberi kepercayaan mengisi acara youth camp gereja di Purworejo. Pada kesempatan itu, grup bentukan Cintya tersebut mengisi workshop dan pentas musik yang berkaitan dengan keberagaman dan lintas agama. Tak lupa, kesepuluh anak muda itu memasukkan irama keroncong ke dalam setiap lagu yang mereka bawakan.

Musik yang mengalami akulturasi dari budaya Portugis ini erat kaitannya dengan instrumen musik dawai dan flute.

Di Keroncong Sobooh, formasi alat musik yang digunakan lebih lengkap lagi, meliputi bass, cello, cak, cuk, gitar, violin dan flute. Kesemuanya itu bersatu padu mendukung alunan suara sang vokalis yang khas menyanyikan langgam keroncong.

Sasar Anak Muda

Sedari awal, Sobooh sadar betul bahwa keroncong merupakan aliran musik yang jarang diminati anak muda. Namun, kondisi tersebut tidak membatasi kreativitas mereka.

“Kami nggak melulu membawakan lagu keroncong semua sih, beberapa lagu dari aliran lain kami coba kemas secara keroncong,” jelas Cintya yang saat ini masih menempuh semester akhirnya di Etnomusikologi ISI.

Baginya, keroncong merupakan aliran musik yang unik. Ia dan teman-temannya bersikeras terus mengupayakan pelestarian irama keroncong melalui pentas-pentas yang mereka ikuti. Tak terkecuali melalui lagu-lagu rohani.

“Keroncong itu unik. Terlebih, jarang sekali ketika ada acara di gereja musiknya menggunakan irama keroncong,” jelas gadis berjilbab ini.

Selain di gereja, acara keagamaan umat muslim juga tak luput dari irama keroncong ala Sobooh. Saat mengisi salah satu acara pengajian pada Ramadan 2017 di kampus ISI, Keroncong Sobooh urun serta membawakan lagu religi. “Dengan irama keroncong juga tentunya,” kata Cintya.

 

Meski begitu, Keroncong Sobooh tak melulu memfokuskan diri ke dalam pentas event keagamaan. Untuk menjangkau pendengar dari masyarakat luas, Sobooh beberapa kali mengikuti festival budaya di Jogja.

Antara lain dengan mengikuti Pasar Keroncong Kotagede 2017 berkolaborasi dengan Orchestra Keroncong Gelembung Harmoni, tampil pada Festival Kesenian Yogyakarta 2017, serta Bantul Art Festival 2018.

Terakhir, Keroncong Sobooh turut meramaikan pagelaran budaya di Kampung Musikanan. Melalui acara bertajuk Festival Budaya Kampoeng Musikanan 2018, Keroncong Sobooh menampilkan enam lagu pada Minggu (26/8) lalu.

Di hadapan penonton dari beragam kalangan, mulai usia muda hingga sepuh, enam lagu berikut dibawakan: Banyu Langit, Di Wajahmu Kulihat Bulan, Pahlawan Merdeka, Mak Aku Dipleroki, Pantang Mundur, dan Pasar Gambir & Stambul Anak Jampang. Bukan lagu rohani, tapi tetap dibawakan dengan irama keroncong meski tidak semuanya tergolong lagu keroncong.

Cintya menambahkan, Keroncong Sobooh terbuka dengan segala aliran musik di pergelaran yang akan diisinya. “Sesuai konteksnya aja, misal kami mengisi di gereja ya kita pakai lagu ibadah,” jelasnya.

Sebagai usaha untuk menggaet anak muda, Keroncong Sobooh juga pernah membawakan lagu-lagu zaman now di beberapa acara. Sebut saja Zona Nyaman dari Fourtwnty dan Akad dari Payung Teduh. Tak terkecuali dengan lagu-lagu berbahasa asing.

“Soundtrack film juga ada yang dibawakan, seperti Beauty and The Beast. Untuk wedding juga pernah diminta membawakan Marry You milik Bruno Mars,” jelas Cintya. Meski sering membawakan lagu-lagu masa kini, dia tetap menekankan, “Apapun lagunya tetap diiramakan keroncong.” (ST15)