Heboh Prostitusi Artis, Nafa Urbach: Saya Dulu Harus Bekerja Keras untuk Dapatkan Peran

Heboh Prostitusi Artis, Nafa Urbach: Saya Dulu Harus Bekerja Keras untuk Dapatkan PeranNafa Urbach. - Suara.com/Ismail
08 Januari 2019 23:17 WIB Nina Atmasari Hiburan Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Dunia hiburan tanah air dibuat heboh dengan kasus penangkapan artis Vanessa Angel terkait kasus prostitusi online. Terkait hal itu, artis ibu kota asal Magelang, Nafa Urbach mengaku sangat prihatin.

Mantan istri Zack Lee tersebut mengaku kalangan artis akan ikut terdampak dari kasus tersebut. Kasus itu akan berdampak buruk bagi citra para artis yang lainnya. "Kebanyakan mereka itu adalah artis-artis baru. Meskipun itu adalah urusan pribadi masing-masing, namun secara tidak langsung itu akan memperjelek citra dari seorang publik figur," ujar Nafa, di Magelang, Selasa (8/1/2018).

Padahal, katanya, artis-artis di zamannya dahulu, harus bekerja dengan keras untuk bisa mendapatkan peran dari sebuah film atau sebuah acara di televisi. Ia mengungkapkan pengalamannya sendiri saat harus mengikuti proses casting terlebih dahulu agar bisa mendapatkan sebuah peran.

"Saya dulu harus bekerja keras untuk mendapatkan sebuah peran. Mulai harus naik bus untuk ikut casting dan lain sebagainya. Jadi memang dari nol dan harus berjuang mati-matian sih. Sedangkan artis sekarang ini masih banyak yang instan," ungkapnya.

Dari fenomena yang terjadi saat ini, Nafa berpendapat persyaratan-persyaratan untuk menjadi artis sekarang ini harus lebih dibenahi. Bukan hanya kemampuan di depan layar, seorang artis yang akan masuk layar kaca harus memiliki tingkah laku yang baik.

"Kalau nanti saya jadi Menteri Pemberdayaan Perempuan, saya bakal bikin peraturan tersebut, mulai dari karakter dan tujuannya jadi artis segala macem mau apa. Karena artis itu kan icon publik figur yang mempunyai beban berat dan akan di contoh oleh banyak masyarakat," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menilai maraknya prostitusi artis merupakan salah satu imbas dari kesenjangan sosial, terutama budaya suka pamer barang-barang mewah bermerek. Fenomena yang dilanggengkan dengan adanya media sosial ini mendorong orang untuk menghalalkan segala cara untuk memiliki barang-barang mewah tersebut, dan akhirnya menggunakan cara yang keliru.