Teater Sengkuni 2019 Bakal Dipentaskan di Taman Budaya

Teater Sengkuni 2019 Bakal Dipentaskan di Taman BudayaTeater Sengkuni 2019 - Ist
11 Januari 2019 23:50 WIB Bhekti Suryani Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Teater Perdikan Yogyakarta akan menggelar pementasan berjudul Sengkuni 2019 pada 12-13 Januari 2019 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Acara akan digelar pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Pimpinan Produksi Pementasan Teater Toto Rahardjo menyatakan naskah pementasan Sengkuni2019 ditulis oleh budayawan Emha Ainun Nadjib, dan berperan sebagai sutradara yakni Jujuk Prabowo.

Sejumlah pemain bakal terlibat dalam pementasan kali ini. Para pelakon utama yang memainkan tokoh-tokoh dalam naskah ini adalah nama-nama yang telah puluhan tahun berdedikasi seperti Joko Kamto, Novi Budianto, Eko Winardi, Margono W, Agus Istijanto, dan Kumbo Adiguno.

"Adapun penggarapan musik dikreasi oleh Azied Dewa, SP Joko, Doni, dan Widi; tata lampu oleh Wardono; stage manager oleh MZ Fadil," kata Toto Rahardjo melalui rilis, Jumat (11/1/2019).Total keseluruhan pemain dan pemusik sebanyak 34 orang dan telah melakukan latihan
sejak Oktober 2018 hingga menjelang hari H.

Untuk mengetahui gagasan dan perspektif yang melatarbelakangi lahirnya pementasan Sengkuni 2019, berikut pemaparan yang ditulis budayawan Emha Ainun Nadjib.

Sengkuni Dalam Diri
Mohon maaf kepada Masyarakat Pewayangan. Pertama-tama secara khusus saya bersama semua pelaku pementasan Sengkuni2019 ini, memohon maaf kepada Masyarakat Wayang dan Pedalangan, sehubungan dengan penuturan tentang Sengkuni dalam lakon ini, yang tidak sama dengan khazanah yang selama ini dikenal luas. Terutama tentang jumlah saudara-saudari sedarah Sengkuni, serta peristiwa mereka semua dipenjara dengan hanya diberi sebutir nasi untuk setiap orang untuk makan sehari.

Segala khazanah dari masa silam sampai kepada penghuni zaman berikutnya melalui berbagai sumber informasi. Suatu wilayah kebudayaan bisa memperoleh dan kemudian meyakini salah satu versi berdasarkan informasi yang sampai kepada mereka. Bahkan dalam Agama (Islam) misalnya terdapat banyak madzhab atau aliran atau pendapat atau buah tafsir, yang bisa berbeda-beda.

Melalui lakon ini saya memohon permafhuman bahwa tidak ada kemungkinan untuk meneliti dan mendapatkan fakta mana yang benar secara mutlak. Oleh karena itu sebaiknya fokus yang kita pilih bukanlah kebenaran fakta masa silam yang bersifat sangat relatif dan tak terjangkau, melainkan produk pembelajaran apa yang masing-masing aliran bisa menggalinya, demi kebaikan bersama di zaman ini.

Tidak Menuding Sengkuni

Pekerja Sengkuni 2019 ini bukan Lembaga Penentu Kebenaran. Bukan Laboratorium Akademik, bukan Majlis Ulama, bukan Kementerian Wayang, juga bukan Kumpulan Dalang. Pementasan ini hanya partisipasi bebrayan. Hanya kontribusi pembelajaran kemanusiaan. Hanya pengasak kawruh di barisan paling belakang.

Maka lakon ini juga tidak mencari, menemukan kemudian menuding figur Sengkuni dalam suatu konstelasi. Misalnya pergulatan politik nasional Indonesia yang sedang berlangsung. Apalagi segera ada perhelatan nasional yang tak bisa dielakkan akan terjadi pada 2019, yakni Pilpres. Pecinta salah satu Capres menantikan drama ini menyebut Sengkuni di pihak lawannya. Dan pendukung Capres lainnya mengharapkan tudingan yang sama kepada musuh atau pesaingnya.

Sama sekali tidak. Andaikan benar ada tokoh Sengkuni dalam Pilpres 2019, maka yang ditolak adalah nilai perilakunya, dengan tetap menghormati manusianya. Sebab perilaku adalah produk manusianya, sedangkan manusia adalah ciptaan Tuhannya.
Khazanah pewayangan dalam kebudayaan khususnya Jawa dan Sunda, memperoleh informasi tentang kelicikan dari figur Sengkuni. Kemudian kata Sengkuni menjadi idiom populer untuk menggelari setiap laku curang. Dan setiap pelaku kecurangan, kelicikan, kedengkian, provokasi, serta berbagai watak buram jiwa manusia, disebut Sengkuni.

Dan karena setiap manusia memiliki anasir psikologis ke-Sengkuni-an, maka secara naluriah ia ingin menyembunyikan diri dari Sengkuninya masing-masing, dengan cara mencari siapa saja orang lain yang bisa dituduh Sengkuni. Semacam counter-issue atau manipulasi atau pembalikan tema dengan menerapkan potensi dirinya ke pihak lain.

Libido Politik Nasional

Pementasan Sengkuni2019 malam ini minta maaf kepada khalayak karena tidak menyiapkan bahan untuk memuaskan libido politik kekuasan siapapun. Teater malam ini tidak meracik bahan untuk pemuasan batin siapa saja yang bernafsu mencerca pihak lain sebagai Sengkuni.
Pementasan ini justru menawarkan kepada yang menontonnya agar mencari “apa Sengkuni”pada kehidupan ber-Negara dan bermasyarakat kita. Bukan “siapa Sengkuni”.

Karena pada ukuran tertentu, tidak tertutup kemungkinan bahwa pada hakikinya kita semua atau masing-masing adalah Sengkuni. Sekadar flashback kecil: seluruh ummat manusia di muka bumi didera epidemi kesempitan, kedangkalan, dan kesumbu-pendekan di dalam pengalaman kejiwaan, intelektual, mental, serta kultural. Dimulai pada abad ke-14 di belahan bumi sebelah Barat, seabad dua abad kemudian penyakit massal itu menular ke dunia Timur. Persisnya Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Pemimpin kesempitan itu justru di wilayah utara.

Peradaban yang infrastruktur keilmuannya lahir abad ke-14, memuncak kehebatan dan kemewahannya di abad ke-20-21. Canggih di kasat mata, tapi amat sempit dan mengkhawatirkan kalau dilihat dari substansi apa dan siapa manusia ini sebenarnya. Mewah, megah, gemerlap, menakjubkan, tetapi sangat menggelisahkan bagi siapa saja yang memahami Sangkan Paraning Dumadi. Seluruh penduduk dunia merasa sedang sukses, hebat, dan lebih maju dibanding seluruh era-era sejarah sebelumnya.

Tidak ada perangkat atau sensor atau parameter atau tolok ukur atau tester untuk memahami seluruh kehebatan peradaban Ilmu Katon di seluruh dunia itu bukan sekedar merupakan ancaman bagi kehancuran manusia. Malahan sudah semakin hancur, namun ummat manusia tidak mengerti bahwa mereka hancur.

Sebab ilmu manusia selama tujuh abad belakangan ini memutus hubungannya dengan kelengkapan sangkan paran serta asal-usul dan tujuan hidupnya. Mereka bukan tidak berhitung sebab akibat, tetapi skala di mana perhitungannya itu berlaku, sangat sempit. Manusia sedang memasuki pesawat ruang angkasa, yang tidak matang hitungan trayek kesemestaannya. Begitu take off, sangat banyak manusia yang terlempar ke ruang hampa. Menunggu waktu di mana mereka dikumpulkan untuk ditagih pertanggungjawabannya.

Tiba-tiba kita menjumpai diri kita menjadi warga dari suatu Negara yang sangat sedikit di antara kita, terutama para Pemimpinnya, yang siap ber-Negara. Tiba-tiba kita menemukan diri kita sebagai pelengkap penderita, objek bahkan budak dari materialisme, kapitalisme dan industrialisme, tanpa bisa bergeser sedikit pun untuk mengelak atau apalagi mengkritisinya.

Dalam Bahasa Dajjalisme, kita semua sudah terlanjur tergantung, mencintai dan menikmati Neraka, yang kepada kita diperkenalkan sebagai Sorga. Bangsa kita merasa sedang terbang ke angkasa kesuksesan zaman hanya dengan gedung tinggi, alat-alat teknologi pragmatis, gadget dan internet. Kita sangat “beriman” bahwa masa depan anak cucu kita baik-baik saja.

Pertama kita disandera oleh Sengkuni Zaman untuk ber-Negara, merasa merdeka dan berdaulat. Kemudian Negara dibatalkan oleh Sengkuni Globalisasi di mana mayoritas ummat manusia menjadi mur-baut dari libido ultra-kapitalisme dan maniak-materialisme. Kemudian kita dipersaingkan secara ekspertasi dan skill. Kemudian kita dipertengkarkan oleh pseudo-ideologi. Kemudian masing-masing orang dan pihak menjadi ancaman bagi orang dan pihak lain. Sampai Agama, Nabi dan Tuhan pun hadir sebagai ancaman. Semua makanan membawa penyakit. Semua pemikiran membawa mudarat. Kebenaran tidak menjadi kebaikan. Dan niat baik susah menjadi kemaslahatan.

Maka hari-hari ini semua pihak menghimpun kekuatan. Dan itu berarti merupakan ancaman bagi pihak lain. Setiap golongan membangun benteng, energi, daya hidup dan peluang masa depan. Sebagai golongan-golongan, tidak sebagai “kita semua”.

Mohon maaf untuk penguraian ini, yang toh sifatnya relatif, belum tentu mengandung kebenaran yang solid.

2019 Gerbang Zaman

Itulah sebabnya lakon ini berjudul Sengkuni2019. Kenapa ada 2019 pada judul lakon teater ini? Karena bagi bangsa ini, 2019 adalah gerbang zaman, adalah peluang terakhir untuk bercermin.

Berkaca, menatap wajah sendiri yang terpantul. Siapa bisa menjamin bahwa wajah di balik cermin kita masing-masing atau bersama-sama itu ternyata beraura Sengkuni, berpotensi Sengkuni, atau bahkan memang Sengkuni itu sendiri. Bangsa ini membutuhkan keikhlasan dan ketajaman untuk jujur kepada dirinya sendiri.

M Ainun Nadjib
Kadipiro 29 Desember 2018.