OSCAR 2019: Cerita tentang Diskriminasi Kulit Hitam Mendominasi Daftar Pemenang

OSCAR 2019: Cerita tentang Diskriminasi Kulit Hitam Mendominasi Daftar PemenangSpike Lee - Reuters/Mike Segar
25 Februari 2019 13:25 WIB Budi Cahyana Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Cerita tentang diskriminasi kalum kulit hitam pada dekade 1960 dan 1970 menjadi yang terbaik di ajang Academy Awards Ke-21 di Dolby Theatre, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Minggu (23/2/2019) malam waktu setempat atau Senin (24/2/2019) pagi WIB.

BlackKkKlansman, film yang diadaptasi dari memoir John David Washington, bekas polisi di Colorado, meraih penghargaan di kategori Naskah Skenario Adaptasi Terbaik. Film yang dibuat berdasarkan buku Black Klansman ini menceritakan penyusupan seorang poolisi kulit hitam, John David Washington, ke kelompok paling rasis dalam sejarah Amerika Serikat, Kl Klux Klan.

Ini adalah Oscar pertama yang diraih sutradara Spike Lee, yang sebelumnya sudah lima kali menjadi nomine Oscar. Saat memberikan sambutan, Lee menyampaikan pesan yang sangat politis.

“Pilpres 2020 sudah dekat. Mari kita berdiri di sisi yang benar dalam sejarah. Mari kita memilih cinta untuk melawan kebencian. Mari kita berbuat sesuatu yang benar,” ujar Lee sebagaimana dikutup dari siaran langsung Academy Awards Ke-91 di jaringan televisi ABC.

Di kategoro Naskah Skenario Asli Terbaik, Green Book menjadi yang terbaik. Skenario film ini ditulis Nick Vallelonga, anak Tony Vallelonga yang menjadi figur utama di Green Book. Tony diperankan aktor kawakan Vigo Mortensen.

“Ini adalah wahana yang sangat mengagumkan untuk pembuat film,” ujar Nick.

“Mari kita saring berangkulan dan saling mencintai. Terima kasih ayah dan ibu, kita berhasil.”

Green Book menceritakan persabahatan Tony, sopir yang dibesarkan dalam lingkungan yang sangat rasis, dengan Don Shorley (Mahershala Ali), seorang penyanyi kenamaan yang tetap saja mendapat perlakuan diskriminatif karena warna kulitnya. Tony mengantar Don konser keliling di Midwest dan wilayah selatan Amerika Serikat. Pada 1970, kebanyakan penduduk wilayah tersebut masih sangat rasis dan percaya dengan segregasi.