FILM LAYAR LEBAR: Eksplorasi Tubuh Lewat Kucumbu Tubuh Indahku

FILM LAYAR LEBAR: Eksplorasi Tubuh Lewat Kucumbu Tubuh IndahkuFoto istimewa
22 April 2019 08:22 WIB Lajeng Padmaratri Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Setelah berjaya di berbagai festival film internasional, sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku, Garin Nugroho membawa karya terbarunya ini ke jaringan bioskop. Mengangkat isu sensualitas, Garin mengambil perjalanan hidup Rianto, seorang maestro tari Indonesia, untuk dikisahkan dalam filmnya.

Garin tak pernah absen menghadirkan film-film bernuansa ke-Indonesiaan yang kaya dengan latar budaya. Pada 2018 lalu, film panjang ke-19 dari Garin Nugroho ini rilis perdana di Orizzonti 75th Venice Film Festival 2018 pada akhir Agustus 2018 lalu. Kali ini, sosok penari Lengger ia pilih untuk dikisahkan.

Rianto adalah seorang penari dan koreografer kenamaan Indonesia. Masa mudanya yang pernah bergabung dengan kelompok tari Lengger membuat Garin tertarik mengambil sisi tersebut untuk dikisahkan dalam sudut pandang tokoh Juno. Tak berhenti sampai di situ, Rianto juga bergabung dalam jajaran pemain untuk memerankan tokoh Juno dewasa.

Sementara itu, Juno kecil diperankan oleh Raditya Evanda dan Juno remaja dibawakan oleh Muhammad Khan. Alur penceritaan film ini berkisah dari masa kecil Juno yang dihadapkan dalam kondisi kesendiriannya, membuatnya bergabung dengan kelompok tari Lengger di salah satu desa kecil di Jawa Tengah. Meski diperankan oleh tiga orang, namun karakter Juno dibawakan dengan konsisten, terutama terkait rasa penasarannya akan eksplorasi tubuh.

Selain membawa kisah hidup Rianto, Garin tak lupa menyisipkan berbagai cerita dari kelompok-kelompok tari di Jawa. Salah satunya ialah relasi antara warok dan gemblak yang umumnya terjadi dalam tradisi klasik penari reog. Juno remaja diceritakan menjadi gemblak seorang warok di sana. Seorang warok dikenal sebagai orang yang berbudi luhur. Untuk menambah kesaktiannya, warok akan melakukan pertapaan dan ‘puasa perempuan’ sehingga perlu memiliki seorang gemblak untuk ‘dipelihara’.

Isu sensualitas yang dibawakan dalam film yang menitikberatkan pada sisi kesenian, bukan hanya hiburan, membuat Kucumbu Tubuh Indahku agaknya tak mudah diterima banyak orang. Tim produksi film ini sudah menyadari hal itu sejak awal, karena film ini bisa dikatakan tidak konvensional. Sehingga, publikasi film ini pun menyesuaikan diri dengan menyasar festival film yang biasanya memiliki penonton yang hobi film anti-mainstream.

Hal itulah yang membuat Kucumbu Tubuh Indahku memilih pemutaran perdana di festival film. Setelah di Italia, film ini diputar di Singapore International Film Festival 2018. Di negeri sendiri, film ini pertama kali diputar dalam gelaran Jogja-NETPAC pada November 2018 lalu. Pemilihan media edar yang berfokus pada festival ini sesuai dengan tujuan awal produksinya.

“Kami sadar ini film non-mainstream ya, jadi memang pasarnya terbatas. Yang nonton juga benar-benar pecinta film,” kata Narina Saraswati selaku tim distribusi dan publikasi Kucumbu Tubuh Indahku, belum lama ini.

Segmentasi Lebih Luas

Namun, kini film ini ingin menjangkau segmentasi yang lebih luas dengan hadir di jaringan bioskop. Kepada Harian Jogja, Narina menyatakan Kucumbu Tubuh Indahku akan tayang di 38 layar di seluruh Indonesia. Berbeda dengan penayangan festival, screening di bioskop berarti ada kebijakan sensor yang menyertainya. “Ada sensor, tapi karena sangat sedikit, jadi durasinya hanya bergeser sedikit dari durasi awal,” kata dia. Awalnya, film ini memiliki panjang sekitar 106 menit.

Sensor tersebut tak bisa dipungkiri akan menyertai film yang mengandung unsur sensualitas di dalamnya ini. “Tapi kami lebih ingin ngomongin perjalanan tubuhnya karakter di situ. Karena itu ceritanya diangkat dari kisahnya Rianto,” ujar Narina. Ia pun menekankan film ini untuk penonton usia 17 tahun ke atas.

Mengangkat budaya penari di Jawa Tengah, namun set lokasi yang digunakan dalam pengambilan gambar seluruh film ini dilakukan di Jogja. Sementara ini, tim publikasi masih belum berencana membuat agenda nonton bareng pemeran maupun sutradara film ini di lokasi produksinya. Namun, meskipun tanpa target tertentu terkait jumlah penonton, Narina berharap film ini dapat dinikmati oleh para pecinta film di seluruh Indonesia.