Avengers: Endgame, Egoisme Superhero dan Kepatutan Politis

Avengers: Endgame, Egoisme Superhero dan Kepatutan PolitisPoster Evengers: Engame
08 Mei 2019 17:42 WIB Arief Junianto Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski bukan penggemar berat film pahlawan super, namun mengikuti sekuel Avengers adalah hal cukup menarik. Tak heran jika ekspektasi menjadi sangat besar di Avengers: Endgame, terlebih dengan beragamnya preview dan analisis di media sosial. 

Menonton seri ke-4 The Avengers kali ini, penonton memang seperti “dipaksa” untuk mengikuti kisah Avengers pimpinan Steve Rogers, sekaligus diminta bersiap untuk kecewa dan merasa kehilangan.

Avengers: Endgame menjadi sebuah film yang seolah sengaja diciptakan oleh Marvel Cinematic Universe (MCU) untuk menyikapi kondisi yang terjadi di internal perusahaan tersebut.

Seperti diketahui, pascaseri ke-4 The Avengers, setidaknya ada lima aktor yang kontraknya bersama MCU bakal habis. Artinya, jika MCU bakal memproduksi seri ke-5 The Avengers, maka mau tak mau kelima tokoh yang diperankan oleh mereka pun harus diganti.

Di satu sisi, hal ini patut diapresiasi. Dengan begitu, MCU seperti menempatkan kelima aktor yang telah membesarkan nama Avengers sebagai sebuah “legenda yang tak tergantikan”. Namun di sisi lain hal ini memaksa MCU pun harus memproduksi sebuah film ceritanya mengandung alasan bakal lenyapnya kelima tokoh tersebut.

Dari kelima aktor itu, kabar berakhirnya kontrak Chris Evans memang yang paling menghebohkan. Terlebih ketika akhir tahun lalu, melalui akun Twitter-nya, dia menulis akan kebenaran kabar itu. “Secara resmi rampung dengan Avengers 4. Itu adalah hari paling emosional untuk mengatakan sebagai akhir. Memainkan peran ini selama delapan tahun terakhir telah menjadi suatu kehormatan,” tulis dia.

Hal inilah yang menjadi inti cerita dari Avengers: Endgame. Pasalnya, secara keseluruhan, memang tak ada yang baru dari film berdurasi tiga jam itu.  Dalam film itu, duet sutradara Russo bersaudara terkesan hanya mengulang-ulang adegan di sekuel sebelumnya. Tak hanya alur, Avengers: Endgame juga hanya “mereproduksi” cerita yang seharusnya sudah kelar pada Avengers: Invinity War yang diputar tahun lalu.

Sifat Manusia

Uniknya, hal inilah yang lantas memunculkan kesan bahwa Russo hendak menampilkan sisi humanisme dari para superhero-nya. Betapa tidak, sebagai superhero, ternyata beberapa jagoan Russo itu belum bisa menerima kenyataan hilangnya orang-orang terdekat mereka.

Sekadar diketahui, dalam Avengers: Invinity War, Thanos memang berhasil menjentikkan tangannya yang sudah mengenakan sarung tangan dengan lima batu abadi. Akibatnya, orang-orang terdekat dari sebagian besar superhero Avengers pun raib jadi debu.

Dalam Avengers: Endgame, Captain America, dan kawan-kawan menampilkan sosok “manusia” mereka. Di sinilah unsur dramatik film ini sangat terasa. Adegan demi adegan, secara flashback ditampilkan. Romantisme tokoh-tokohnya menjadi bumbu yang membedakan sekuel Avengers kali ini terasa berbeda dengan sekuel-sekuel sebelumnya.

Inilah yang menjadikan Captain America, dkk menjadi superhero yang egois. Mereka terlampau larut oleh kesedihan dan kenangan masa lalu dengan orang-orang di sekitar mereka yang lenyap akibat jentikan jemari Thanos.

Kesedihan itulah yang lantas membuat mereka terobsesi untuk merebut kembali kelima batu itu. Tujuannya sangat jelas, yakni mengembalikan semesta seperti sedia kala. Termasuk dengan orang-orang dekat yang mereka sayangi.

Tak heran jika dalam salah satu dialognya, Thanos menjadikan kesedihan dan ketidakbisaan para superhero itu menerima kenyataan hilangnya orang-orang terdekat mereka, sebagai alasan untuk (sekali lagi) menghancurkan semesta agar nantinya tumbuh ekosistem dan peradaban baru.

Namun lagi-lagi, Russo bersaudara membuat egoisme superhero ini bisa dimaafkan. Salah satu alasannya adalah penampilan satu per satu superhero pasca-jentikan jari Thanos.

Di sinilah Russo bersaudara seperti ingin menunjukkan para Avengers masih memiliki sifat kemanusiaannya. Di balik semua kedigdayaan yang mereka miliki, betapapun kesedihan mampu “membunuh” mereka satu per satu. Inilah yang [setidaknya bagi saya] jadi hal yang bisa dimaafkan dari egoisme para superhero Avengers.

Inilah yang membuat konsep perjalanan waktu (time travel) mendominasi dalam film ini. Nyaris tiga jam, penonton hanya disuguhi oleh fantasi tentang perjalanan waktu.

Terlepas dari itu semua, ada satu bagian yang paling membuat terkesan (terlepas itu kesan negatif atau positif) yaitu kembali munculnya pesan moral sebagai bentuk respons sutradara terhadap isu yang kini tengah sensitif berkembang di Amerika Serikat.

Kepatutan Politis

Political correctness atau yang biasa disebut dengan kepatutan politis. Hal inilah yang menjangkiti sebagian besar box office Hollywood, tak terkecuali dengan MCU.

Seperti diketahui, political correctness, baik di kamus Cambridge dan Oxford, menjelaskannya sebagai bahasa, tindakan, akan kebijakan yang disengaja untuk menghindarkan diri dari penghinaan atau kerugian bagi anggota kelompok tertentu dalam masyarakat.

Sejak kemunculan film Captain Marvel, political correctness menjadi sangat kental mewarnai film yang menjadikan Brie Larson sebagai sang jagoan perempuan. Begitu pula dengan Avengers: Endgame, political correctness juga cukup terasa.

Hanya bedanya, isu yang diangkat dalam Avengers: Endgame tidak lagi melulu soal feminisme dan kesetaraan gender, melainkan isu rasialisme. Bagi Anda yang belum menonton, bersiap-siaplah menerima kejutan yang berkaitan dengan “keberpihakan” terhadap isu minoritas tersebut.

Namun secara keseluruhan, Avengers: Endgame memang menawarkan sebuah suasana film superhero yang unik dan tak biasa. Unsur drama yang kental ditambah dengan detail rekaman romantisme serta kerumitan time travel membuat film ini menjadi penting dan menarik untuk ditonton.