ALADDIN 2019: Tak Seperti Mimpi Seribu Satu Malam

ALADDIN 2019: Tak Seperti Mimpi Seribu Satu MalamAdegan dalam film Aladdin versi live action 2019 - ist/Walt Disney Pictures
26 Mei 2019 16:07 WIB Maya Herawati Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tak ada yang baru dalam film Aladdin 2019 yang dirilis Walt Disney Pictures. Dengan dasar cerita yang sama, dari babon kisah Seribu Satu Malam, seperti film animasi Aladdin yang dirilis pada 1992, versi live action justru jauh dari bayangan kehindahan yang diharapkan penggemar.

Menanti versi manusia alias live action film Aladdin, seperti bermimpi tentang Negeri Seribu Satu Malam yang mewujud dalam bentuk nyata bukan kartun semata. Semua orang, yang saat 1992 sudah menikmati film versi animasi Aladdin, pasti mampu merasakan keindahan kisah di Kota Agrabah itu. Lebay tetapi jenaka, romantis dan indah. Sulit untuk tidak membandingkannya dengan versi animasi pendahulunya.

Rasa jenaka dalam film Aladdin versi animasi datang dari mana saja dan siapa saja. Abu si monyet, permadani terbang, Rajah si macan dan yang tak kalah lucu tentunya si Jin.

Muncul dari lampu wasiat yang ditemukan Aladdin, Jin versi animasi tampil sangat lebay, namun di situlah letak kelucuannya. Contohnya ketika Aladdin (pengisi suara oleh Scott Weinger) mengutarakan niatnya untuk mendekati Putri Jasmine (pengisi suara oleh Linda Larkin), tiba-tiba Jin berubah menjadi pria berambut cokelat mengenakan baju loreng duduk di dekat meja bundar berlilin bersama abu si monyet dan permadani terbang, minum anggur, lalu berkata: “C’est l’amour [itu cinta].”

Aksi lebay yang menjadi bumbu jenaka Jin masih bisa ditemui dalam versi live action. Sayangnya ada banyak adegan yang justru garing. Jin yang diperankan oleh Will Smith, tampil lebih bijak dibandingkan versi kartun yang sangat selengekan.

Saat menonton Will Smith, dengan wajah yang bijak namun tampil selengekan justru memunculkan lelucon yang garing, dan ibarat kue, bantat. Kelucuan malah banyak diurai oleh Aladdin yang diperankan oleh Mena Massoud. Aktor Kanada keturunan Mesir ini, meski kurang gesit, cukup manis memerankan Aladdin. Massoud mampu mengejewantahkan secara visual sosok pemuda proletar penuh derita, pengutil yang dijuluki street rat atau tikus jalanan dan pengidap dendam sosial.

Kelucuan Massoud justru keluar saat dia hanya secara alami memerankan situasi kikuk sesuai naskah. Berbanding terbalik dengan Will Smith yang tampak berusaha keras untuk bertampang jenaka namun gagal. Memang tak ada yang salah dengan karakter Jin yang dibikin lebih bijak, tetapi penikmat Aladdin sejak 1992 pasti mendadak merindukan mendiang Robin Williams (pengisi suara Jin versi animasi). Bahkan jika Robin Williams masih hidup, barangkali dia lebih pas memerankan Jin versi live action. Rautnya bijak, aura jenakanya alami, seperti sosoknya dalam film Mrs Doubtfire (1994) yang tak lekang dimakan zaman itu.

Untungnya Aladdin 2019 tertolong kecantikan Naomi Scott dan suaranya yang indah. Memerankan Putri Jasmine, Naomi aktris Inggris keturunan India ini tampak anggun dan luwes. Bersama Massoud ia menghidupkan dua insan dari status sosial berbeda yang sedang jatuh cinta.

Soal status sosial ini juga menjadi highlight yang ditegaskan dalam beberapa adegan. Aladdin yang dendam disebut street rat serta Putri Jasmine yang “dijegal” dari kursi putri mahkota oleh penasihat kerajaan, Jafar.

Aladdin menggugat statusnya, ia merasa lebih berharga dari sekadar tikus jalanan dan memberanikan diri bermimpi menaksir si putri. Sedangkan Jasmine menggugat keperempuanan dengan menyebut pantas menjadi ratu di Agrabah dengan terus menyebut dirinya mampu dan layak.

Musikal Kurang Gereget

Aladdin adalah film musikal. Seharusnya begitu, sejak versi animasi 1992. Keindahan film Aladdin versi animasi dimunculkan dengan kuat karena musik, lagu-lagu dan suara penyanyinya yang indah.

Satu lagu yang menjadi ciri khas Aladdin sejak 1992 adalah A Whole New World. Dalam versi animasi lagu ini dinyanyikan Lea Salonga (Putri Jasmine) dan Brade Kane (Aladdin).  Adegan dua insan yang sedang jatuh cinta naik permadani terbang sembari menyanyi menjadikan Aladdin versi kartun memiliki ciri keindahannya. Keindahan adegan diiringi lagu ini tak berhasil keluar meski dinyanyikan sendiri oleh si aktor dan aktris, Naomi Scott dan Mena Massoud.

Penyutradaraan Guy Ritchie yang jadi masalahnya. Lagu yang dibawakan Scott dan Mossoud tak ada masalah. Bahkan dengan aransemen yang tak jauh berbeda dari versi Lea dan Kane, seharusnya adegan A Whole New World bisa lebih romantis dibanding versi animasi, sayangnya tidak.

Sebagai film yang dimaksudkan menjadi film musikal, sudah seharusnya setiap lagu mengandung adegan yang menjadi bagian dari film. Sayangnya, dalam Aladdin 2019 banyak lagu yang dinyanyikan aktor dan aktrisnya, yang terasa janggal dan tidak tersambung utuh dalam kisah film. Lagi-lagi Guy Ritchie seperti tak bisa menyusun puzzle Aladdin sebagai film musikal. Berbeda jauh dengan versi animasi. Setiap lagu adalah adegan yang penuh keindahan.

Digadang-gadang sebagai film versi live action yang bakal mampu menyaingi versi animasinya, rasanya Aladdin 2019 masih jauh dari harapan. Tak seperti kesuksesan indahnya versi live action Beauty and The Beast yang diperankan Emma Watson dan Dan Stevens.

Namun, semua yang kurang dalam Aladdin 2019 tak akan begitu terasa jika sebelumnya penonton tak menikmati versi animasi 1992. Secara keseluruhan film Aladdin versi live action yang diputar di bioskop Indonesia mulai 22 Mei 2019 ini, masih bisa menampilkan kejenakaan lebay yang menjadi ciri khas cerita, serta romantisme yang cukup manis.