Posisi Berdekatan dan Mirip, Bedakan Sakit Lambung atau Sakit Jantung

Posisi Berdekatan dan Mirip, Bedakan Sakit Lambung atau Sakit JantungAsam lambung perlu diwaspadai. - Bisnis/ nurul hidayat
17 Juli 2019 06:17 WIB Tika Anggreni Purba Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Sakit lambung dengan sakit jantung koroner seringkali disalahsangka. Barangkali, hal ini terjadi karena posisi sakit yang dialami sering kali berdekatan dan mirip.

Gejala seperti sakit perut di bagian atas, mual, muntah, begah, dan rasa terbakar di dada sulit dibedakan sebagai gejala sakit jantung atau sakit mag.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroentero-hepatologi Hendra Nurjadin dari Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah Jakarta meluruskan salah kaprah tersebut. Menurutnya, perbedaan gejala sakit mag dan sakit jantung sebetulnya bisa dibedakan dengan jelas.

Sakit mag pada umumnya ditandai dengan sakit pada ulu hati yang terasa perih dan panas. Sementara itu, pada sakit jantung koroner, ulu hati juga terasa sakit dan sesak, tetapi seolah tertindih beban berat khususnya ketika berbaring.

“Pada penderita mag juga terjadi mual, muntah, dan sakit menjalar hingga ke punggung, sehingga dicurigai sebagai sakit jantung. Namun orang sakit mag biasanya hanya mengalami sesak napas pendek, seolah ngos-ngosan,” jelasnya.

Pada orang yang mengalami penyakit jantung koroner (PJK), sakit di dada terasa berulang kali ketika beraktivitas. Rasa sakit tersebut juga dapat menjalar hingga ke lengan, pundak, leher, rahang, bahkan punggung. Kesakitan yang dirasakan juga membuat penderita berkeringat banyak karena menahan rasa sakit.

“Jadi, penderita sakit mag memang mengalami sesak karena perut begah, tetapi tidak diikuti dengan rasa sakit yang besar, sedangkan sesak napas akibat sakit jantung pasti diiringi dengan sakit di dada,” katanya.

Sering Keliru

Dokter spesialis penyakit dalam Samsuridjal Djauzi juga menekankan pentingnya membedakan sakit mag dan sakit jantung koroner.

Dia mengatakan bahwa masyarakat mungkin keliru membedakan sakit jantung koroner dan sakit mag karena lokasi sakit yang berdekatan dengan dada.

“Pertama, perlu diketahui bahwa usia sangat berpengaruh dalam menentukan jenis penyakit. Penyakit jantung koroner pada umumnya terjadi pada usia di atas 40 tahun, tetapi kalau masih umur 20-an, mungkin kita pikirkan itu sakit mag dulu, bukan sakit jantung,” ujar Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) ini.

Perempuan Lebih Kecil Risikonya

Selain usia, jenis kelamin juga dapat menjadi perhatian khusus untuk menentukan seseorang mengalami gejala sakit mag atau PJK.

Menurutnya, perempuan biasanya memiliki risiko yang lebih kecil mengalami penyakit jantung karena memiliki proteksi, yakni hormon estrogen.

“Kedua, membedakannya dapat dilihat melalui sifat dari nyerinya. Kalau penyakit jantung biasanya rasa nyerinya terasa amat sangat tetapi hilang timbul, kalau sakit mag biasanya terjadi terus menerus,” tuturnya.

Untuk lebih jelas, Samsuridjal menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, perlu ditegaskan bahwa kedua jenis penyakit ini tidak ada kaitannya sama sekali dari segi penyebab dan perjalanan penyakitnya.

Mengendalikan Mag

Sakit mag merupakan keluhan yang terjadi pada gangguan saluran pencernaan bagian atas yang ditandai dengan sakit perut, perih, mual, kembung, begah, sendawa, rasa terbakar di ulu hati dan bahkan terasa sakit hingga ke dada. Sakit mag sebetulnya adalah kumpulan dari beberapa keluhan yang terjadi pada saluran cerna atas tadi. Dalam dunia kedokteran, sakit mag dikenal dengan dispepsia.

“Setiap orang memiliki keluhan yang berbeda ketika mengalami sakit mag, ada yang dominan panasnya, ada yang dominan nyerinya, ada yang dominan kembungnya, tapi sebetulnya sama saja termasuk kategori dispepsia,” katanya.

Beberapa orang dapat mengalami fungsional dispepsia yakni sakit mag yang tidak mengalami kelainan organik di lambungnya. Hal ini sangat mungkin berkaitan dengan dispepsia yang terjadi karena pikiran seperti ketakutan, cemas, dan sebagainya.

Penyebab dispepsia tentu beragam, pada umumnya terjadi karena gangguan keseimbangan asam lambung yang dipengaruhi oleh makanan, obat-obatan, stres, dan infeksi helicobacter pylori.

Sakit mag biasanya dapat kambuh apabila faktor-faktor pencetus gangguan asam lambung tidak dijaga dengan baik.

Diet

Hendra menambahkan, penderita sakit mag dianjurkan melakukan diet yang sesuai, seperti menghindari makanan pedas, asam, cokelat, kopi, teh, dan makanan berlemak.

“Pola makan harus teratur baik dari jenis makanan, waktu makan, dan jumlah makanan yakni sedikit-sedikit saja, tetapi sering,” katanya.

Dia juga menganjurkan agar penderita sakit mag tidak sembarangan dalam mengonsumsi obat antinyeri dan jamu untuk mengobati mag. Pastikan juga untuk menghindari rokok, alkohol, dan stres.

Diagnosis sakit mag dapat ditegakkan melalui pemeriksaan klinis seperti pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi (USG). Pada umumnya kondisi sakit mag dapat membaik dengan pemberikan obat mag.

Jangan Disepelekan

Walau begitu, sakit mag tidak dapat disepelekan. Kondisi sakit mag yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu kerugian bagi kesehatan.

Adapun, tanda-tanda bahaya dari sakit mag adalah mual muntah yang tidak membaik dengan pengobatan standar seperti minum obat mag. Selain itu, Hendra mengatakan bahwa sakit mag yang disertai dengan muntah darah juga berbahaya.

“Sakit mag yang disertai dengan BAB berdarah yang berwarna hitam, lengket, dan berbau khas juga merupakan tanda bahaya yakni terjadi perdarahan di lambung,” ujarnya.

Penderita mag yang mengalami perdarahan di lambung juga biasanya mengalami anemia dan terlihat sangat pucat. Terjadi penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya dan kesulitan menelan juga dapat dicurigai sebagai tanda bahaya.

Apabila penderita sakit mag juga mengalami benjolan di bagian perut atas, perlu ditelusuri lebih lanjut, apakah ada keluarga yang mengalami kanker lambung. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai agar penyakit dapat ditangani sesegera mungkin.

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend