Falcon Picturer Ketiban Bintang Jatuh. Ada Apa?

Falcon Picturer Ketiban Bintang Jatuh. Ada Apa?Para pemain film Bumi Manusia hadir pada saat peluncuran poster. Dari kanan ke kiri Iqbaal Ramadhan, Mawar De Jongh, Frederica (produser Falcon Pictures), Angga (cucu Pramoedya Ananta Toer) dan Hanung Bramantyo di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan pada Rabu (19/6/2019). - Bisnis/Ria Theresia
19 Agustus 2019 08:17 WIB Reni Lestari Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Saat Astuti Ananta Toer, anak sastrawan Pramoedya Ananta Toer, menawarkan dua novel sekaligus untuk diangkat ke layar lebar, produser Falcon Pictures Frederica berbinar-binar. 

"Kami seperti ketiban bintang jatuh karena prosesnya sangatlah dipermudah," ujarnya.

Namun sebelum jatuh ke tangan Falcon Pictures, rencana adaptasi novel Pram ke layar lebar sebenarnya sudah dimulai jauh-jauh hari dan telah melalui proses yang berliku.

Di rumahnya yang asri di Bojong Gede, Jawa Barat, suatu hari di awal 2006, Pramoedya Ananta Toer masih mengepulkan asap rokok sambil mengenakan kaos polo lusuh dan sandal jepit.

Di meja bundar di ruang tamunya, Pram tengah menerima tamu. Happy Salma, penggemar sekaligus pembaca setia buku-bukunya, juga ada Alfred Ginting dan Soleh Solihun dari Majalah Playboy yang membawa sederet pertanyaan.

"Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan untuk menontonnya sebelum meninggal?"

"Sulit melihat saya, enggak tahu ini mata kok menganggu saya"

Tak lama setelah sesi wawancara itu, 30 April 2006, Pram pamit pada usia 81 tahun, sebuah kehilangan besar bagi dunia sastra dan pergerakan Indonesia. Sejak meninggalkan Pulau Buru sebagai tahanan politik pada 1980, Pram sebenarnya telah dipinang sejumlah sutradara dan rumah produksi yang berminat membeli lisensi pembuatan film atas bukunya.

Hasil karya Pram yang ditulis nun jauh di sudut Maluku, bahkan menarik minat sutradara Hollywood sekaliber Oliver Stone. Malangnya, Stone harus gigit jari karena sastrawan itu menginginkan tangan anak negeri yang menukangi produksinya.

Kini 13 tahun setelah kepergian Pram, Minke, Nyai Ontosoroh, Hardo, dan Ningsih akhirnya akan menemui khalayak di layar lebar. Falcon Pictures pada 2014 berhasil memboyong lisensi atas dua novel Pram, Bumi Manusia dan Perburuan. Dua film berlatar sejarah dan pergerakan ini akan dirilis bersamaan pada 15 Agustus 2019.

Setelah mendapat lisensi dari pihak keluarga, Frederica segera mendapuk penulis skenario Salman Aristo untuk menggarap Bumi Manusia. Sedangkan Ricard Oh dan Husein M Atmodjo menulis skenario Perburuan. Penulisan skenario membutuhkan waktu sekitar 4 tahun, antara lain agar materinya tidak lari jauh dari novel.

Produksi kedua film ini dilakukan hampir bersamaan. Dimulai pada awal 2018, dibuka dengan pembentukan set selama 6 bulan dilanjutkan dengan syuting selama masing-masing 2 bulan. Frederica menjelaskan, lokasi syuting berada di tiga lokasi, yakni Semarang, Yogyakarta dan Ambarawa.

Frederica mengungkapkan, Falcon merogoh kocek Rp50 miliar untuk biaya produksi dua film ini. Sebuah angka yang fantastis mengingat biasanya biaya produksi film-film Falcon berkisar antara Rp5 miliar hingga Rp10 miliar.

Dia menuturkan, angka tersebut memang layak dikucurkan untuk merayakan karya dan kiprah Pram dalam sejarah dan sastra Indonesia. Momentum bulan kemerdekaan menurutnya juga mendukung perayaan karya Pram melalui produksi dua film ini.

"Bisa dibilang Rp50 miliar untuk dua film ini. Kami sudah tidak mikir untung-rugi, kami pikir tujuannya adalah untuk merayakan bulannya Pram," jelasnya.

Sumber : bisnis.com