Kala Musik dan Sastra Berpadu Indah di TBY

Kala Musik dan Sastra Berpadu Indah di TBYPentas musikalisasi sastra di TBY, Jumat (20/9/2019) malam. - Ist
22 September 2019 06:57 WIB Abdul Hamied Razak Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bekerja sama dengan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) menggelar Musikalisasi Sastra, Jumat (20/9/2019) di Gedung Concert Hall TBY. Pergelaran sastra bertajuk Jentera ini menampilkan beragam tafsir musikal atas karya sastra.

Carik Studio Pertunjukan Sastra (SPS), Latief S. Nugraha, mengatakan kegiatan tersebut digelar rutin setahun sekali. Tahun ini, mereka menampilkan empat grup dengan empat karya yang berbeda. Mulai Api Kata Bukit Menoreh, The Wayang Bocor, Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Kelompok Kampungan. Acara ini akan dipandu oleh Eko Bebek dan Vika Aditya.

Pantauan Harian Jogja, Jumat malam, Gedung Concert Hall TBY dipenuhi pengunjung. Pergelaran Musikalisasi Sastra tersebut mampu menarik antusiasme penonton yang sebagian besar generasi milenial. "Pada pergelaran tahun ini kami mengusung konsep dan nuansa yang berbeda. Para penampil berasal dari kelompok yang telah menunjukkan prestasinya di kancah lokal, nasional, bahkan internasional," ujar Latief.

Dia menjelaskan, tema Jentera yang diusung, dimaknai sebagai satu poros siklus roda-roda kreativitas seni yang terus berputar. Poros ini memintal karya-karya para seniman dan sastrawan menjadi suatu kesatuan. "Kata demi kata beralih menjadi wahana dalam nada, irama, gerak, dan warna yang harmoni," katanya.

Nada dasarnya adalah pertemuan antara berbagai unsur yang harmoni dalam satu pintalan yang berputar seirama dalam Jentera. Di atas megah panggung pentas, karya sastra mampu menyuarakan nada bicaranya dengan lantang. Kata-kata yang semula menentang dan menantang dalam sunyi, menurut Latief, menjadi berbunyi. "Paduan antara sastra dan musik melahirkan keluasan cakrawala interpretasi yang selalu baru," kata Latief.

Dalam acara itu, Api Kata Bukit Menoreh yang merupakan satu komunitas seni rupa dari Kulonprogo, menampilkan perfoming art memadukan puisi, lukis, dan musik. Adapun The Wayang Bocor menyajikan repertoar bertema Permata di Ujung Tanduk. Sebuah kisah tentang Sakuntala yang diangkat dari puisi-puisi karya Gunawan Maryanto.

Proyek penciptaan karya pertunjukan wayang kontemporer hasil ide kreatif perupa Eko Nugroho ini sebagai perwujudan kolaborasi para seniman dari berbagai disiplin dalam menggali lebih dalam kemungkinan-kemungkinan estetika baru dan segar dalam pertunjukan wayang kontemporer sebagai media alih wahana karya sastra.

Satu hal yang baru, kali ini disajikan paduan suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY. Satu grup vokal yang mewadahi kegiatan mahasiswa di bidang tarik suara menyajikan tembang dan nyanyian, merespons puisi-puisi karya Chairil Anwar, Asrul Sani, Wisnoe Wardhana, dan tembang karya Ki Hadi Sukatno dalam lantunan paduan suara.

"Kita tentu menyadari, di dalam sejarahnya gelaran pertunjukan sastra telah ada sejak masa-masa yang silam. Sastra bukanlah bidang yang berdiri sendiri dalam kehidupan lapang, khususnya kebudayaan, dan terutama kesenian, melainkan dunia yang integral dengan jagat kesenian lainnya," kata Latief.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Diah Tutuko Suryandaru, mengapresiasi perpaduan antara karya sastra dengan musik, juga dengan disiplin seni yang lain seperti sandiwara, seni rupa, seni tari, wayang hingga gambar digital yang telah disajikan dalam pergelaran Musikalisasi Sastra di TBY itu. (*)