Diikuti 12 Negara, Biennale Jogja XV Akan Tersebar di Sejumlah Titik

Diikuti 12 Negara, Biennale Jogja XV Akan Tersebar di Sejumlah Titik Direktur Yayasan Biennale, Alia Swastika (kanan) dan Koordinator Media, Kiki Pea (kanan) saat berkunjung ke Harian Jogja, Selasa (15/10/2019). - Harian Jogja/Nina Atmasari
15 Oktober 2019 14:47 WIB Nina Atmasari Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Ada yang berbeda dari pergelaran Biennale Jogja XV yang akan digelar pada 20 Oktober sampai 30 November 2019. Jika sebelumnya agenda seni ini hanya persembahkan oleh satu negara, kali ini ada 12 negara yang berpartisipasi.

Hal itu diungkapkan Direktur Yayasan Biennale, Alia Swastika saat berkunjung ke Harian Jogja, Selasa (15/10/2019). Kunjungan bersama Koordinator Media, Kiki Pea itu diterima oleh Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono.

Peserta Biennale tersebut merupakan negara-negara di Asia Tenggara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar, Vietnam dan Filipina, ditambah Timor Leste, Hong Kong dan Taiwan. "Total ada 52 seniman yang akan berpartisipasi, karya seni mereka telah lolos seleksi oleh kurator," jelas Alia.

Selain jumlah negara, ada hal lain yang membedakan pergelaran seni dua tahunan ini, yaitu lokasi yang tersebar di sejumlah titik. Sebelumnya, Biennale digelar hanya di satu titik yakni Jogja National Museum (JNM). Kali ini, selain di JNM, pameran seni ini juga akan ditempatkan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Ketandan hingga PKKH UGM.

Pembukaan akan dilaksanakan di JNM pada 20 Oktober. Dalam pembukaan ini, panitia menargetkan ada 2.500 pengunjung yang hadir. Adapun total pengunjung selama acara diharapkan meningkat dari pergelaran sebelumnya yang sejumlah 80.000. "Tahun ini kami bakal kesulitan menghitung pengunjung karena lokasi tersebar dan tidak ada tiket masuk, semua gratis, jadi sulit menghitungnya," tambah Alia.

Adapun terkait karya seni yang dipamerkan, Kiki menyebutkan di antaranya ada candi dari 8 ton sampah plastik kresek yang dipadatkan. Ada pula Taman Marsinah untuk mengenang perjuangan buruh Marsinah. "Karya seni ini dibuat sejak 1994 namun ini pertama kali dipamerkan. Nanti saat dipamerkan pun belum selesai proses pembuatannya," jelas Kiki.

Karya lain kebanyakan berupa instalasi seni yang akan dipamerkan di dalam ruangan. Tak hanya seni rupa, ada pula instalasi suara yang dipamerkan. Sejumlah pertunjukan akan ditampilkan untuk menyambut pengunjung. Bintang tamu utama adalah Voice of Baceprot yang akan tampil saat pembukaan.