Over the Top Jadi Etalase Film Nasional

Over the Top Jadi Etalase Film NasionalSalah satu film Indonesia, Wedding Agreement - Repro
11 Januari 2020 16:07 WIB Dewi Andriani Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Festival film menjadi satu cara perfilman bisa menembus kancah internasional. Sebab, melalui film kita bisa memperkenalkan kebudayaan, identitas, dan keindahan alam suatu negara.

Namun, hadirnya platform digital layanan Over the Top, telah menjadi saluran baru yang dapat mengekspose perfilman nasional secara global. Pasalnya, platform streaming digital tersebut dapat dinikmati tidak hanya oleh penonton lokal tetapi juga penikmat film di seluruh dunia.

Sheila Timothy, Sutradara Film yang juga aktif di Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) mengatakan platform digital ini memberikan peluang besar bagi para sineas lokal untuk menunjukan eksistensi dan identitasnya. Apalagi sejumlah layanan OTT tersebut juga secara aktif mencari film-film Indonesia dan konten original produksi sineas dari berbagai negara untuk didistribusikan pada platformnya.

“OTT ini memiliki personality yang unik karena dia mencari film-film lokal untuk menarik penonton lokal sekaligus juga untuk menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Hal ini, sambungnya, justru akan mendorong para sineas untuk semakin kreatif menghasilkan film-film berkualitas yang mengangkat kultur serta identitas bangsa. Sebut saja film Wiro Sableng atau The Raid yang menghadirkan budaya silat dari Indonesia, atau Laskar Pelangi yang menunjukkan keindahan alam Pulau Belitung.

“Hadirnya OTT ini menjadi harapan baru bagi kami di industry perfilman Indonesia. Sebab, selain dapat lebih dikenal oleh dunia, kami juga mendapatkan tambahan penghasilan dari layanan streaming digital,” ujarnya.

Diakui olehnya, dalam dua tahun terakhir, perkembangan industry perfilman di platform digital video on demand cukup pesat. Bahkan pada 2019 ini, posisi pengembalian modal dari OTT berada di posisi kedua setelah bioskop, menggantikan posisi free to air TV atau televise tak berbayar.

“Memang saat ini pendapatan dari Bioskop masih yang terbesar sekitar 60 hingga 70 persen. Namun, pendapatan dari OTT ini terus berkembang, jumlah pembayaran atau lisensi film meningkat, ini yang memperbesar porsi,” tuturnya.

Hal ini juga tidak lepas dari tren masyarakat yang semakin senang menonton melalui layanan VoD karena sifatnya yang interaktif dan memfasilitasi penonton untuk memilih sendiri program video yang mereka inginkan. Didukung oleh broadband yang semakin kuat. Apalagi layanan streaming yang masuk ke Indonesia saat ini semakin banyak sebut saja HOOQ, Netflix, Iflix, dan Goplay.

Dengan semakin banyaknya kehadiran OTT, akan mendongkrak penghasilkan dan balik modal akan semakin tinggi sehingga para sineas dapat membuat film dengan dana yang lebih besar dan teknik yang lebih tinggi.

Salah satu platform digital streaming yang mendistribusikan film original Indonesia kepada penikmat film global adalah Netflix yang saat ini mengklaim telah memiliki 158 juta pengguna di 190 negara.

Sejak hadir di Indonesia pada 2016 lalu, Netflix semakin diminati oleh para penonton lokal. Tak heran bila pada 2018 Netflix mulai menyediakan film-film Tanah Air di platformnya.

Berdasarkan data dari Nakono.com, pelanggan streaming Netflix Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang pesat dari tahun ke tahun. Pada 2017, total pelanggan streaming Netflix Indonesia mencapai 95 ribu pelanggan.

 Pada 2018, pelanggan Netflix Indonesia tumbuh 2,5 kali lipat menjadi 237,3 ribu pelanggan. Pada 2019, jumlah pelanggan Netflix di Indonesia diperkirakan mencapai 482 ribu atau meningkat dua kali lipat dibandingkan 2018. Tahun depan, jumlah pelanggan Netflix diprediksi mencapai 907 ribu pelanggan atau melejit 88,35% dibandingkan dengan 2019

Kuek Yu-Chuang, Managing Director, Netflix Asia Pacific, mengakui bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam menghadirkan film-film berkualitas. Terlebih dengan semangat baru untuk mengembangkan dunia perfilman Indonesia dari pemerintah.

“Kami percaya akan banyak cerita hebat yang dihasilkan dari Indonesia. Kami berharap cerita-cerita tersebut bisa membawa tema-tema unik mengenai Indonesia dan dapat dinikmati oleh masyarakat dunia,” tuturnya.

Salah satu konten original besutan sineas Indonesia yang mendapatkan respos positif dari penonton mancanegara adalah The Night Comes for Us garapan Timo Tjahjanto sebagai film original Indonesia pertama di Netflix.

Begitu pula dengan film Laskar Pelangi dan Filosofi Kopi yang mendapatkan sambutan hangat dari penonton, tidak hanya di Indonesia tetapi juga penikmat film di seluruh dunia. Agar dapat lebih diterima penikmat streaming global, Netflix mengubah judulnya ke dalam bahasa Inggris serta men-dubbing dan menyediakan subtitle ke 28 bahasa.

Kuek berharap dengan membawa film Indonesia ke luar negeri dapat membantu industri kreatif Indonesia dapat lebih berkembang dan karya-karya anak negeri lebih dikenal dunia.

Sumber : Bisnis.com