Anak Muda Kulonprogo Digodok Jadi Sineas Mumpuni

Anak Muda Kulonprogo Digodok Jadi Sineas MumpuniPeserta Via Shorts saat mengikuti lokakarya di Sanggar Seni Puspita Binangun, Dusun Gunung Gempal, Desa Giripeni, Kapanewon Wates, Sabtu (11/1/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahmad Dewantara
19 Januari 2020 17:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Hiburan Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Sejumlah anak muda Kulonprogo mengikuti program Viu Shorts, semacam lokakarya produksi film yang digelar Viu Indonesia. Selama hampir dua pekan, mereka dilatih oleh para mentor berpengalaman untuk bisa menghasilkan film pendek berkualitas. Nantinya, hasil karya anak-anak muda itu berkesempatan tampil di pelbagai festival film nasional maupun internasional. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jalu Rahman Dewantara.

Alkisah, seorang bayi laki-laki diceburkan ke dalam sebuah kawah di Gunung Jamurdipa. Para dewa lantas melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah tersebut. Bayi bernama Jabang Tetuka itu kemudian berubah wujud menjadi lelaki dewasa lengkap dengan pusaka seperti Caping Basunanda, Kotanag Antrakusuma dan Terompah Padakacarma.

Jabang Tetuka yang merupakan anak dari pasangan Bimasena (Bima) atau Wrekodara dan Hidimbi (Arimbi) itu lantas dikenal dengan nama Gatotkaca, seorang ksatria Pringgadani yang kuat dan dapat terbang secepat kilat. Sementara tempat di mana Jabang Tetuka ditempa, adalah Kawah Candradimuka.

Sepenggal kisah dari tokoh Wiracarita Mahabharata itu agaknya bisa menggambarkan perjuangan 27 muda-mudi Kulonprogo mengikuti program Viu Shorts yang digelar selama 12 hari, terhitung sejak Selasa (7/1/2020).

Bagaikan Jabang Tetuka, para peserta, yang mayoritas adalah pelajar itu ditempa untuk menjadi Gatotkaca dalam wujud lain, yakni seorang film maker. Pada Sabtu (11/1/2020) siang, atau hari ke empat penyelenggaraan kegiatan, Harian Jogja berkesempatan menengok aktivitas para peserta.

Berlokasi di Sanggar Seni Puspita Binangun, Dusun Gunung Gempal, Desa Giripeni, Kapanewon Wates, Kulonprogo, peserta tampak serius menatap dinding bercat putih yang digunakan sebagai pengganti layar proyektor. Sembari berlesehan, mereka asyik menyaksikan sejumlah film dengan durasi tak lebih dari 20 menit.

Di setiap jeda pemutaran film, Aditya Wardhana, akan berdiri dari tempat duduknya. Menghadap ke para peserta, Adit yang merupakan mentor Viu Shorts urusan teknis perfilman itu lantas menjelaskan apa maksud dari film yang baru saja ditampilkan. Sesekali pria bertato ini melemparkan guyonan guna mencairkan suasana.

Adit bukan satu-satunya mentor dalam acara tersebut. Terdapat pula dua sosok lain yang masing-masing punya peranan berbeda. Mereka adalah Atar Sujatmoko dan Fiole Aditya Prayudatama.

Atar, bertugas memberi materi terkait dengan penyutradaraan dan penulisan naskah, sementara Fiole ditugaskan sebagai line producer.

Fiole yang merupakan arek Malang berperan menyiapkan segala hal dalam pembuatan film, termasuk mengajarkan peserta tentang tata cara membuat perizinan untuk lokasi film. Aditya, Atar dan Fiole bisa diibaratkan sebagai dewa penempa para "Jabang Tetuka" tersebut.

Ketiga orang ini sama-sama berangkat dari Tumbuh Sinema Rakyat, sebuah institusi yang bergerak di bidang penciptaaan media beserta jaringan-jaringannya. Lembaga yang berkantor di wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang itu memiliki kegiatan membuat film, melakukan workshop serta memperluas jaringan pemutaran film. Lahirnya Viu Shorts, juga tak lepas dari peran Tumbuh Sinema Rakyat.

Viu Shorts merupakan program yang bertujuan mencari sineas-sineas baru untuk kemajuan dunia perfilman Indonesia. Program ini diinisiasi Viu, sebuah perusahaan yang bergerak di layanan streaming internasional.

Menggandeng Bekraf (Kini Kemenparkraf), Institut Kesenian Jakarta, Badan Perfilman Indonesia, Komisi Film Daerah, Yayasan Tumbuh Sinema Rakyat, pemerintah daerah, sineas profesional serta komunitas film lokal, program ini sudah masuk tahun kedua penyelenggaraan.

Pada sesi pertama yang dilangsungkan pada 2018-2019, sebanyak 17 kabupaten dan kota di Indonesia mengikuti kegiatan tersebut, dari Banda Aceh, Siak, Kupang, Singkawang, hingga Maumere.

Setiap daerah memproduksi masing-masing satu film pendek fiksi bertemakan mitos atau tradisi. Seluruh karya tersebut kemudian dirilis dalam gala premiere di Jakarta pada 25 Mei 2019 dan diikutkan dalam sejumlah festival film tingkat nasional hingga internasional, salah satunya Marche du Film, Cannes Film Festival 2019. Miu Mai, karya peserta Viu Shorts asal Maumere bahkan memperoleh penghargaan kategori Best Short Form Content dalam Asian Academy Creative Award (AAA) 2019 yang digelar di Singapura.

Ditemui di sela-sela lokakarya, Atar mengatakan pada sesi kedua ini diikuti oleh 20 kabupaten dan kota, salah satunya Kulonprogo. Kota yang dipilih bukan kota besar, melainkan yang masih berkembang, sehingga perekonomian masyarakat bisa terangkat. "Di samping itu kami juga sedang berupaya menggali potensi sineas-sineas daerah yang belum terjamah industri perfilman," ujar pria berkacamata tersebut.

Sama dengan musim sebelumnya, Viu Shorts kali ini juga mengusung tema serupa. Peserta diminta membangun cerita berdasarkan mitos yang berkembang di masyarakat. "Berangkat dari situ, kita lalu kaitan dengan pekerjaan unik di Kulonprogo seperti penjual dawet Ireng, petani kebun teh Nglinggo atau sebagainya yang kemudian mengambil lokasi di destinasi wisata di sini," kata Atar. "Ini sekaligus ajang promosi daerah," katanya.

Lulusan Teknik Kimia UGM ini kemudian memaparkan tahapan yang harus dilalui seluruh peserta. Hari pertama sampai ketiga, peserta diajak untuk memahami tahap awal pembuatan film atau disebut pra produksi, meliputi riset sosial, riset visual, identifikasi budaya lokal, pembentukan kelompok, penyusunan creative desk, presentasi ide oleh masing-masing kelompok.

Hari ke empat sampai ketujuh, mulai pembentukan kelompok berdasarkan minat dan bakat. Dilanjutkan pembentukan tim produksi, penyusunan skenario, pengenalan alat dan penyusunan desain produksi.

"Dan sekarang kami masih ada di tahapan ini. Dari 27 kami bagi empat kelompok untuk membuat ide cerita. Lalu membagi tiga divisi yaitu produksi, teknis dan penyutradaraan penulisan. Setiap divisi ada sembilan orang. Kami gali potensi mereka sebelum masuk ke divisi," ujar pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah tersebut.

Menapaki hari kedelapan sampai ke 12, peserta mulai masuk ke tahap produksi. Selama lima hari, mereka akan mengambil gambar sesuai desain produksi yang disusun di tahap sebelumnya. "Setelah pengambilan gambar, kemudian ada rekapitulasi hasil produksi, dan pengenalan workflow pascaproduksi," jelasnya.

Sejauh ini, Atar mengaku tak ada kesulitan dalam memberi materi menyoal penulisan naskah kepada peserta. Tahap demi tahap dilalui dengan lancar tanpa ada kendala. Meski sebagian besar peserta tergolong masih awam tentang dunia perfilman, hal itu tak jadi soal. "Soal penulisan saya beri dasar kepada peserta bahwa menulis adalah kegiatan menyajikan data. Biasakanlah menulis. Ibarat belajar sepeda ya dibiasakan supaya bisa. Kami dorong untuk berani menulis juga," ujarnya.

"Untuk saat ini sudah terkumpul empat naskah, tinggal nanti kami pilih satu untuk dijadikan naskah utama," katanya.

Atar meyakini seluruh peserta memiliki potensi untuk menjadi sineas profesional. Tinggal bagaimana cara menggali dan mengembangkan potensi tersebut.

Fitri Nurmimah, salah satu peserta dari kalangan pelajar mengaku ikut lokakarya karena ingin menambah ilmu tentang dunia perfilman. Sebelumnya siswa jurusan Multimedia di salah satu SMK di Kulonprogo ini pernah mengikuti sekolah film yang digelar Dinas Kebudayaan Kulonprogo.

Perempuan yang kini berusia 17 tahun itu punya mimpi, suatu saat nanti bisa menjadi sineas besar. "Saya pengin kaya Mas Hanung Bramantyo," ucapnya.