Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 016

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 016Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

“Kematian adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Ketika seseorang sudah melakukan apa yang ia anggap sebagai kewajibannya kepada rakyat dan sesama, ia dapat tetirah dengan tenang.”

 “Tapi, eyang ..” Tiba-tiba Damar merasa tangan yang diciumi dingin sekali. Ia geragap memandang wajah eyangnya. Begawan Sempani wafat dalam posisi duduk. Dengan tersenyum.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

DAMAR tetap berlutut di depan Begawan Sempani masih sambil mencium tangan sang eyang. Lama ia berada dalam posisi seperti itu seakan kakeknya sedang memberi tauziah kepada cucunya. Kemudian Damar memondong jenazah Begawan Sempani dibawa pergi dengan kepala ditundukkan.

Ratusan prajurit kademangan tak satu orang pun berani mengganggunya. Mereka bahkan memberi jalan, dan memandang terharu melihat pemuda mandraguna itu bergerak pelan dengan paras sayu, dan betapa jenggot panembahan yang putih seperti kapas melambai-lambai seolah mengucapkan selamat tinggal. Ki Suradipa yang menonton di kejauhan tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa kali ia menghela napas, kemudian menyusul selirnya yang telah diantar pulang oleh para pelayan ketika terjadi kericuhan.

Sekian ribu penonton tidak seorang pun mengeluarkan suara. Mereka memandang Damar penuh iba, mengikuti langkah pemuda itu sampai lenyap dari pandangan.

Peristiwa “fit and proper test” itu menggores tebal di sanubari kawula Tembayat. Diam-diam mereka mengutuk kekejaman Demang Suradipa. Namun, siapa berani mengutarakan? Suka tidak suka, demang adalah pembesar paling berkuasa, bahkan mati hidup semua warga berada di dalam genggamannya. Maka, sebagaimana peristiwa begal atau kebakaran, kejadian berdarah itu hapus dari perbincangan bersama terbangnya waktu. Sesungguhnya manusia mudah amnesia.

*******

BILIK yang disediakan khusus untuk Nimas Lembah Manah adalah kamar besar dengan perabotan mewah, dan terindah di antara puluhan ruang di gedung kademangan. Dulu, kamar ini digunakan garwa padmi (permaisuri) Mila Banowati, tapi semenjak Nimas Lembah diboyong ke kademangan, putri kedaton yang halus pekerti itu mengalah dan pindah ke sentong di belakang bersama anak perempuannya.

Pagi itu Nimas Lembah duduk santai membereskan rambutnya yang legam dengan sisir. Tersenyum memandangi bayangannya di dalam cermin. Tubuhnya slim berkulit lembut. Usianya belum 20 tahun. Masih muda dan cantik apalagi ketika mengenakan gaun motif polkadot tampak imut menggemaskan. Tidak heran jika Demang Suradipa sampai lupa daratan mabuk kepayang.

Mendadak wajah Lembah yang gembira berubah muram. Kedua matanya yang indah itu memerah seakan menahan tangis. Ki Suradipa duduk di atas papreman bertilam sutera jingga dan bantal besar yang bersarung indah. Demang itu bersila dengan wajah bingung. Ia maklum, selir tercintanya sedang uring-uringan. Atas desakan Nimas Lembah, ia telah nundung seluruh garwa ampil, dan kini Nimas terang-terangan menyuruh ia mengusir pula Mila Banowati. Bagaimana ia berani melakukan itu? Mila adalah putri kedaton, putri kesayangan Panembahan Senopati.

“Aku baru tahu, meski terlambat, cinta Kangmas terhadapku itu palsu,” ujar Nimas. Air matanya berderai membasahi kedua pipi yang kemerahan. Mulut yang indah itu cemberut. Jari tangannya yang runcing menutupi mukanya.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 017