Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 021

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 021Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
11 Juli 2020 22:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

“Mengapa kalian membunuhi para kuli yang tidak bersalah apapun? Lalu siapakah yang akan mengusung tandu kami?” tanya Mila tanpa rasa takut. Bagaimanapun ia adalah putri dari penguasa Mataram. Kendati wanita tak berdaya, darah perwira mengalir deras di raganya.

“He he he, engkau bertanya siapa yang akan mengusung jempana? Para setan bekasakan yang akan memanggul engkau, perempuan celaka. Sebentar lagi engkau akan mengikuti kuli-kuli apes ini ke neraka, he he he,” Bugel Mantiki tertawa keras. “Jangan engkau cemaskan nasib anak manis ini, tanganku masih kuat memondongnya,” sambungnya menuding Latri Dewani.

Tak kepalang kagetnya Mila dan Latri mendengar rencana keji ini.

“Kau hendak membunuh kami, Bugel Mantiki? Mengapa? Apa salah kami?” tanya Mila gemetar. Sedangkan Latri memeluk ketat ibunya dengan tubuh menggigil.

“Salahmu? He he he he. Salahmu karena dulu memilih suami ki demang, sedangkan kami ini hanya melaksanakan perintah Ki Suradipa. Kami disuruh membereskan kalian, dan kami mendapat upah besar,” Bugel Mantiki kembali tergelak-gelak.

“Tidak mungkin!” teriak Mila setengah mengguguk Bukan meratapi kematian yang tidak berapa lama akan ia alami. Tidak menangisi nahasnya nasib ia dan putrinya. Ia tersengut-sengut menggetuni pilihannya yang salah atas lelaki yang ia cintai. Sebegitu bejat Ki Suradipa?! Di sini yang kejam bukan hanya nasib. Yang jahanam adalah penjajahan pikiran ala Suradipa. Nasib itu adalah muara sebuah cerita yang senantiasa datang terlambat. Kita baru dapat menyimpulkannya setelah kisahnya rampung dibaca.

“Tidak ada yang tidak mungkin di jagat ini, Mila,” sesorah Bugel Mantiki. “Engkau tua dan kulitmu keriput. Sedangkan suamimu kaya raya, punya semat, derajat dan pangkat. Tampan lagi. Dan selir mudanya? He he he, jelek-jelek begini aku juga mau nglungsur Lembah Manah yang cantik.”

Lembah Manah!

Nama dan wajah molek itu berkelebat di benak Mila Banowati. Ia menghubungkan sikap para begal, kelakukan Ki Suradipa yang salin pakerti, dan selir muda yang marak ati. Mendadak wanita paruh baya itu mengangkat dada. Matanya memandang berkilat-kilat ke sekelilingnya.

“Mantiki! Silakan bunuh kami. Kematian bukan sesuatu yang merisaukan. Tapi kuminta padamu, jangan bunuh Latri, dia tidak tahu apa-apa. Demi sang hyang agung, bebaskan putriku. Kalian ambil sekotak penuh rajabrana, juga perhiasanku. Namun Latri, ya Gusti, lindungi anakku ini,” Mila memeluk putrinya yang menangis tersedu-sedu.

“Perempuan sial banyak omong,” Bugel Mantiki menarik kasar tangan Mila yang sedang memeluk anaknya. Mila tidak mau melepaskan dekapannya.

“Biyung, ahh, biyung,” Latri menjerit-jerit ketakutan.

“Latri …” Mila juga merintih pilu.

“Kakang Mantiki, bunuh saja perempuan celaka itu supaya tidak cerewet,” kata seorang di antara anggota “bregada” itu kesal.

Dengan wajah lalim, Bugel Mantiki tertawa, membacokkan golok ke leher Mila.

“Trangg!” Tampak pijar bunga api di tengah alas yang gelap.

Bugel Mantiki mengaduh keras. Pedangnya nyaris terlepas dari tangan. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki memegang tombak dari balik pohon preh. Tombak itu yang menangkis pedang Bugel Mantiki.

 BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 022