Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 029

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 029Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
16 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Bersamaan Pranacitra sibuk menyiapkan barisan tentara, secara diam-diam Ki Suradipa memberi pesan Dobleh agar membawa teman-temannya bergabung dalam rombongan itu. Kelak Dobleh harus dapat membinaskan Mila dan Latri dalam perang brubuh.

Meski Pranacitra berkali-kali meyakinkan akan mudah melibas kawanan “perampok” di hutan Somawana, namun entah kenapa, Demang Suradipa tetap tidak nyaman. Lima bregada sesungguhnya lebih dari pantas untuk memberantas gerombolan “penyamun” itu, toh masih saja ada sesuatu yang mengganjal di hati.

Belum sampai beberapa pal barisan di bawah komando Pranacitra menempuh perjalanan, terdengar suara bende. Seorang penjaga melapor, bahwa datang utusan khusus dari Panembahan Senopati bersama rombongan, dan kini memasuki pintu gapura. Jika saat itu ada guntur halilintar menyambar, barangkali Ki Suradipa tidak segentar ini. Wajahnya langsung berkeringat.

Dengan gurawalan Ki Demang bertukar pakaian, lalu keluar untuk menyongsong tamu. Ia membisiki salah seorang pelayan kepercayaannya supaya menyiapkan pengawal-pengawal pribadi untuk membelanya habis-habisan jika terjadi sesuatu. Ia menyangka utusan Mataram itu berkait dengan Mila, walau (seharusnya) menurut perhitungan tidak masuk akal jika sang prabu demikian cepat mengetahui perbuatan buruknya. Mila hidup atau mati, tentu kabarnya tidak akan sampai kota raja dalam waktu singkat.

Begitu melihat utusan yang tiba adalah Ki Ageng Permana, lelaki tambun 75 tahun yang menjadi penasihat spiritual Mataram, bersama Pangeran Arumbinang (putra garwa ampeyan) yang mengenakan pakaian begitu indah, Demang Suradipa menjadi girang. Dengan senyuman semanak Ki Suradipa menyambut para tamunya.

“Pantas semalaman burung prenjak terus berbunyi. Dan hari ini aku kedatangan Paman Permana, tamu agung dari kota raja. Angin baik manakah yang bertiup sehingga paman sampai ke pondokku yang jelek ini?” Demang Suradipa mencium tangan Ki Permana yang tertawa-tawa

“Dan engkau Dimas Arumbinang semakin ganteng saja,”

Mereka saling uluk salam dengan gembira. Para priyagung diajak masuk ke ruang dalam. Dayang-dayang mengeluarkan segala hidangan terbaik dengan sikap dibuat-buat. Para pelayan tidak kuasa mencegah mata mereka melirik pangeran tampan itu penuh berahi. Dan pangeran ini, yang memang terkenal rambang mata, tiada henti menjeling kanan kiri mencari “vitamin”.

Dalam kesehariannya, Ki Suradipa selalu memanjakan syahwat kuliner di samping tentu saja libido seksual. Semua makanan berlemak itu enak namun guilty pleasure (rasa bersalah yang menyenangkan). Sang demang yang mania jerohan dan otak sapi digoreng telur, alih-alih diet, perutnya menjadi bergelambir. Dengan ketunggon projo; kaya raya; mana mungkin Ki Suradipa melakukan mindfull eating (makan secara berkesadaran) karena apapun diembat: babat, empedal, ampela, merupakan menu sehari-harinya. Ia bahkan mungkin tidak paham ihwal kesehatan.

Setelah cukup berbasa-basi, Ki Ageng Permana menyampaikan maksud kedatangannya.

“Nakmas berbulan-bulan tidak sowan Mataram. Sang prabu mengutusku untuk meninjau kademangan Tembayat. Beliau mengkhawatirkan di sini terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki. Syukurlah keadaan aman tenteram.”

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 030