Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 032

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 032Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
17 Juli 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

DAN malam itu, bersamaan waktunya segenap kawula Tembayat memprihatinkan nasib Mila dan Latri yang ditawan kawanan begal di hutan, juga ibu-ibu mendaraskan doa agar ibu dan anak tersebut selamat, lamat-lamat terdengar pradangga menabuh gamelan di kademangan. Bisa dipastikan seluruh warga merasa tidak senang, namun mereka kuasa apa?!

Di depan suaminya dan Ki Ageng Permana serta Pangeran Arumbinang, di situlah Nimas mendemokan kepandaiannya. Ia mengenakan busana serimpi yang gemerlapan. Kutang berenda prada emas itu seakan-akan ingin melotrok tidak kuat menyangga sepasang payudaranya. Pundak dan lengannya yang telanjang tampak putih bagai sutera. Rambutnya yang hitam legam sengaja dilepas terurai. Obi jambon tretes permata mengikat kain batik motif parang barong yang diwiru indah, dan diatur sedemikian rupa sehingga betis kakinya yang mulus mengintai keluar setiap ia melangkahkan kaki. Menyadari tingginya hanya 158 cm, Nimas menggunakan high heels.

“Buka sithik jozzz,” bisik Pangeran Arumbinang dalam hati. Wajahnya semburat merah.

Kalau Nimas Lembah dengan wastra yang sopan saja sudah membuat beberapa kali sang pangeran cleguken, dapat dibayangkan seperti apa gelegak libido Pangeran Arumbinang melihat sinden ayu ini dalam pakaian serimpi. Belum juga menari, berahi putra Panembahan Senopati itu sudah naik sampai ujung kepala dan belum turun ke mana pun.

Apalagi, ya, apalagi setelah kedua lengan Nimas yang telanjang itu bergerak mengikuti suara gamelan, dengan pangkal lengan kadang terbuka memperlihatkan bulu ketiak yang rimbun (Demang Suradipa melarang selirnya mencukur rambut) dan pergelangan tangannya meliuk-liuk melebihi lemasnya kepala ular kobra, Pangeran Arumbinang benar-benar gila.

Kaki Nimas maju mundur dengan lembut, lenggoknya tidak kasar namun membayangkan potongan tubuh yang sekal, ditambah kepalanya bergerak-gerak di atas leher jenjangnya. Nimas berjoget sedemikian luwes dan kenes membuat mata Pangeran Arumbinang seperti mau copot.

“Aku harus mendapatkan Lembah. Harus. Persetan demang tua itu. Apapun yang terjadi nanti, Lembah harus menjadi milikku,” Pangeran Arumbinang mengambil keputusan nekat.

Bagaimana Nimas Lembah sendiri?!

Benar usianya muda, raganya belia, namun hal “jam terbang” dalam menghadapi lelaki?! Jelas ia bukan berhati batu, bahkan darahnya bergelora ketika “menangkap” sorot mata pangeran bagus itu. Suaminya lima puluh dua tahun lebih; perkasa memang dalam kadigdayan kanuragan; namun soal nafkah batin? Ia sendiri di bawah dua puluh tahun. Kini melihat pangeran enom dan gagah, berpakaian indah, dan terang-terangan menunjukkan gairah, terlalu dungu jika Nimas tak ada tanggapan. Ia menjeling pangeran yang duduk di dekat Demang Suradipa. Hmm, bagaikan daratan dan kahyangan!

Yang seorang tinggi besar dan kasar, beruban di sana-sini, bercambang menjemukan dan setengah tua. Yang satunya berbadan tegap, halus, kulitnya kuning nemugiring, wajahnya cakap dengan sedikit kumis menghias bawah hidung yang mancung, dan sepasang matanya memancar gairah, hmmm. Juga, mukti mana, selirnya demang atau ampeyannya pangeran?! Ayo jawab!

 BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 033