Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 035

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 035Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
18 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Beberapa gerakan sulit, setelah dicoba berkali-kali, akhirnya mereka mampu melakukan. Planking gerakan mensejajarkan kepala, tengkuk, spina (tulang belakang) dan pinggul, sehingga menyerupai papan lurus. Ini lebih silang selimpat namun juga lebih efektif dibanding crunches. Begitu pula gerakan rumit Pistol Squats (jongkok dengan satu kaki lurus ke depan);- Hand stand push up (menyandar ke batang pohon dengan kepala di bawah, kaki lurus ke atas melakukan berbagai dinamika);- Mereka bersungguh-sungguh berlatih bukan hanya agar tangkas kanuragan, tapi juga menghindari skinny fat (tampaknya kurus padahal banyak timbunan lemak di badan).

“Damar, bagaimana menurutmu tentang tamu kita?” tanya Dinar memecah kesunyian.

“Bibi Mila?” Damar memandangi sahabatnya dengan tersenyum. Ia paham betul karakter teman dekatnya ini yang selalu serba ingin tahu. Apapun ditanyakan kepadanya.

“Ya, antara lain itu,” Dinar sedikit tersipu. Yang ia maksud sebenarnya bukan bibi Mila.

“Istri Suradipa memang nelangsa hidupnya.”

“Hmm, yang aku tanyakan itu Latri. Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?”

“Ohh, Latri juga patut dikasihani, sama nelangsanya,” jawab Damar sungguh-sungguh.

“Gimana sih, kamu ini? Maksudku kecantikannya?”

“Latri memang cantik menarik,” Damar menjawab jujur.

Dinar mengangguk-angguk.

“Engkau jujur, sahabat. Tapi, Damar, entah mengapa, hatiku terpikat. Entah apanya yang menarik, sepasang matanya yang indah, bulu matanya yang lentik, alis matanya yang tebal atau, ehmm semua serba cantik.”

Lagi-lagi Damar tersenyum. Memang sejak mereka remaja antara dia dan Dinar tidak ada rahasia apalagi dusta. Mereka selalu bercakap dengan jujur. Hanya satu mistri yang disimpan di dalam hati, bahwa ia keturunan langsung Panembahan Senopati.

“Menurutku, bibir Latri yang paling menarik hati,” kata Damar setelah berpikir lama dan membayangkan wajah gadis malang itu.

“Bibirnya?” Dinar memandang heran.

“Ya, bibirnya. Coba engkau perhatikan. Lekuk lengkung bibir Latri demikian sempurna. Tipis kemerahan dan ada sedikit bulu-bulu halus di atasnya. Lesung pipit di sebelah kiri, aduh, manis benar Latri.”

Dinar memandang Damar dengan sorot mata aneh. Tiba-tiba ia menepuk pundak Damar.

“Ha ha ha. Kita sama, kawan, sama-sama terkena,” Dinar tersenyum kecut.

“Terkena apa?” Damar mengerutkan dahi.

“Terkena panah asmara. Engkau dan aku, kita sama-sama jatuh cinta.”

“Dinar, kau gila.”

“Ya, aku gila, kedanan kepada Latri, sebagaimana engkau, Ha ha ha. Ambyar!”

“Dinar, hentikan candaan ini, kawan.”

“Candaan? Tidak Damar. Jika seorang pemuda mulai membayangkan bibir seorang gadis dengan sangat teliti, apa artinya ini kawan? Artinya ia tergila-gila. Aku pun sama. Terbayang matanya yang indah, dan aku juga tergila-gila,” Dinar tersenyum pahit. “Keindahan persahabatan adalah bahwa aku tahu kepada siapa dapat mempercayakan rahasia.”

 “Ingat Dinar. Ingat. Latri putri Demang Suradipa, musuh bebuyutanku!”

“Benar. Tapi lain ayah, beda anak. Bukan hal penting itu kawan. Yang paling penting….”

Dinar tidak melanjutkan ucapannya. Ia kembali memandang Damar dengan tatapan aneh.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 036