Puisi-Puisi Terpopuler Sapardi Djoko Damono, Sederhana Namun Penuh Makna Kehidupan

Puisi-Puisi Terpopuler Sapardi Djoko Damono, Sederhana Namun Penuh Makna KehidupanSapardi Djoko Damono. - Bisnis.com
19 Juli 2020 13:17 WIB Nina Atmasari Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Penyair Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020). Sang pujangga yang akrab dipanggil SDD itu wafat di usia 80 tahun.

SDD dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Baca juga: Kabar Duka, Pujangga Sapardi Djoko Damono Meningal Dunia

Karenanya, kepergian Sapardi Djoko Damono menjadi duka bagi pencinta sastra Tanah Air. Banyak karyanya telah melegenda sehingga sering dimunculkan di media sosial maupun sebagai kutipan dalam momen tertentu.

Berikut delapan puisi milik Sapardi Djoko Damono

1. Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

===

Baca juga: Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia, Seperti Ini Perjalanan Hidup Sang Pujangga

2. Aku Ingin

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


===

3. Pada Suatu Hari Nanti

“Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.”


===

4. Hanya

“Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu

hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu”

===

5. Sajak-Sajak Kecil tentang Cinta

“mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

mencintai cakrawala
harus menebas jarak

mencintai-Mu
harus menjelma aku”


===

6. Menjenguk Wajah di Kolam

“Jangan kauulang lagi
menjenguk
wajah yang merasa
sia-sia, yang putih
yang pasi
itu.

Jangan sekali-
kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.

Ingat,
jangan sekali-
kali. Jangan.

Baik, Tuan.”

===

7. Akulah Si Telaga

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

===

8. Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku
di belakang

aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang
di depan

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa diantara
kami yang harus berjalan di depan

9. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.