Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 038

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 038Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
20 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Tiba-tiba obor padam. Hutan kembali gelap. Pranacitra menyumpah-nyumpahi “kelicikan” lawannya itu. Terdengar suara tertawa dalam hutan.

“Ha ha, Pranacitra. Benar engkau prajurit paling tangguh di Tembayat? Maju ke sini, kita perang tanding satu lawan satu, atau barangkali engkau takut padaku?”

Pranacitra senopati yang kenyang makan asam garam di pelbagai pertempuran.

 “Serbu! Tangkap hidup-hidup!”

Dengan cekatan beberapa prajurit menyalakan obor. Mereka masuk hutan. Paling depan pasukan oncor. Rimba yang gelap gulita penuh pohon-pohon raksasa, sekarang benderang, dan muncul bayang-bayang pokok kayu preh, mahoni, pule dan beringin raksasa yang menyeramkan. Fatamorgana iblis dengan mulut tertawa menyaksikan kekejaman antarmanusia, sesama ciptaan-Nya saling berbunuhan.

Setelah sekian lama berkutat di rimba tidak menemukan Damar atau kawan-kawannya, Pranacitra menjadi curiga. Ia perintahkan pasukannya mundur dan segera keluar dari hutan.

Tapi terlambat!

Di segala penjuru angin terdengar sorak membahana. Tambur, bende, canang, celempung ditabuh bertalu-talu. Api berkobar ganas di sekeliling tempat itu. Tidak ada kesempatan mundur bagi pasukan Pranacitra. Selagi prajurit berdiri kebingungan, tiba-tiba anak panah berhamburan ke arah mereka bagai hujan. Erangan dan rintihan sahut menyahut.

“Berlindung di balik pohon!” perintah Pranacitra.

Pada saat seperti itu, perisai tidak ada gunanya. Anak panah terus menyerang tanpa jeda, dan dari semua arah. Sebagai seorang sakti, Pranacitra mampu mendengar desing panah, maka ia dengan mudah mengelak atau menangkis dengan pedangnya. Beda dengan para prajurit.

Lima bregada lari lintang pukang untuk berlindung di balik pohon-pohon raksasa. Namun jumlah mereka ratusan dan suasana samar-samar, bahkan banyak prajurit oncor yang roboh maka mereka saling tabrak. Oncor-oncor terlempar ke tanah, membakar daun-daun dan ranting, nyala api semakin ganas. Damar dan teman-temannya yang dalam keseharian sopan berubah beringas, mereka terus memanah bahkan ujung panah dipasangi sumbu api. Mereka berteriak-teriak keras.

Perang adalah kebrutalan berjamaah. Dan Damar, juga Dinar beserta kawan-kawannya di sebalik pohon mahoni, tertawa-tawa tanpa matanya “mendengar” kesah serta darah para prajurit. Mereka hanya tahu bahwa, dalam perang, apa yang awam menyebut kepahlawanan, barangkali hanya sebuah kesia-siaan. Sebuah sikap heroik yang mubazir.

“Kami berada di jalan kebenaran. Jahanam Suradipa sepantasnya dibinasakan,” mungkin Damar berkilah menenteramkan diri ketika menampaki para prajurit bergelimpangan.

Sejarah membidani kebenaran, konon, tidak lepas dari tempat, waktu dan prosesnya. Tapi ada yang kekal dalam dirinya, dan tidak terhingga rumusannya. Begitu kata seorang filsuf serta teolog, yang menyikapi ihwal kebenaran dengan cara sebagai bukan postmodern.

Betapa paniknya rombongan prajurit Tembayat di bawah pimpinan Pranacitra waktu itu. Banteng Tembayat mengutuk dirinya sendiri, mengapa tadi ia mengedepankan amarahnya, lalu mengejar Damar masuk hutan?! Jika posisi mereka di luar alas, tentu keadaan tidak seperti ini.

 BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 039