Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 040

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 040Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
21 Juli 2020 23:57 WIB Joko Santoso Hiburan Share :

040

Ketidakadilan tidak akan bisa diselesaikan dengan sebuah harapan akan perbaikan. Sebab, menurut Pangeran Arumbinang, “Suradipa bukan hanya tidak adil mengambilmu sebagai ampeyan, selebihnya ia serakah dan angkara!”

Sang pangeran, juga Nimas Lembah, tentu memiliki sekian banyak alasan pembenar tapi satu hal tidak terelakkan: pertemuan mereka terlihat oleh Sandiman, seorang juru taman di mana ia menaruh benci terhadap Nimas Lembah yang (menurutnya) jemawa, angkuh, congkak, tinggi hati rendah budi dan ringan mulut. Sandiman beberapa kali dimaki-maki, disumpahserapahi oleh selir Demang Tembayat itu. Sakitnya itu di sini, kata Sandiman kepada istrinya, sambil jarinya menunjuk ke ulu hati.

 Juru taman itu merasa dirinya apes, karena sudah terlahir miskin, berwajah buruk, masih setiap hari dibentak, dicerca dan dinista “cuma” oleh seorang sinden yang sesama kawula biasa. Dan malam jelang pagi itu, kesumat Sandiman menemukan pelampiasan. Sandiman tergopoh- gopoh menyelinap di antara tetumbuhan bunga di langen sari langsung menuju ke gedung.

Ia tahu harus ke mana. Bilik pribadi Demang Suradipa ada di kanan ruang bujakrama. Di depan kamar yang pintunya tidak terkunci --- ketika Nimas Lembah meninggalkan kamar untuk berjumpa dengan Pangeran Arumbinang, ia sekadar merapatkan daun pintu --- Sandiman sedikit termangu, namun kemudian membulatkan tekat.

“Titiwanci dendamku tertunaikan,” geramnya.

 Betapa kagetnya Ki Suradipa ketika membuka mata dan setengah ayub-ayuben melihat Sandiman  lancang menggoyang-goyangkan ibu jari kakinya. Hampir saja Sandiman ditendang kalau ia tidak cepat tanggap sasmita. Juru taman itu agak keder memanggil-manggil namanya dengan berbisik.

“Mohon ampun, Gusti Demang, mohon ampun, ada wigati Gusti,” gagap Sandiman.

“Wigati apa?” Ki Suradipa setengah membentak. Matanya memandang kesal.

“Gusti Demang, hamba, tadi ehh baru saja hamba melihat Gusti, melihat..”

“Kamu melihat hantu?”

“Melihat hal luar biasa sekali dilakukan oleh Gusti Putri di ….”

Ki Suradipa menoleh ke sisi kirinya. Kosong.

“Di mana?”

“Di sana, Gusti, di …” Demang Suradipa tanpa berbenah langsung menyeret Sandiman.

“Tunjukkan di mana!” bentaknya. Entah mengapa dadanya terasa pepat.

“Di langen sari, Gusti, bersama ….” belum sempat meneruskan kalimatnya, juru kebun itu didorong ke samping dengan keras. Demang itu bagaikan terbang menuju taman.

Dan di langen sari yang rimbun asri penuh bunga warna-warni itu?

Gigi Demang Ki Suradipa berkeretak. Kedua bola matanya berputar-putar liar. Tubuhnya menggigil dan cambangnya seakan berdiri. Hanya sekali lompat, ia telah berdiri di depan Nimas Lembah dan Pangeran Arumbinang yang asyik masyuk memainkan syahwat sampai lupa darat.

Pangeran Arumbinang tercengung nanap memandang Ki Suradipa dengan ketakutan.Tapi ia tidak mendapat banyak kesempatan untuk berkilah atau apalagi melempar fitnah. Sekitar enam kali keris pusaka Singa Barong masuk dan keluar di dada serta perut sang pangeran. Darah pun memancur deras dari dada bidangnya. Sebentar tubuh Pangeran Arumbinang terhuyung-huyung kemudian tumbang bersama sukmanya melayang.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 041