Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 045

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 045Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
24 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

045

Akhirnya Pranacitra dapat mengenali “musuh yang menyerbu” adalah prajurit Tembayat, begitu sebaliknya. Kesadaran selalu datang kasep. Di kedua pihak telanjur berjatuhan banyak korban. Mereka berhimpun sembari menyesali kecerobohan masing-masing serta menyerapahi siasat Damar yang “keji”—menurut mereka.

Salah seorang perwira senior bertanya kepada Pranacitra, siapa prajurit dari Kalikotes, yang memberi laporan ke Tembayat.

“Kami mengutus dua prajurit untuk secepatnya memberi laporan dan minta bala bantuan. Namun mengapa penunjuk jalan itu menyesatkan kalian sehingga kita bertempur sendiri?” tanya Pranacitra dengan mengerutkan kening.

“Barangkali utusan itu dapat upah dan menjadi pengkhianat!”

Di dalam gelap mereka mencari Dinar, yang sudah duduk santai di tengah rimba. Dengan mengkal Pranacitra membanting-banting kaki, terlebih setelah dicocokkan ternyata yang menjadi utusan Pranacitra itu dua orang prajurit separuh baya, bukan tentara muda.

“Damar jahanam! Tentu keparat itu telah menangkap dua orang utusanku. Lalu dengan curang menggantikan dan menjadi kurir palsu,” geram Pranacitra.

“Biarlah malam ini kita mengaso di sini. Besok pagi kita kerahkan semua prajurit untuk menyerbu ke dalam hutan,” usul salah seorang perwira. Semua sepakat, maka, para prajurit dan pimpinan kelompok beristirahat masih dengan uring-uringan. Tidak terlampau banyak, memang, korban kesalahpahaman itu. Bagaimanapun mereka, khususnya Pranacitra, merasa malu sebagai senopati kawakan bisa dikecoh oleh anak-anak desa.

*******

PANEMBAHAN Senopati duduk di dirgasana dengan penuh wibawa. Wajahnya tampan mengenakan wastra keprabon yang indah. Para senopati dan pembesar Mataram berjajar rapi di depannya. Mereka juga tampak gagah. Dan para selir di belakang sang prabu, semuanya cantik menawan. Hal ini menunjukkan bahwa Mataram memang sedang pasang perbani. Di kanan sang prabu, duduk anteng Ki Juru Martani, seorang yang sulit diukur kadigdayannya dan telah berjasa besar dalam memuliakan marwah Mataram. Para bupati dan nayaka duduk di sebelah Ki Juru. Ada pula Raden Rangga, putra kinasih sang prabu, yang tersohor mandraguna.

Beda dengan Pangeran Arumbinang, Raden Rangga sejak kecil sudah menggeluti dunia kanuragan, dan bakatnya memang luar biasa. Ia turut mendengarkan pembicaraan ramandanya. Sudah cukup lama Demang Suradipa tidak sowan, dan sekarang Ki Ageng Permana yang diutus ke Tembayat untuk menahyinkan situasi di sana, malah sampai sekarang belum kembali.

“Menurut kabar yang hamba dengar dari para telik sandi, keadaan di kademangan Bayat kurang begitu menggembirakan. Demang Suradipa dulu sering blusukan ke desa-desa pelosok, mendengarkan apa keluh kesah rakyatnya, sekarang sudah jarang keluar. Agaknya memang ada yang tidak beres di Tembayat,” kata Ki Juru Martani.

Panembahan Senopati mengangguk-angguk. Ia yang menahbis menantunya jadi demang.

“Mudah-mudahan warta dari penyelidik tidak benar. Bagaimana pun Suradipa panglima tangguh dan menjadi bantengnya Mataram,”

Tidak berselang lama, datang seorang penjaga yang memberitahukan bahwa ada utusan dari Tembayat dalam jumlah cukup banyak. Sang prabu memberi dhawuh mereka untuk segera menghadap. Lurah Sandika menjatuhkan diri berlutut menyembah, lalu menangis.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 046