Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 047

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 047Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
26 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

047

Ki Juru Martani memandang muridnya dengan sorot mata menegur. Benar Rangga murid kinasihnya, tapi tokoh sepuh yang waskita itu menangkap “nada gembira” dalam ucapan Rangga. Ia paham, muridnya bukan berniat membalas dendam kematian saudara tirinya. Anak nakal yang hobi berkelahi itu tujuannya satu: mengadu kasekten.

“Gusti prabu, sebenarnyalah perbuatan Damar sangat kejam dan harus dihukum setimpal. Namun lebih arif jika kita mengetahui apa latar belakangnya. Sebaliknya, Demang Suradipa itu telah menyia-nyiakan kepercayaan paduka. Buktinya, ada pemberontak berani menyusup masuk kademangan, ini hal luar biasa untuk tidak menyebutnya janggal,” kata Ki Juru Martani.

“Demang Suradipa sedikit atau banyak juga bersalah. Ia penguasa mutlak. Kecerobohan, apapun alasannya, mengakibatkan putra dan utusan gusti prabu mendapat musibah di sana.”

Panembahan Senopati mengangguk dengan wajah murung.

“Jadi sebaiknya bagaimana, paman?” tanya sang prabu.

“Rangga diajak ke Tembayat hitung-hitung untuk meluaskan pengalaman.”

“Sendhika, eyang guru!” Raden Rangga berseru gembira.

“Rangga, siapkan barisan untuk mengiringkan aku ke Tembayat. Engkau jangan lancang melakukan sesuatu tanpa perintahku,” titah Panembahan Senopati.

 “Aku sendiri yang turun langsung mengusut perkara. Aku akan menjatuhkan hukuman kepada kawula yang mbalelo. Paman patih mewakili aku menjaga istana,” sambungnya.

Maka berangkatlah raja Mataram itu bersama Raden Rangga yang tiada hentinya senyum di sepanjang perjalanan. Tidak kepalang riang remaja badung degil itu karena dua keinginannya terlaksana, yaitu berjalan-jalan ke luar kota dan dapat mengadu ilmu dengan Damar yang dipuji oleh Lurah Sandika. Setiap dusun yang dilewati Panembahan Senopati, seluruh kawula berlutut di kanan kiri jalan menaburkan bunga. Pada kesempatan itu, beberapa kali gusti prabu turun dari kereta, dan mengajak paman-paman tani berbincang, serta membagikan hadiah (yang jelas, bukan sepeda).

Raden Rangga yang ganteng bertubuh atletis duduk tegak di atas kuda berbulu hitam bak Arjuna dari negara Pandawa. Kawula Mataram memandang terpesona. Para gadis desa terkesima sambil berdoa dalam hati semoga ksatria tampan itu berkenan meliriknya. Barangkali karena doa yang mereka daraskan bersama-sama sehingga justru tidak makbul. Kalau setiap doa dikabulkan, dan Raden Rangga menjuling kanan kiri kanan kiri tanpa henti, tentu senewen sendiri.

Ketika rombongan Panembahan Senopati mendekati alas Somawana, mereka mengamati pasukan yang dipimpin Pranacitra berada di pinggir jalan. Setelah dekat, mengetahui bahwa yang datang pasukan Mataram di bawah komando gusti prabu sendiri, dengan tergopoh-gopoh mereka mengatur persiapan dengan segala kehormatan.

Dua malam berturutan laskar Pranacitra menyerbu ke dalam hutan. Hasilnya? Tak hanya gagal, tapi Damar yang cerdas serta memiliki pembantu-pembantu terampil semacam Dinar itu selalu “weruh sakdurunge winarah”, tahu lebih dulu apa taktik lawan. Beberapa kali Pranacitra menyerang tempat kosong membuatnya semakin murka. Ia menyuruh para prajuritnya membumi hanguskan dusun Anjali yang sudah dikosongkan oleh Damar. Di waktu turun malam, Pranacitra tidak berani berdiam di tengah alas dan memilih mengaso di perkemahan. Kegagalan satu disusul kegagalan lain membuat semangatnya lock down.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 048