Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 051

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 051Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
29 Juli 2020 23:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

051

 “Ayo teman-teman kita menghadap sinuhun yang kita muliakan. Kalian tak perlu cemas, karena akulah yang memimpin pergerakan ini. Aku harus jujur di hadapan gusti prabu,” Damar mengajak Dinar dan seluruh pemuda untuk menghadap raja Mataram. Tiga puluh orang anak muda, ditambah orang-orang tua serta anak-anak, total seratusan. Yang lain entah terbirit-birit ke mana sedemikian takutnya mereka mengetahui gusti prabu sendiri yang masuk ke Dusun Anjali.

Panembahan Senopati boleh dibilang sepuh. Namun perasaan marah membuatnya tampak muda kembali. Semangatnya membara untuk menghadapi “pemberontak” yang telah menculik putrinya, dan membunuh seorang putranya. Raden Rangga sudah gatal tangannya untuk segera menghajar Damar, bocah dusun kurang ajar. Mereka memacu kudanya dengan cepat. Mendadak rombongan Panembahan Senopati berhenti. Dari tengah rimba belantara muncul serombongan pemuda berpakaian lusuh selayaknya orang desa, dan di belakang tampak mengiringi para kakek, nenek, wanita-wanita paruh baya, juga anak-anak.

“Ampun sinuhun. Mereka itulah pemberontak yang sudah menyusahkan kami selama ini” ucapan Pranacitra membuat Panembahan Senopati dan Raden Rangga keheranan. Pemberontak?! Orang-orang jompo itu memberontak? Juga bocah-bocah sepuluh tahunan itu?! Raden Rangga sampai mengucek matanya seakan tidak percaya pemandangan di depannya. Ini pemberontak?!?

Damar memelopori teman-temannya berlutut menyembah dengan sikap hormat. Sikap ini sedikit banyak mengurangi kemarahan Panembahan Senopati yang masih duduk tegak di pelana kuda bakuh berbulu putih bersih.

“Kanjeng sinuhun yang kami muliakan. Hamba Damar, bersama kawan-kawan beserta keluarganya dari Dusun Anjali, menghaturkan sembah sujud di depan paduka,” kata Damar pelan sambil bersila.

Panembahan Senopati turun dari kuda. Demikian juga Raden Rangga. Dan Pranacitra.

“Anak muda. Engkaukah Damar yang telah menculik Mila Banowati, dan menewaskan Pangeran Arumbinang?”

Damar menyembah takzim.

“Benar sebagaimana sabda kanjeng sinuhun. Hamba bernama Damar. Namun, penculikan dan pembunuhan itu hanya fitnah. Hamba tidak melakukannya.”

“Pengecut! Pemuda macam apa engkau ini?”

Tiba-tiba Raden Rangga melompat sambil mengayunkan tangan. Tamparan pangeran yang terkenal bengal ini bukan sembarang pukulan. Damar paham, ajian sejenis Brajamusti mampu menghancurkan batu hitam sebesar kepala sapi.

Dengan ketangkasan mengagumkan, Damar menundukkan kepala sehingga tamparan itu menyerempet ikat kepalanya. Elakan ini membuat takjub Panembahan Senopati, tapi membikin murka Raden Rangga yang memang gemar mengadu ilmu.

“Engkau berani melawan?” Tangannya memukul deras sekali ke dada Damar.

Sekali ini Damar tidak ingin membangkang. Ia mengangkat dadanya yang bidang sambil menerapkan ajian Tameng Waja yang dikuasai nyaris sempurna.

Dukkkk!” Damar berguling-guling saking kerasnya pukulan itu.

Sementara Raden Rangga menyeringai kesakitan. Ia merasakan betapa tangannya pedih seperti menghantam batu kali. Sementara itu Damar kembali bersila sambil menundukkan muka seakan tidak pernah terjadi sesuatu.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 052