Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 057

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 057Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
05 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

057

Mila Banowati dengan hati hancur lebur (terpaksa) ikut dalam rombongan besar ini, naik tandu bersama Latri. Di dalam hati, Mila menangis pilu menyesali nasib malangnya, karena mau bagaimanapun Demang Suradipa adalah suaminya. Ia diam-diam juga memendam kangen.

“Jarak hanya memisahkan badan, namun ia tidak pernah kwagang melerai rindu,” bisik Mila Banowati. Kangen dikalikan jarak dan dibagi dengan waktu, itulah engkau. Jarak dan waktu justru menyemikan rindu yang genap. Sekarang, ramanya sendiri yang akan menghukum sang suami, lalu istri mana di belahan bumintara ini yang tidak nestapa melihat kehancuran suaminya di depan mata? Di sini yang kejam bukan hanya nasib, tapi juga libido daulat manusia.

Di sebuah tenda khusus, malam itu Latri juga menangis. Ia sedih memikirkan perbuatan ayah kandungnya, namun toh itu tidak terlampau memberatkan hati, karena sejak kecil ia jarang bertemu ramanya, apalagi dicium dan dimanja. Sebagian besar pikirannya dipenuhi bayangan Damar, yang mendadak berubah kelakuan terhadapnya, dan Latri tidak dapat menduga mengapa seperti itu.

“Mungkinkah Kangmas Damar terpikat bidadari lain?” tanyanya sendu.

Tapi bahkan burung silampukau yang bertengger di pohon randu tak bisa menjawabnya.

“Kenapa Kangmas Damar berubah sikap terhadapku?”

Sumilir angin malam mengiris-iris perasaan Latri yang hanya bisa pasrah pada sunyi.

“Katresnan terasa lambat bagi yang menunggu, terlalu pendek bagi yang bahagia.”

*******

DEMANG Suradipa, sejak peristiwa berjilid-jilid itu—ia gagal menyuruh para penyamun membinasakan Latri dan Mila Banowati di tengah hutan; disusul pembunuhan Pangeran Arumbinang dan Ki Ageng Permana; juga jauh sebelumnya di alun-alun ia membantai Begawan Sempani—hatinya gamang, tidak pernah tenteram. Siang malam diliputi ketakutan.

Salah totalkah Ki Suradipa?! Dengan mudah orang mengatakan “Ya”, dan itulah jawaban gampang untuk persoalan rumit. Sebuah jawaban yang tidak memerlukan penelitian karena cuma melihat permukaan. Seorang wicaksana barangkali dengan enteng “mendakwa” bahwa seseorang menjadi seperti Suradipa karena sistem parenting yang keliru dan habitat pergaulan masa kecil.

Fakta Suradipa sebelum menjabat demang adalah Banteng Mataram, dan ia dapat begitu perkasa karena orangtuanya tajir raya serta menuruti semua kemauannya, termasuk membayar dengan upah besar para tokoh sakti sebagai guru kanuragannya. Maka bukan tidak mungkin ia mengambil sekian banyak selir justru berangkat dari rasa rendah diri. Cara mendapatkan ampean menunjukkan “ketidak-berdayaannya” karena semua itu dilakukan dengan iming-iming rajabrana dan kamukten. Perilaku merengkuh sesuatu tanpa perjuangan ini jika ditarik ke masa silam akan berujung pada pola asuh maladaptif parenting. Masa remaja dimanja tanpa pernah berusaha.

Jika kala itu sudah ada psikiater, tentu Suradipa dituding mengidap dark triad personality

yaitu: Machiavelli (manipulasi); Narsistik (cinta diri berlebihan) dan Psikopati (kurang empati). Manipulasi adalah ciri Triad gelap, misalnya Suradipa blusukan untuk meningkatan citra diri dan Psikopati karena Suradipa tidak pernah merasa bersalah, bahkan ada bangga nun di lubuk hatinya atas “prestasi”-nya dalam segala tindakan, termasuk royal berselir.

Bersambung: Sandyaraka Ratu Malang 058