Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 061

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 061Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
10 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

061

Seketika Damar pucat wajahnya. Ia sesungguhnya ingin menyembunyikan jati diri serta misteri yang menyelimutinya. Sekarang ditanya oleh Panembahan Senopati, ia harus mengaku.

“Tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa dulu digunakan Suradipa untuk membunuh kakek hamba tanpa dosa. Hamba dengan hati pedih membawa pergi jenazah kakek dengan tombak ini masih menancap di dadanya,” tutur Damar pilu.

“Mengapa tidak diambil sendiri oleh Suradipa?”

“Suradipa berusaha mati-matian untuk mencabut, tapi tombak itu sama sekali tidak dapat dilucut, sebab kakek sengaja hendak memberikan pusaka tersebut kepada hamba. Dan karena ini pula timbul permusuhan hamba dengan Suradipa. Dia berusaha melenyapkan hamba, begitu pun sebaliknya, hamba ingin membalas dendam kematian kakek,” Damar sebisa mungkin berusaha tidak menyebut nama kakeknya.

“Kakekmu salah apa sampai Suradipa tega membunuh?” Panembahan Senopati dengan tajam memandang Damar. Pengampu Mataram Baru itu lantip dan permana. Ia merasakan ada sesuatu sengaja disembunyikan oleh anak muda gagah ini, entah dengan tujuan apa.

“Kakek dipanggil Suradipa untuk memecahkan rahasia dan makna sebuah mimpi. Kakek bicara apa adanya. Ternyata Suradipa murka. Kakek kemudian hendak diadu dengan macan buas di alun-alun,” Damar menceritakan dengan rinci semuanya tanpa menyebutkan nama kakeknya.

“Suradipa mimpi apa?” Panembahan Senopati semakin tertarik.

“Ada sebuah api, awalnya kecil, kemudian membesar dan terus semakin besar sehingga membakar gedung kademangan. Para sidik paningal di sekitar Tembayat tidak ada yang mampu memecahkan arti mimpi daradasih tersebut. Kakek dipanggil untuk diminta nasihatnya. Menurut mata batin kakek, api itu tanda bahwa kademangan Tembayat kedatangan iblis berupa manusia cantik yang seharusnya diusir dari daerah ini. Suradipa mendesak kakek agar cablaka. Kakek pun berterus terang, siluman berwujud wanita jelita itu tidak lain adalah Nimas Lembah.”

Terdengar seruan tertahan dari semua yang hadir. Bahkan sebagian perwira memandang Nimas Lembah dengan miris. Ini hantu yang membo-membo manusia? Merinding bulu kuduk mereka. Paras cantik itu memang kemudian kelihatan menyeramkan pada saat itu.

“Alangkah kejam dan culasnya Suradipa! Satu pajaran atau kaweruh untuk kita semua di sini, betapa jahatnya seseorang jika mabuk kecantikan,” Panembahan Senopati seperti berbicara dengan diri sendiri. Ia sendiri tidak pernah jauh dengan wanita cantik, dan di istananya terdapat puluhan selir yang semuanya juwita. Yang membedakan dengan Suradipa, gusti prabu ini mampu memerangi diri sendiri, tidak seperti demang paruh baya itu yang terjerembab di dalam pelukan hangat Nimas Lembah.

“Siapakah kakekmu yang teramat sakti dan suci?” tanya gusti prabu.

Damar bungkam beberapa lama. Suasana nyenyat.

“Damar! Jawab pertanyaanku. Siapa kakekmu?” desak Panembahan Senopati.

“Begawan Sempani,” Damar menunduk dengan mata basah.

“Hmmmmm” desah gusti prabu. Dipandanginya Damar dengan sorot mata berkilat.

“Siapa nama ibumu?” suara Panembahan Senopati bergetar.

“Mendiang ibu hamba, bernama…bernama Rara Laksmiwati.”

“Astagfirullahalazim,” seru Panembahan Senopati dengan nanar.

“Damar, jawab jujur. Tahukah engkau siapa ayah kandungmu?”

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 062