Jokowi Unggah Foto Sepeda Kreuz, Ini Sejarah dan Harganya

Jokowi Unggah Foto Sepeda Kreuz, Ini Sejarah dan HarganyaSepeda Kreuz - Instagram
16 Agustus 2020 12:57 WIB Dionisio Damara Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Demam bersepeda rupanya juga dialami Presiden Joko Widodo. Dalam akun resmi Instagramnya, ia mengunggah tiga foto sepeda buatan lokal, yaitu Kreuz, Polygon, dan Element, pada Minggu (16/8/2020).

Dalam unggahan tersebut, Jokowi menuliskan keterangan bahwa bersepeda sangat penting untuk menjaga imunitas di tengah pandemi virus corona. Presiden secara tersirat juga mengajak masyarakat untuk melakoni kegiatan bersepeda.

“Hidup sehat dan berolahraga di era pandemi sangat penting, agar imunitas tubuh terjaga. Saya rutin bersepeda untuk menjaga kebugaran. Ini sepeda yang saya pakai, ada Kreuz, ada Polygon, ada Element. Semuanya buatan Indonesia,” tulisnya.

Baca juga: Penyakit Autoimun Baru Terdeteksi saat Dewasa, Mengapa?

Nama Polygon dan Element mungkin sudah tidak asing bagi publik. Popularitas keduanya kian meningkat seiring dengan bertumbuhnya tren bersepeda di masyarakat. Adapun Kreuz, pembuat sepeda lipat lokal asal Bandung, Jawa Barat, merupakan pemain baru dalam industri sepeda.

Industri rumahan yang terletak di Jalan Jonas, Bandung, ini begitu menarik minat pesepeda lantaran memiliki desain dan ketangguhan yang tidak kalah dari Brompton. Seperti halnya Brompton, Kreuz juga dibuat secara handmade atau buatan tangan.

Founder Kreuz Yudi Yudiantara mengatakan nama Kreuz diambil dari Bahasa Sunda, yaitu kare’es yang berarti kebanggan. “Ada juga yang mengartikan bahwa Kreuz itu singkatan dari kreasi urang Sunda,” tuturnya dikutip dari laman resmi Facebook Kreuz.

Baca juga: Gudang Mebel di Bantul Terbakar, Kerugian Rp10 Miliar

Yudi menuturkan bahwa perjalanan mendirikan Kreuz bermula dari ketidaksengajaan. Dia bersama dengan Jujun Junaedi, yang juga founder, awalnya memproduksi aksesori tas pannier. Tas ini biasanya dipasangkan sebagai aksesori di sepeda Brompton.

Bermula dari hal tersebut, keduanya mulai mengeksplorasi ide lebih luas dengan membuat sepeda lipat serupa Brompton.

Seiring dengan tren bersepeda yang terus tumbuh, popularitas Kreuz lambat laun turut meningkat. Yudi mengatakan inden sepeda ini mencapai 100 frame hingga Februari 2020. Tiap bulannya, Kreuz menargetkan produksi 10 unit sampai dengan 15 unit.

Adapun, harga frame set sepeda Kreuz mencapai Rp3,5 juta. Apabila ingin membeli fullbike, konsumen perlu merogoh kocek sebanyak Rp8 juta. Harga itu berbanding jauh dengan Brompton, yang memiliki harga mulai dari Rp14 jutaan hingga Rp55 jutaan.

Yudi menyatakan bahwa usaha sepedanya tidak akan mengganggu eksistensi Brompton, karena kedua merek ini memiliki ceruk pasar tersendiri. Kreuz hadir untuk mengisi permintaan para pencinta sepeda yang memiliki bujet minimal.

Bersepeda memang diketahui memiliki sejarah panjang. Naik-turunnya tren sepeda dicatat jelas oleh Carlton Reid dalam bukunya yang berjudul Bike Boom: The Unexpected Resurgence of Cycling.

Reid dalam bukunya menuturkan bahwa tren bersepeda terjadi pada 1896 hingga 1897. Saat itu, sepeda di Amerika Serikat dan Eropa dipandang sebagai simbol kaum elite, penanda status, gaya hidup sehat, dan kemakmuran.

Namun, seiring perjalannya, bersepeda tidak sekadar menjadi tren dan gaya hidup, tetapi menjelma sebagai cara hidup. Belanda, misalnya, berhasil mewujudkan bersepeda sebagai salah satu transportasi publik, dengan populasi pesepedanya mencapai 25 persen.

Sumber : Bisnis.com