Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 065

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 065Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
17 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

065

Suradipa memilih bersenjatakan gobang besar. Wajahnya pucat dan matanya merah magenta. Ia mengambil keputusan bulat: Damar harus mati di tangannya! Atau sampyuh.

Panembahan Senopati bersama para perwira menyaksikan pertandingan di atas panggung kehormatan. Sesudah gusti prabu mengangkat tangan kanannya, bende dipukul tiga kali, Demang Suradipa dan Damar saling berhadapan. Suradipa menggenggam gobang dengan sikap bengis, matanya memandangi musuhnya penuh kebencian. Sedangkan Damar santai, malah tersenyum simpul.

Tanpa peringatan apapun Suradipa menggereng sembari membabatkan senjata sepenuh tenaga, namun dengan sigap Damar mengelak. Gobang menyambar lewat di atas kepalanya. Para penonton berteriak-teriak kesetanan. Mereka khawatir Damar terpenggal lehernya.

Suradipa bagaimanapun adalah prajurit terlatih bahkan senopati yang dihormati. Begitu senjatanya tidak mengenai sasaran, gobang besar itu diayun balik menyerang kaki Damar secara tidak dinyana-nyana. Namun dengan gerakan indah, Damar melompat tangkas sehingga gobang berkesiur di bawah kakinya. Suradipa yang melihat dua kali serangan selalu luput menjadi marah sekali. Ia memutar senjata berat itu bagai kitiran. Sinar golok menggeridip ditimpa matahari pagi, seolah berubah menjadi belasan batang yang menyambar ke lambung, dada serta kepala Damar dengan serangan mematikan.

Ratusan jurus berlalu. Damar merasa cukup mempermainkan lawannya. Kini tombaknya digerakkan pelan tapi mapan. Pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa itu seperti memiliki “mata” sehingga ke arah mana saja gobang menyerang selalu dapat ditangkis. Tidak hanya mengelak, Damar ganti membalas dengan serangan-serangan dahsyat. Gerakannya teratur, tidak membabi buta, dan sesungguhnya kalau dikehendaki Damar dapat merobohkan Suradipa dengan mudah.

Ada dua hal mengapa Damar tidak segera menjatuhkan musuhnya. Pertama, Damar tetap anak muda yang seberapapun tipisnya tetap ada niatan pamer kasekten. Ia melakukan gerakan tangkas dan indah dipandang sehingga berkali-kali kawula Tembayat bersorak-sorai. Selain itu, Damar ingin “déjà vu” dengan menusukkan tombaknya ke ulu hati lawannya sebagaimana dulu Suradipa melakukan hal itu terhadap Begawan Sempani. Demang ini maklum keinginan Damar, maka keringat dingin membasahi wajahnya yang beringas, dan ia mati-matian menjaga dadanya dari serangan tombak.

Pada suatu saat dengan amarah menggelegak Suradipa menebaskan gobangnya ke leher lawannya. Damar menghindar dengan gesit, tapi kemudian golok berbalik arah menuju perutnya. Ini kesempatan yang dinanti-nanti Damar dengan sabar. Ia melompat ke kiri, dan secepat kilat kakinya menendang pergelangan tangan Suradipa dengan keras. Tidak dapat dicegah lagi gobang terlempar dari genggaman Suradipa.

Demang Tembayat itu terbelalak ketakutan melihat betapa ujung tombak pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa meluncur tanpa mampu dicegah atau dihindarkan menuju ulu hatinya, dan, ia berteriak ngeri saat pusaka ngedab-edabi itu menembus dadanya. Dengan kedua tangan seperti cengkeraman harimau, Suradipa terlentang. Gagang tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa tepat di tengah-tengah ulu hati dengan landean masih menggetar saking kuatnya tusukan Damar.