Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 074

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 074Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
28 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

074

Demang Dinar memandang bunga-bunga di depan kamar dengan dahi berkerut.

“Hidup mati manusia di tangan ang hyang wisesa. Kebetulan saja beberapa perwira, dan Pranacitra, memang dipilih Hyang Widi untuk dipanggil kembali. Kelahiran, jodoh dan kematian itu takdir. Kita, entah kapan, juga akan ditimbali gusti,” Latri berusaha menghibur, jari-jari lentiknya mengusap dada suaminya penuh perasaan. Kemudian mencium leher Demang Dinar dengan bibirnya yang hangat.

Biasanya, dicumbu seperti itu Dinar cepat membalas dengan ciuman di bibir, kemudian mereka akan bergumul di pembaringan. Tapi tidak untuk senja itu. Dengan halus, demang muda itu menggeliat sambil menepiskan tangan istrinya.

“Yayi, engkau benar. Hidup mati seseorang di tangan Hyang Widi. Sekarang kita bicara tentang sebab. Aku paham, kematian Pranacitra tidak wajar, dan ada campur tangan kekuatan iblis. Apalagi, fitnah keji ditujukan ke diriku. Semua ini jika dihubung-hubungkan satu dengan yang lain akan muncul gambar kekuatan besar yang ingin menghancurkan Tembayat atau setidaknya aku sebagai pemimpin di sini,” Demang Dinar berkata serius.

Latri menundukkan muka sembari memegang tangan suaminya, kemudian sepenuh jiwa mencium bibir Dinar. Mereka berciuman lama dan keduanya tenggelam dalam asmara. Latri terengah-engah, kedua pipinya kemerahan, dan tubuhnya menjadi hangat.

“Yayi, aku harus menyelidiki semua ini,” Dinar mencium lembut kening Latri.

“Kangmas, sebenarnya aku tidak mau membicarakan ini. Aku cemas Kangmas semakin resah. Aku memang mendengar fitnah yang ditujukan ke Kangmas. Dan desas desus itu sudah sampai eyang panembahan. Kabar jahat menyebutkan Kangmaslah yang membunuh Pranacitra. Silakan Kangmas menyelidiki, namun Kangmas tentu tidak melupakan janjimu padaku bahwa engkau tidak berpetualang seperti dulu mengandalkan kadigdayan,” Latri mengingatkan dengan suara lembut. Sepuluh tahun suaminya jinak di rumah, dan Latri menikmati sekali suasana itu.

Demang Dinar bangkit, merangkul leher Latri yang jenjang, mengecup dengan bibirnya, kemudian kembali mereka berciuman. Lalu Dinar merenggangkan tubuh. Ia paham, jika cumbu itu berlarut-larut, tentu mereka tenggelam dalam bercinta.

“Percayalah Yayi. Kakangmu ini tidak akan berpetualang seperti dulu. Tapi aku memang harus menyelidiki karena ini menyangkut kelestarian keluarga kita,” Dinar tersenyum dan lenyap kemuraman di wajahnya. Senyum itu pula yang menghapus kekhawatiran Latri bahwa suaminya akan menggunakan kesaktiannya untuk berbuat kekerasan. Senyum mesra itu menghalau segala keraguan di hati Latri.

“Yayi, Begawan Sempani mengajari kami, aku dan paman Damar tentang semacam ritual membunuh musuh melalui mantra hitam, yang disebut Waringin Sungsang. Ilmu itu jahat sekali, sanggup mencelakakan musuh dari jauh hanya dengan menusuk boneka yang menyerupai calon korbannya,” ujar Dinar.

“Ihhhh. Ilmu terkutuk!” Latri menjerit lirih.

Demang Dinar tersenyum.

“Ilmu apapun, termasuk yang dikuasai eyang panembahan dan juga guruku sendiri, akan terkutuk jika digunakan untuk kejahatan.”

“Mantra Waringin Sungsang akan membuat korbannya tewas begitu saja, Kangmas?”

Dinar menggelengkan kepala.