Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 075

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 075Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
29 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

075

“Tidak ada kekuasaan di dunia ini, seberapapun dahsyatnya, mampu mengalahkan orang yang bersih batinnya. Ajian Waringin Sungsang akan memakan korban jika sang musuh memang kalah sakti. Aku tidak mengatakan diriku lebih sakti, namun sungguh aku tidak merasa berbuat dosa terhadap liyan. Itulah sebabnya aku yakin mampu melawan,” kata Dinar tanpa bermaksud sombong.

“Sebegitu ampuh ajian Waringin Sungsang itu Kangmas?”

“Yayi, kakangmu tidak pernah melakukan kejahatan macam itu. Aku cuma tahu caranya. Engkau lihat baik-baik,” Dinar keluar kamar, mengambil segenggam tanah basah di taman.

Ia kemudian ke petarangan, memegang seekor ayam dan mencabut sehelai bulunya, lalu masuk kamar mendekat ke Latri yang memandang penuh perhatian.

“Tahu yang aku pegang?”

“Ehh, ini bulu ayam kok semuanya putih? Pasti ayam kelangenan kita, Petak Traju Mas, yang Kangmas ambil. Untuk apa?”

Dinar tidak menjawab. Tangannya sibuk membuat “replika ayam” dari tanah liat. Perlu waktu hampir setengah jam untuk menjadikan “dami” itu benar-benar seperti ayam kesukaannya yang berbulu putih dan paruhnya kuning. Bulu ayam dipasang di replika tersebut.

“Kangmas hebat! Benar-benar mirip ayam kita,” Latri tersenyum dengan mata berbinar.

“Perhatikan baik-baik yayi. Jangan teriak walau engkau merasa aneh atau heran Sekarang kakang akan membaca mantra,” Dinar bersila. Tangan kiri memegang dami. Sebatang jarum di tangan kanan. Matanya terpejam. Mulutnya berkemak-kemik mengeja mantra. Tampak asap tipis di atas kepalanya.

“Perhatikan,” Dinar membuka mata, lalu dengan tangan kanan gemetar jarum ditusukkan ke paha replika ayam. Latri berteriak dengan mata membelalak melihat ada darah menetes dari “boneka” itu bersamaan suara ayam kesakitan. Latri melompat dari tempat duduk dan berlari keluar kamar melalui pintu tengah dan nyaris menabrak Darsi yang jongkok di belakang pintu.

“Ehh, Darsi, apa yang kau kerjakan di sini?”

Gadis manis berkulit sawo matang itu berusia sekitar tujuh belas tahun. Tubuhnya sekal, dan bagian dadanya yang tertutup kemben padat berisi. Darsi menggigil ketika duduk timpuh di depan Latri.

“Nyuwun duko, gusti putri. Hamba, ehm, hamba ingin memetik kembang kenanga dan melati untuk sesaji nanti malam. Sekalian mengingatkan gusti hari ini Anggoro Manis, biasanya gusti jamasan.”

“Ya, aku ingat. Sekarang pergilah,” Latri tergesa-gesa menuju petarangan. Ia barangkali sedang memusatkan perhatian pada kejadian aneh tadi sehingga tidak memerhatikan sesaji yang sudah komplet tersedia: mawar merah, kantil, kenanga, mawar putih, melati, dupa, ratus, menyan madu, seperangkat kinang, gecok, dan jenewer. Darsi adalah gadis pelayan urusan dalam. Tidak mengherankan ia ada di depan kamar. Latri tidak memikirkan Darsi lagi.

“Ahhhh,” Latri berdesah ketika membuka petarangan. Ayam Petak Traju Mas tergolek. Darah menetes dari pahanya. Ia berlari ke kamar.

“Kangmas, jangan bunuh ayam kelangenan kita,” ujarnya dengan napas memburu.

Dinar menggeleng. Tangan kanannya dengan cepat mencabut jarum dari boneka ayam.

“Jangan cemas Yayi. Aku tidak begitu kejam membunuh hewan tanpa alasan jelas. Aku hanya ingin menunjukkan kedahsyatan ajian Waringin Sungsang. Sebentar lagi ayam kita sehat kembali,” Dinar melempar boneka dan bulu ayam ke taman.