Memaknai Pulang lewat Film Mudik

Memaknai Pulang lewat Film MudikPoster film Mudik / Lifelike Pictures
30 Agustus 2020 21:17 WIB Newswire Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Selama pandemi Covid-19 ada banyak film Indonesia yang menjadi perbincangan di media sosial. Salah satunya film Mudik (2019) yang kini bisa disaksika di saluran video on demand (VOD).

Mudik bercerita tentang Aida (Putri Ayudya) dan suaminya Firman (Ibnu Jamil) yang sedang memiliki konflik dan memutuskan untuk mudik ke kampung halaman menjelang Lebaran.

Di tengah perjalanan, mereka mengalami sebuah peristiwa tragis yang membuatnya bertemu dengan Santi (Asmara Abigail), seorang perempuan desa.

Perjalanan dan pertemuan mereka dengan Santi pun pada akhirnya justru mengubah pandangan hidup Aida dan Firman tentang rumah tangga dan masa depan Aida dan Firman.

Berfokus dengan pendekatan karakter sebagai penggerak cerita, sutradara Adriyanto Dewo menempatkan banyak pecahan puzzle yang bisa penonton susun seiring berjalannya film.

Penonton segera diajak mengikuti perjalanan mudik Aida dan Firman meninggalkan Jakarta menuju kampung halaman. Banyak pemandangan familiar yang disuguhkan di sepanjang perjalanan darat dengan mobil itu, mulai dari seperti apa nuansa mudik, dan tentunya kedua tokoh utamanya

Bicara tentang tokoh utama, Firman, menurut aktor Ibnu Jamil, merupakan laki-laki yang ingin segala hal cepat terselesaikan dan instan.

Ibnu Jami menjelaskan bahwa karakter ini berada di tengah masalah rumah tangga dan batinnya yang sedang bergejolak.

Sementara Putri Ayudya berpendapat, Aida yang ia perankan merupakan karakter perempuan yang cenderung memendam masalah dan berusaha menangani masalah sendiri.

Tak jauh berbeda dengan yang dijelaskan kedua lakon utama, Aida dan Firman memiliki dinamika hubungan yang cukup rumit.

Kombinasi keduanya sukses dibawakan dengan "dingin" oleh sutradara, dengan banyak mengandalkan ekspresi dan bahasa tubuh alih-alih dialog rapat dan cepat sebagai stimulus cerita. Hal ini membuat penonton harus lebih sabar untuk mengulik cerita dari kedua tokoh utama tersebut lebih dalam lagi, karena terkesan dibawakan dengan lambat.

Adriyanto juga memanfaatkan sejumlah teknik yang mendukung nuansa dingin dan tegang yang terbangun. Sejak awal, ia banyak menggunakan pengambilan gambar berdurasi panjang (long take) dan follow di sejumlah adegan

Alih-alih membuat bosan, teknik ini rasanya cukup efektif untuk menimbulkan antisipasi bagi penonton mengenai kejadian apa yang menanti karakternya. Ini juga seakan mengajak penonton benar-benar ikut dalam perjalanan para lakonnya.

Secara keseluruhan, Mudik tak hanya sekadar menampilkan perjalanan para tokohnya dari perantauan menuju kampung halaman, namun juga mengerti lebih dalam lagi mengenai arti dan makna dari kata pulang. Bukan hanya pulang ke rumah dan bertemu dengan orang-orang terkasih, namun juga pulang dari rasa hampa, rasa bersalah, dan mengenal diri sendiri.

Film Mudik yang telah berkompetisi di 4th International Film Festival & Awards Macao (IFFAM) pada Desember 2019 serta CinemAsia Film Festival pada Maret 2020 ini sudah tayang di layanan streaming Mola TV sejak 28 Agustus 2020, dengan durasi 1,5 jam.

Sumber : Antara