Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 077

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 077Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
01 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

077

“Kangmas …..”

Dinar membalikkan badan.

“Ada apa Yayi?”

“Jangan pergi, Kangmas. Aku merasa seram sendirian di kamar.”

Dinar menghela napas.

“Latri, istriku tercinta, cucu kesayangan penguasa Mataram, mengenal takut?”

“Tidak! Aku tidak takut berhadapan dengan manusia sejahat apapun. Kangmas mungkin masih ingat, aku nyaris dibantai oleh gerombolan begal suruhan…ehm, ayahku. Aku tidak takut mati. Tapi, menghadapi hantu, iblis, aku …ngeri Kangmas.”

“Panggil Darsi, Minten, Ruminah, Kamsiyah, dan Rubingah,” ujar Dinar.

“Untuk apa?”

“Menemanimu di kamar. Banyak teman membuat Yayi tenang,” kata Damar.

“Aku tidak akan lama. Selesai menyelidiki langsung kembali. Semoga Yayi belum tidur pulas saat kakang pulang,” Dinar tertawa.

“Mana mungkin aku terlelap? Pertama, pikiranku dipenuhi bayangan suamiku tercinta. Yang kedua, walau banyak kawan, rasanya masih seram. Tidak mungkin aku tertidur.”

“Baiklah Yayi. Nah, sekarang aku berangkat.”

“Kangmas …..”

Dinar menghentikan langkahnya.

“Ada apa Yayi?”

“Ini Kangmas, ehmm, sebentar saja,” Latri tersenyum tersipu-sipu.

Lama Dinar memandangi bibir Latri yang selalu merah tanpa menginang. Bibir yang tipis, membasah, lembut dan hangat. Dengan penuh perasaan, Dinar mengecup mulut istrinya. Kedua lengan Latri yang halus lunak merangkul leher suaminya seolah tidak ingin dilepas.

Dinar merenggut halus tubuhnya dari dekapan Latri.

“Kangmas tidak membawa tombak atau keris?”

“Menghadapi datuk hitam tidak perlu senjata. Cundrik ini pun belum tentu aku gunakan. Sudah Yayi, restumu kakang pergi,” Dinar dengan tangkas melompat.

Ia tidak ingin “diganggu” lagi oleh Latri. Berlama-lama dengan istri yang selalu membangkitkan kelelakiannya ini, kapan tugasnya tertunaikan?!

Latri termenung. Tidak heran menyaksikan suaminya “lenyap” di depannya. Bayu Bajra, semacam panglimunan dan ilmu meringankan tubuh, memang suaminya sering melakukan “demo” di depannya. Bukan untuk jemawa. Dinar ingin istrinya sedikit banyak mempelajari ilmu kanuragan. Tapi Latri kurang begitu tertarik dengan hal-hal kadigdayan yang menurutnya hanya menonjolkan kekerasan. Ia menarik napas berulang-ulang. Hatinya ampang Dinar tidak berada di sampingnya. Latri ingin melepas sumpek di taman, namun di longkangan ia melihat bayangan perempuan menyelinap. Darsi.

“Heiii, engkau lagi. Mengapa tidak mengaso di pondok belakang bersama Rubingah dan teman-teman lain?” tanya Latri dengan muka kurang senang. Entah mengapa, ada semacam firasat kewanitaannya, yang membuat ia tidak suka dengan pelayan satu ini. Sorot mata dayang manis ini ketika melayani Dinar sarapan; atau kesantunannya yang seperti dibuat-buat; tawanya yang cekikikan; semua itu membuat Latri enek.

Gadis berdada semok dan terlalu montok untuk ukuran wanita usia tujuh belas tahun itu maju sampai dekat kaki Latri, menyembah dan sedikit menyentuh kaki majikannya, lalu kepala ditundukkan dalam-dalam.

“Nyuwun duko Gusti Putri. Mungkin ada tugas untuk hamba malam ini? Bukankah Gusti Demang sedang pergi?”