Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 078

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 078Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
02 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

078

Latri mengerutkan kening.

“Engkau tahu, Kangmas Demang tidak di rumah? Dari mana engkau tahu?”

“Ampunkan hamba Gusti Putri. Tidak sengaja hamba berpapasan di gandok timur dengan Gusti Demang. Sepertinya tergesa-gesa, dan hamba baru…..”

“Sudahlah. Aku ingin istirahat di kamar. Panggil Minten, Rubingah, Kamsi dan Sumilah. Aku merasa kurang nyaman sendirian di pembaringan.”

“Sendhika Gusti Putri. Hamba juga mendengar tewasnya Gusti Pranacitra.”

“Cepat panggil temanmu Darsi,” ujar Latri ketus. Dayang satu ini membuatnya jengkel.

Sendhika!” Darsi tergopoh-gopoh pergi menuju pondok khusus para dayang. Pinggulnya bergoyang ke kanan-kiri. Latri memandangi Darsi hingga lenyap di balik sintru. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam. Kemudian melangkah pelan ke biliknya.

Di balik sintru, Darsi menghentikan langkahnya. Kedua tangan dengan jari-jari lentik itu dikepal. Giginya yang asmaradanta menggigit bibir bawah, matanya seperti menyala. Ia sampai kehilangan selera makan, dan tidak pulas tidur, karena memikirkan Demang Dinar yang tampan perkasa, berharap suatu ketika sang majikan tertarik padanya. Darsi coba mengajuk hati Demang Dinar, tapi gadis dengan kaki tirus berisi itu jengkel melihat sikap junjungannya biasa saja. Lalu, Gusti Putri?! Istri demang itu benar cantik, namun Darsi tidak merasa kalah.

 Darsi sadar dirinya lebih belia; lebih montok; lebih teji; lebih sekal; lebih menggairahkan

Malam itu Darsi halu. Ia merasa Demang Dinar menyambut cintanya; dan mereka berdua sudah menjadi suami istri; saling menumpahkan kasih; dan demang itu menginginkan keturunan dari rahimnya karena Gusti Putri mandul. Tapi kenapa “suaminya” pergi tanpa pamit, dan Gusti Putri kentara membenci dirinya?! Darsi ingin menangis sekeras-kerasnya lalu hujan turun rinai untuk mengabarkan kepada semua orang bahwa Demang Dinar jauh lebih mencintai dirinya katimbang Gusti Putri yang beranjak tua.

“Tidak!” Darsi buru-buru membantah sendiri. “Aku tidak ingin menangis supaya gerimis mengabarkan hubunganku dengan Demang Dinar. Aku hanya ingin menembang bersama rintik hujan, dan tidak perlu semua orang mengerti betapa mesranya hubungan kami,” 

Gusti Putri?!

“Apa yang dimiliki Gusti Putri selain secara kebetulan ia cucu penguasa Mataram. Aku lebih muda, dan cintaku jauh lebih besar katimbang Gusti Putri. Hubunganku dengan Demang Dinar kurang bebas gara-gara Gusti Putri,” Darsi berjalan wira-wiri di longkangan.

“Desas desus itu benar. Aku menyaksikan sendiri dengan ilmunya yang dahsyat Demang Dinar melukai ayam dari jarak jauh. Paman Triman harus segera aku kabari, agar Demang Dinar dapat tegas mengambil keputusan: menjadikan aku garwa padmi, atau rahasianya aku bongkar,” Darsi cekikikan dengan mulut tersenyum tapi mata menangis. Ia berjalan, tanpa ditemani gerimis , menuju pondok khusus para dayang.

“Jika punya mimpi, kejarlah,” Darsi mengerjap-ngerjapkan matanya.