Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 080

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 080Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
05 September 2020 00:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

080

Ketika kalong itu terbang ke selatan, Dinar cepat melompat turun dan berlari dari bawah mengikuti dua kelelawar yang tentu tidak merasa dikuntit.“Kalian akan ke mana? Mau ke neraka sekali pun aku ikuti,” Dinar tersenyum.

Hewan nokturnal itu terbang ke selatan, belok ke barat, lalu kembali ke selatan melewati regol menuju rumah kademangan. Dinar terus menguntit dengan dada berdegup kencang. Tentu Latri sudah pulas tidur di atas pembaringan ditemani para dayang. Entah dorongan apa membuat Dinar merasa begitu kangen dengan istrinya sehingga ia meloncat naik ke atap rumahnya sendiri.

Dua ekor kelelawar kini berputaran di atas. Dan saat kedua kaki Dinar menginjak genteng ia nyaris berteriak. Di atas atap rumahnya terbang pula seekor kalong yang lebih besar dari dua kawannya tadi. Ia mendengar suara Latri mengaduh. Serasa berhenti detak jantung Dinar. Ia tak peduli lagi terhadap tiga ekor kelelawar, tubuhnya berkelebat memasuki taman dan melompat ke dalam kamar.

“Yayi,”

Latri tidak tidur. Ia duduk dengan mata terbelalak. Lengan kirinya berdarah, dan tangan kanannya berusaha menutup luka. Saat Dinar melompat, kembali istrinya menjerit karena lengan kanannya berdarah. Dari atas terdengar kepak sayap tiga ekor kalong terbang menjauhi gedung.

“Kangmas, aduh, lenganku ini bagaimana?” rintih Latri.

“Tenang Yayi, ada aku di sini. Bedebah laknat tunggu pembalasanku.”

Latri bukan pengecut apalagi Dinar di situ. Mendengar suaminya memaki, ia memandang heran. Tidak biasa Dinar berucap kasar. Ia suami halus pekerti.

“Kangmas mengumpat siapa?”

“Tidak. Engkau tenang saja Yayi,” suara Dinar gemetar. Terlambat sekian detik, Latri pasti mengalami hal sama seperti Pranacitra dan Lurah Branjangan. Cepat Dinar bertimpuh di depan istrinya. Telapak tangannya menempel persis di ulu hati Latri. Melihat muka suaminya berpeluh, Latri sadar, tentu ia menjadi sasaran ilmu hitam. Mula-mula lengan kiri, beralih lengan kanan, jika tidak segera ditangani pasti dadanya kena.

“Kangmas ..” Latri berbisik lirih. Kedua tangan suaminya, yang selama ini membelainya mesra, kini mengeluarkan hawa panas yang menjalar dari ulu hati ke arah kedua lengannya yang secara aneh mendadak mampat lukanya.

Dinar kemudian berdiri dan cepat berlari ke taman. Ia memetik beberapa daun kelor dan bunga mawar putih, juga menebas pohon bambu kuning yang selama ini sekadar jadi pajangan. Ia tergesa-gesa masuk kamar.

“Pegang daun kelor ini dengan tangan kananmu. Dan bambu ini kempit di ketiak kirimu,” Dinar menebarkan mawar putih di atas pembaringan. Ia tahu persis, segala santet, teluh, tenung akan kalis berhadapan dengan daun kelor, bengle, mawar. Bambu kuning juga dapat menetralkan energi jahat. Beberapa lembar daun kelor juga diremas-remas lalu diusapkan ke tubuh Latri.

“Jangan cemas. Aku bersumpah akan menghancurkan kepala bedebah yang berani sekali mengganggumu,” ujar Dinar dengan suara bergetar. Ia benar-benar marah. Tubuhnya berkelebat  ke atas genteng.

“Kangmas..” Latri memanggil. Tidak ada jawaban dari suaminya. Latri menghela napas. Ia harus percaya dengan kadigdayan murid Begawan Sempani itu. Suaminya tidak akan kalah.