Advertisement
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 082
Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
Advertisement
082
Datuk hitam itu psikopat yang bermasalah dengan dirinya sendiri. Ancamannya terhadap kelelawar bukan gertakan kosong. Entah datuk sableng itu tidak tahu; atau tidak mau tahu; atau benar-benar tidak tahu bahayanya mengonsumsi kalong yang menjadi inang alami pelbagai virus mematikan.
Advertisement
Suatu waktu, tanpa jelas marah kepada siapa, Wiku Suragati menyantap hidup-hidup dua ekor kelelawar tanpa dimasak. Mungkin ia memiliki antibodi monoklonal yang membuatnya tidak tertular hewan pembawa virus berbahaya itu. Sang wiku tetap sehat meski sering batuk.
“Setan jahanam. Engkau membandel ya, tubuhmu kebal? Meskipun engkau cucu sultan Mataram, dikira aku tidak mampu membunuhmu?” Dengan beringas kakek itu menusuk boneka berkali-kali menggunakan pusakanya: dada; lambung; pusar; bahu; punggung; leher; dan kepala. Seberapapun kuat ia mencatuk, cundriknya tidak dapat melukai boneka dari tanah liat itu.
Dinar bergidik ngeri. Sedikit terlambat pasti Latri tewas dengan tubuh arang keranjang. Ia melihat kedua lengan boneka itu berlumuran darah. Istrinya tentu menderita. Betapa gagahnya Latri, puji Dinar. Walau lengan istrinya berdarah-darah tapi tetap mampu menjaga bagian tubuh yang berbahaya.
“Latri,” desis Dinar. Ia membayangkan istrinya sangat menderita.
“Setan iblis bekasakan engkau Dinar. Istrimu engkau latih ilmu kanuragan? Hik hik hik. Hendak kulihat bagaimana jika darah istrimu terkuras keluar dari lengan, apa tidak modar juga?” Tangan yang hanya terbungkus kulit keriput itu menghunjamkan dengan tenaga sepenuhnya ke lengan boneka. Namun cundrik itu terhenti di udara karena tertahan oleh sebuah tangan yang kekar. Belum habis rasa kagetnya, tiba-tiba boneka terenggut lepas oleh kekuatan yang sangat dahsyat.
Wiku Suragati terbeliak dan mengangkat muka. Bola matanya memandang seolah tidak percaya apa yang tampak di depannya. Seorang lelaki tampan berdiri tegak dengan sorot mata mencorong. Anak-anakan berada di tangan kirinya dan ia dengan tenang mencabuti rambut yang menempel di kepala boneka itu. Rambut Latri Dewani. Ia memasukkan gumpalan rambut tadi ke saku, kemudian sekali remas patung itu menjadi sekepal tanah lempung.
“Iblis berbentuk manusia jompo. Tua bangka bau kuburan yang tidak mencari ketenangan malah mengumbar angkara. Engkau ini siapa? Manusia tapi lebih nista dari binatang; lebih keji dari setan; lebih hina dari sampah.”
Suara Dinar halus. Mengumpat pun nadanya santun. Wiku Suragati terperanjat seperti disambar guntur di siang hari. Pahamlah ia kini, mengapa usahanya membunuh istrinya Demang Dinar gagal. Ternyata ada lelaki sakti yang kendati seumur hidupnya ia belum pernah bertatap muka, namun dapat menduga dengan siapa ia berhadapan. Wiku tua itu melompat tangkas, tidak sesuai dengan tubuh lapuknya yang kelihatan sangat ringkih.
“Hik hik hik. Engkau Dinar, demang di Tembayat?” Mata Wiku Suragati mendelik. Mukanya merah beranang. Laki-laki usia sekitar tiga puluh tahunan ini tentu salah satu musuh besarnya. Demang Dinar, Pangeran Arya Damar, Raden Rangga, tiga orang ini harus dibunuh. Sekarang seorang di antaranya sudah di hadapannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Konser Terancam Batal, Prancis Pertimbangkan Blokir Kanye West
Advertisement
Berita Populer
- Mengenal Jenis Latto-Latto, Ada yang Bisa Menyala hingga Berukuran Jumbo
- Perusahaan Ini Bikin Kostum Serigala yang Mirip Aslinya, Terjual Seharga Rp350 Juta
- Hanya Kover 10 Persen, Warganet Soroti Asuransi Indra Bekti
- Foo Fighters akan Comeback Meski Tanpa Sang Drummer
- Jadi Sorotan Warganet, Inilah Profil Aldila Jelita, Istri Indra Bekti
Advertisement
Advertisement








