Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 083

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 083Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

083

Dinar tersenyum. Senyum dingin yang sudah sekian tahun tidak pernah membayang pada bibirnya. Biasanya ia tersenyum hanya untuk Latri. Hampir saja ia lupa cara tersenyum dingin.

“Orang pikun. Setua ini engkau masih juga tersesat,” ujar Dinar.

“Aku? Tersesat katamu? Hik hik hik. Benar. Aku tersesat di jalan yang benar.”

“Sesukamulah, toh yang akan masuk neraka dirimu sendiri. Mata uzurmu masih bisa jeli melihat aku. Tidak salah panggraitamu. Aku Dinar yang mengampu kademangan Tembayat. Dan aku, agar engkau mengerti, aku bukan pengecut macam engkau yang melempar batu sembunyi tangan. Engkau melakukan pembunuhan keji di balik pohon-pohon lebat di hutan terpencil ini.”

“Pengecut? Hik hik hik. Aku suka istilah itu. Engkau sendiri apa? Ksatria? Pendekar?”

“Terserah engkau menyebutnya. Aku berani menyambangi pondokmu dengan terbuka. Engkau lancang ingin membunuh istriku yang tidak tahu apapun. Engkau hendak mencelakakan wanita tanpa dosa. Sebut namamu sebelum aku patahkan tulangmu; aku hancurkan kepalamu.”

Wiku Suragati bukan seorang rapuh. Bahkan sebaliknya. Ia kakak seperguruan Suradipa. Ia tokoh sakti yang mengembara dari India, dan membawa ajian aneh-aneh, terutama sekali ilmu hitam. Pengalaman di dunia kanuragan juga mumpuni. Biarpun kelihatan bongkok, tapi karena badannya jangkung, dalam posisi terbungkuk ia masih sedikit lebih tinggi dari Dinar. Ketinggian ini yang membuat ia selalu memandang rendah lawan, termasuk Dinar. Persyaratan utama untuk keampuhan ilmu hitam adalah rasa percaya diri; yakin kemampuan yang dimiliki; dan tak pernah gentar menghadapi siapapun. Apalagi menghadapi seorang anak muda yang sepatutnya menjadi anak atau cucunya.

Hik hik hik. Dinar, Dinar. Sesumbarmu bagaikan letusan gunung Merapi. Semuda ini kesombonganmu melebihi puncak Semeru. Engkau anggap aku sebangsa kecoa yang dapat kau perlakukan semena-mena? Aku, Wiku Suragati, bertahun-tahun menanti kesempatan baik seperti sekarang ini untuk mencabut nyawamu demi membalas kematian adikku, Suradipa.”

Tangan kanan Wiku Suragati menyambar tongkat yang bersandar di dinding. Sepintas tongkat itu tampak biasa, berwarna hitam, sebesar jempol, bengkak-bengkok tidak karuan, butut dan lusuh. Tapi dari toya itu muncul aura mengerikan. Bukan sembarang tongkat karena setiap malam selasa dan jumat kliwon dijamas; bertahun-tahun menerima energi bulan purnama; juga menyerap hawa aneh di pelbagai makam keramat.

Dinar mengangguk-angguk. Ia berdiri tegak, tangan kirinya menempel pusar, sedangkan tangan kanan mengepal. Matanya yang tajam melihat keadaan di dalam pondok, dan ia langsung paham bahwa “pendeta” renta ini pemuja Batara Kala. Dulu gurunya berpesan supaya hati-hati jika bertemu lawan yang “mengidolakan” Batara Kala karena biasanya memiliki ilmu hitam yang dahsyat.

“Arca Batara Kala dapat mengeluarkan kekuatan sihir, apalagi jika pemujanya senantiasa menjamas, memberi sesaji dan bahkan tumbal,” kata Begawan Sempani.

“Batara Kala, sebagaimana tutur pewayangan, selalu haus darah manusia. Hanya ayahnya yaitu Batara Guru yang mampu menundukkan. Maka, hancurkan dulu reca Batara Kala, praktis penyembahnya kehilangan daya dan menjadi aber.”