Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 084

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 084Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
09 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

084

Teringat nasihat almarhum gurunya, Dinar berbesar hati.

“Wiku palsu Suragati. Engkau ternyata kakak seperguruan Suradipa yang tewas di tangan Pangeran Arya Damar, saudara seperguruanku. Adikmu kalah dalam pertandingan yang jujur. Disaksikan ribuan penonton di alun-alun. Niatmu membalas dendam utang nyawa bayar nyawa, tidak bijaksana.  Bagaimanapun aku siap menghadapimu wiku sesat,” ujar Dinar gagah.

“Pakaianmu saja pendeta, tapi hatimu iblis. Kenapa engkau pengecut menyerang istriku yang bahkan kenal juga tidak denganmu? Kenapa pula engkau membunuh Pranacitra, para lurah dan baru saja engkau secara licik menewaskan Lurah Branjangan. Mengapa tidak langsung saja menantangku?” sambungnya dengan pandang mata menghina.

Wiku Suragati tidak hanya cerdik tapi banyak muslihat. Sejak tadi wiku itu bertimbang- timbang dengan cermat. Menghadapi “cucunya” ini belum tentu ia akan menang. Jika ia berhasil menewaskan Dinar, masalah selesai. Tinggal giliran Pangeran Arya Damar dan Raden Rangga. Tapi, kalau ia yang tewas? Wiku Suragati jelas tidak takut mati. Namun mati penasaran, tujuan tidak tercapai, dan rohnya akan gentayangan. Ia harus mengatur siasat, agar dalam posisi apapun—kalau pun ia mati—musuhnya juga harus celaka: magabatanga. Sama-sama binasa.

Hik hik hik. Dinar bocah ingusan bau popok. Engkau ingin mengalahkan aku? Mungkin kanuraganmu cukup tinggi untuk melawanku. Tapi urusan di depan mata saja engkau tidak tahu. Dan engkau masih menyebut dirimu pengampu Tembayat yang mumpuni?” Pancingan Suragati berhasil. Dinar mengerinyitkan kening.

“Wiku jadi-jadian. Aku tidak menganggap diriku pintar, namun setidaknya bukan orang pengecut seperti engkau. Melihat jatuhnya korban yang semuanya perwira pilihan, aku pastikan engkau bersekongkol dengan orang yang ingin kademangan Tembayat menjadi lemah. Sekarang katakanlah, siapa junjunganmu itu Suragati?”

Diam-diam datuk hitam ini terkejut. Anak muda ini lantip juga panggraitanya.

Hik hik hik. Engkau sakti; awas paningal; permana. Tahu segala rahasia semesta. Paham yang tergelar di jagat raya. Seharusnya engkau tidak perlu bertanya padaku, hik hik hik,” Ejek kakek itu yang merasa umpannya termakan oleh lawan mudanya ini.

“Setelah aku pikir-pikir, memberitahumu juga tidak masalah supaya engkau tidak mati penasaran. Aku paham, sebentar lagi engkau tewas di tanganku. Dan aku juga mengerti, jika roh penasaran tentu tidak nyaman. Baiklah kau dengar rahasia ini, dan jangan terkejut akan sesuatu yang tidak engkau sangka sama sekali,” Wiku Suragati tertawa-tawa dan sengaja mengulur-ulur waktu supaya rasa ingin tahu Dinar semakin menggebu.

“Jujur kuakui bahwa secara pribadi aku tidak ada persoalan dengan para perwira andalan kademangan Tembayat. Aku bekerja atas suruhan orang penting di kota raja, bukan sembarang pangeran, tapi calon pengganti Panembahan Senopati,” Wiku Suragati sengaja membual.

“Putra mahkota?” Dinar bertanya spontan.

“Kira-kira begitu. Beliau kelak akan memimpin Mataram menjadi kerajaan besar.”

“Wiku abal-abal. Engkau dusta. Mana mungkin Raden Mas Jolang sudi berteman dengan pendeta palsu sepertimu?” tidak sengaja Dinar membentak karena menganggap kakek uzur yang penampilannya degil ini sengaja berbohong.