Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 087

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 087Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
13 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

087

Pukulan tepat mengenai dada kerempeng yang hanya tulang dibungkus kulit kisut. Aji yang nggegirisi bertemu tulang iga. Namun anehnya ada semacam hawa dingin yang melindungi sehingga tulang itu tidak remuk. Wiku Suragati terpelanting ke dekat patung Batara Kala yang matanya memancarkan sinar biru kehijauan.

“Aduuhhh!” keluh Wiku Suragati. Tongkat hitamnya menuding Dinar. Tampak segumpal asap menyambar disertai bau apak kelelawar. Dinar sigap miringkan badan, tangannya kembali menampar dengan tenaga sepenuhnya.

Dyarrrrr!”

Asap tebal itu ambyar; membubung ke atas; menerobos atap barung-barung, dan lenyap. Tiga ekor kelelawar menyambar lagi dengan ganas. Dinar benar-benar gemas. Seekor kelelawar paling besar yang tadi berputar di atas kamar Latri berhasil ditangkap. Kedua tangan Dinar bagai capit baja mencengkeram sayap dan “krak, krak, krak” sepasang sayap itu hancur dicabik- cabik, kemudian tubuhnya dibanting ke lantai. Badan tidak bersayap itu terbanting, terpental, terbanting bergulingan, terpental seperti bola, lalu menggelinding ke pojok di samping arca Batara Kala, mengeluarkan suara merintih seperti orang sekarat.

Dinar memandang kagum. Kalong itu tidak mati. Barangkali memiliki kekebalan sangat luar biasa. Namun sudah tidak berdaya karena tidak mampu terbang. Dua ekor lawa menyambar, dan Dinar melakukan hal sama: merobek sayapnya, dan membanting tubuh mereka ke ubin. Dua kalong itu, bernasib seperti temannya yang besar; meringkuk di sudut pondok; tidak mampu menyerang; hanya mengeluarkan erangan-erangan memilukan. Dinar tidak memedulikan hewan-hewan itu lagi. Perhatiannya dicurahkan menghadapi Wiku Suragati.

Dinar membalikkan badan. Matanya celingukan mencari musuh yang mendadak hilang. Ternyata, Wiku Suragati timpuh memeluk kaki Batara Kala. Mulutnya bergeramang, membaca mantra yang Dinar sendiri tidak mengerti artinya. Sepasang mata rupang itu mengeluarkan sinar kebiru-biruan. Tanpa sadar Dinar memandang, dan inilah kesalahannya. Ia seperti kena gendam. Tubuhnya kaku tidak dapat digerakkan. Pandang matanya lekat ke mata Batara Kala. Pelan-pelan sang wiku berdiri. Mulutnya cekikikan seperti bukan suaranya sendiri. Tangan kiri mengangkat cundrik, sedangkan tangan kanannya menggenggam tongkat diangkat tinggi.

 “Dinar, bocah keparat, bersiaplah mati di tanganku, hik hik hik.”

Kedua kaki Dinar seperti tertanam di tanah. Kedua tangannya juga lumpuh. Ia berusaha memalingkan muka, tapi tidak mampu. Matanya perih sekali, amat penat, mengantuk dan tubuh terasa nyaman ringan seperti orang mabuk tuak.Di saat kritis itu Dinar teringat istrinya di rumah.

Latri! Ya, Latri, tentu celaka, kalau di sini ia tidak dapat secepatnya membebaskan diri dari sihir Batara Kala. Sang wiku berjalan makin dekat. Dinar mencium aroma amis menyengat. Ujung cundrik siap dihunjamkan ke dadanya. Dinar membayangkan wajah gurunya yang adem asrep, Begawan Sempani, yang memandangnya penuh kasih. Bagaikan sebuah bendungan yang jebol, terdengar mulutnya melengking yang sama sekali tidak menyerupai jeritan manusia, lebih mirip auman harimau murka.

Grrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!”

Luar biasa sekali pengaruh pekik ini, karena Dinar mengeluarkan ajian Gelap Ngampar. Akibatnya begitu dahsyat. Tiga kelelawar yang tadinya mencicit sekarat, langsung kaku: mati.