Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 088

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 088Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
14 September 2020 23:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

088

Wiku Suragati terpental dan kembali memeluk kaki patung Batara Kala. Ajian Gelap Ngampar yang merupakan andalan perguruan Begawan Sempani itu membuyarkan pengaruh mukjizat. Dinar mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya—kaki, tangan dan kepala—seperti sediakala. Ia mengerti betapa bahayanya mata arca Batara Kala. Sekarang Dinar lebih berhati-hati tidak berani lurus memandang.

“Pendeta palsu, dukun lepus, wiku jadi-jadian. Kerahkan semua kasektenmu. Inilah aku, Dinar Saka, tidak akan mundur setapak pun. Di sini, di pondokmu yang jorok ini, aku yang akan mengirimmu menyusul Suradipa, silakan kalian bercengkerama di neraka.”

Jemawakah murid Begawan Sempani yang sejak kecil dilatih tawaduk itu? Tidak! Dinar sesumbar bukan mengumbar kesombongan. Ini strategi dalam bertempur. Lemahkan dulu batin lawan; timbulkan perasaan bimbang dan ketakutan; maka lima puluh persen kemenangan sudah di tangan. Wiku Suragati sangat kecewa karena kemenangan di depan mata itu meleset. Ia sedikit banyak menjadi gentar. Gelap Ngampar hanya dapat dilakukan seseorang yang sudah mencapai tataran tinggi. Kebimbangan itu sirna ketika sang wiku ingat ampuhnya Batara Kala. Memang ia sangat memuja anak Batara Guru yang hobinya menyantap daging manusia itu.

Wiku Suragati menerjang dengan gerakan lamban, bahkan sekilas kelihatan asal-asalan. Yang mengejutkan, cundrik itu memancarkan sinar hijau kebiru-biruan persis mata arca Batara Kala. Dinar mundur beberapa langkah. Ia harus lebih waspada menghadapi pusaka yang penuh energi negatif.

“Dinar, hik hik hik, engkau mau melarikan diri? Engkau takut menghadapi pusakaku ini? Sebentar lagi engkau mati di ujung cundrikku,” Wiku Suragati menduga lawannya jeri terhadap pusakanya. “Cundrik ini yang menghabisi nyawa Pranacitra; para perwira dan lurah Branjangan. Sekarang pusakaku akan membunuhmu, juga istrimu di kademangan.”

Dinar tidak menjawab. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia siaga menanti terjangan lawannya. Cundrik berbahaya itu harus dirampas. Dinar memasang kuda-kuda kokoh; kedua tumit sedikit diangkat; lengan kiri menyilang di depan dada; tangan kanan diangkat tinggi di atas kepala. Ia menerapkan Bayu Bajra yang membuat tubuhnya seringan burung. Serangan datang berturut-turut. Cundrik menusuk dada dan hantaman tongkat hitam mengarah kepala. Semuanya serangan mematikan.

Wessssssss!”

Wiku Suragati gelagapan. Lawannya lenyap. Ia cepat membalik sesuai nalurinya. Dinar berada di belakangnya. Dengan menggereng keras Wiku Suragati menyerang bertubi-tubi tanpa sedikit pun memberi kesempatan lawannya menghindar.

Kakek itu paham bahwa dalam soal ketangkasan; tenaga dalam; dan meringankan tubuh, ia kalah segalanya. Yang menjadi andalannya adalah Batara Kala serta ilmu hitamnya.

Dinar meloncat berputaran, gerakannya cepat sekali, namun diam-diam mengeluh karena aura cundrik itu seakan-akan menghalangi gerakannya menjadi canggung. Ketika entah kesekian kali tongkat butut menghantam kepala, Dinar miringkan tubuh membiarkan toya lewat di dekat pundak, kemudian secepat kilat tangan kanannya menangkap pergelangan tangan kiri lawan yang memegang cundrik. Dengan pengerahan tenaga dalam, jari-jari tangan Dinar mencengkeram.