Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 089

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 089Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
15 September 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

089

Bukan main dahsyatnya cengkeraman Dinar, yang melatih diri bertahun-tahun di padepokan Begawan Sempani. Jari tangannya mampu meremas hancur batu karang. Kini sekali menangkap pergelangan tangan Wiku Suragati seperti lekat. Sang wiku memekik kesakitan, merintih-rintih, dan berusaha melepaskan cengkeraman. Sia-sia. Dengan marah tongkat hitamnya ganas memukul kepala Dinar yang tetap tidak mau melepaskan cengkeram, bahkan menambah tenaga, sambil memiringkan bahunya. Ia sudah memperhitungkan cermat segala akibat.

Krekkkk! Dessss!”

Pergelangan tangan Wiku Suragati hancur mumur tulangnya. Cundrik berhasil dirampas oleh Dinar. Tapi pukulan tongkat butut itu meski melenceng tetap mengenai pundaknya. Dinar terpental menabrak reca Batara Kala. Sejenak ia nanap. Bahunya seperti remuk.  Lengan kirinya sementara lumpuh. Dinar terengah-engah bersandar kepada rupang dengan wajah pucat.

“Tanganku, aduuuhhh, tanganku, bedebah laknat aku cincang engkau bocah edan,” Wiku Suragati menyumpah-serapah.Tersaruk-saruk ia melangkah maju sambil mengayunkan tongkat.

Dinar menyadari datangnya bahaya. Ia berusaha berkelit, namun tubuhnya kaku; lumpuh. Punggungnya menempel patung Batara Kala seperti melekat seolah ada kekuatan mukjizat yang memeganginya. Tongkat mengayun deras mengarah kepalanya. Dinar berusaha memberontak, ia dapat sedikit bergerak miring, namun pundaknya terus menempel pada reca. Lengan kanannya yang memegang cundrik menangkis toya sambil menghimpun hawa sakti.

Dukkk!”

Wiku Suragati terhuyung-huyung ke belakang. Lengan kiri yang sudah hancur tulangnya itu terkulai lumpuh. Matanya merah dengan bola berputar-putar liar. Mulutnya berbusa di kanan kiri. Hidungnya yang panjang melengkung mendengus. Kemudian ia mengerahkan seluruh daya, pelan-pelan mengangkat tongkat ke atas, tidak tergesa-gesa karena tahu musuhnya sudah tidak mampu melepaskan diri dari Batara Kala, ibarat lalat terjaring di sarang laba-laba.

Wiku Suragati tidak ingin mengulang kesalahan. Ia harus tenang. Pukulan tongkatnya tidak boleh melenceng agar sekali hantam lawan terbinasakan.

Dinar memandang tabah. Ia paham nyawanya dalam bahaya. Pundaknya masih lengket di reca Batara Kala. Tiba-tiba ia teringat pesan gurunya, Begawan Sempani, bahwa pusat kekuatan ada pada patung Batara Kala. Jika rupang itu hancur, praktis kesaktian pemujanya ikut punah. 

Arca Batara Kala seperti “bernapas” dan Dinar merasakan denyutnya. Ia melirik ke atas. Sinar hijau kebiru-biruan yang memancar dari sepasang mata arca itu semakin bercahaya seakan mengeluarkan api. Cundrik di tangannya juga kian gemerlap. Dinar mengerahkan kekuatan batin dilambari sikap pasrah kepada gusti kang murbeng dumadi. Bibirnya berkemik mendaras mantra Dadap Asrep sebagaimana diajarkan gurunya untuk melawan kekuatan hitam. Kemudian secepat tatit, cundrik ditusukkan ke mata kanan dan kiri arca Batara Kala.

Cesss! Cesss!”

Terdengar suara seperti bara disiram air. Tampak asap putih bergulung-gulung keluar dari sepasang mata Batara Kala. Seketika sinar hijau lenyap. Waktu itu tongkat hitam Wiku Suragati yang sudah melayang menuju kepalanya, tiba-tiba terhenti di udara.